Bab 63

40 1 0
                                        

63. HALAMAN BARU?!!

Satu bulan berlalu.

Davendra menatap kosong pintu kaca di depan nya. Diatas pintu itu ada keterangan mengenai ruangan itu.

"Ruang Guru"

Davendra amat takut sekarang. Berita yang di dengar nya kali ini benar-benar mengguncang batin nya. Dia takut bertanya langsung, takut jika lagi-lagi berita ini di claim benar oleh pihak sekolah.

Ceklek.

"Eh ada Vendra? Ada keperluan apa? Kenapa ga masuk?" Tanya seorang guru wanita yang baru membuka pintu ruang guru, hendak keluar dari ruangan itu.

"Eh? Ahー .. engga bu, Vendra salah ruangan." Balas nya hendak pergi meninggalkan ruang guru. Ternyata dia belum se-siap itu jika nantinya pihak sekolah berkata itu benar.

".. soal Mikha ya, Davendra?"

Seakan sudah tahu apa isi benak Davendra, guru itu langsung bertanya walau tubuh tegap itu sudah berbalik dan melangkah beberapa langkah berlawanan arah dengan nya.

Davendra berbalik menatap lama guru itu, tidak tahu harus menjawab apa. Dia sebenarnya sangat ingin tahu, hanya tidak mau jika jawaban nya tidak sesuai dengan apa yang ingin dia dengar.

"Mikha beneran sudah tidak bersekolah disini lagi." Ujar guru itu membuat Davendra mematung di tempat nya. Jujur saja dia sangat amat kecewa dengan kalimat itu.

Tanpa mengucapkan sepatah kata kalimat terima kasih, Davendra langsung berbalik meninggalkan guru itu entah menuju kemana.

Davendra sangat gusar. Dia tidak ingin lanjut belajar. Dia benci, dia benci dirinya sendiri. Semuanya .. karena dirinya. Iyakan? Jika saja dia bisa tetap berada disisi Mikha, Mikha tidak akan pergi meninggalkan nya kan?

Kenapa disaat Mikha bisa selalu ada buat nya, dia tidak bisa?

Brakk!

Dengan kasar dia membuka pintu rooftop, memilih bolos hingga jam pulang. Susah untuk boleh keluar sekolah sebelum waktunya pulang jika tanpa deking. Siapa deking nya sekarang? Karena sepertinya Delvon sekarang tidak menyukai nya. Dia juga baru tahu kalau Delvon tidak hanya sekedar tertarik pada Mikha. Tetapi memiliki rasa yang lebih dari itu untuk Mikha.

Setelah kepergian Mikha, Delvon tidak lagi berbicara dengan nya. Jangankan berbicara, kalau dia gabung ke teman-teman nya saja, Delvon lebih memilih pergi daripada harus berada di tempat yang sama dengan nya.

"..gue ga tau bersyukur banget ya Mik? Sok banget gue ninggalin lo." Gumam nya dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Sesekali Davendra mengusap sudut mata nya yang sudah berair.

"Tapi ini semua demi mama Mik .. gue tau gue salah .. tapi lo janji kan bakal dukung gue? Kenapa lo ninggalin gue .." Suara Davendra terdengar bergetar mengucapkan beberapa kalimat itu.

Entah sampai kapan Davendra harus seperti ini. Tetapi sedetik pun dia tidak pernah bisa melupakan Mikha. Rasanya dia akan gila tanpa Mikha.

'Kalo ga sama lo, gue ga akan pernah mau sama siapa pun Mik.'

****

Dua bulan kemudian.

"Baiklah kalau tidak ada yang ingin ditanya, pembelajaran kita cukup sampai disini saja hari ini."

Tampak wanita paruh baya yang baru mengajar itu langsung keluar dari ruangan itu. Begitu juga murid-murid yang baru saja diajar nya bersorak senang karena dapat pulang lebih awal dini hari.

Rumit.Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang