64. Tidak ada yang cantik (Hanya Mikha).
"Gerald udah mau gila, Mik. Bukan nya gue suka lo sama-sama dia, cuman .. setelah gue pikir-pikir, kek nya gue juga ngerti posisi dia saat itu. Lo pasti lebih ngerti dari gue kan?"
"Mikha!"
Mikha yang tadinya melamun jadi tersentak karena suara Nezar yang kuat. "Yaelah, pelan dikit kalo manggil napa!" Cibir Mikha tak terima.
"Gue udah manggil lo daritadi. Lo pikirin apa sih?" Tanya Nezar yang memang sudah siap makan daritadi. Hanya saja menunggu Mikha yang kebiasaan makan nya tidak pernah cepat.
"Ga ada .. cuman pelajaran aja." Alibi Mikha, berbohong.
"Delvon dateng ya?" Tanya Nezar kembali, tepat sasaran. Bukannya merasa bersalah karena ketahuan bohong, Mikha malah tersenyum mendengar nya.
"Lo emang selalu tau isi pikiran gue ya?" mirip Gerald. Lanjutnya dalam hati.
Sikap Nezar yang seperti ini juga salah satu alasan Mikha menjadi nyaman dengan lelaki itu. Alih-alih merasa terganggu, Mikha malah merasa tidak ada yang harus dia tutupi, dia pendam sendiri, atau dia takuti sendiri. Nezar tahu semua nya, dan lelaki itu selalu bersikap seakan bisa melindungi nya, sehingga Mikha juga menjadi percaya pada lelaki itu. Begitupun dengan Archela dan Singgih .. mungkin?
Dan ya, Delvon Galanger satu-satunya lelaki yang mengetahui keberadaan Mikha. Itu dikarenakan diri nya yang adalah anak dari pemilik sekolah itu. Walau begitu, bukan berarti Delvon dapat tahu dari orang dalam.
Namun dia menggunakan cara ilegal. Dia seperti mencuri data yang akhirnya ketahuan juga oleh pihak sekolah. Namun karena Delvon adalah anak pemilik sekolah, berita itu tidak tersebar dan Delvon di marahi oleh papa nya habis-habisan.
Delvon yang nakal tentu saja tidak peduli. Yang penting dia sudah tahu Mikha pindah kemana. Dan setelah nya, ia langsung keluar kota untuk melihat keadaan Mikha. Seterusnya juga seperti itu, Delvon sering berkunjung untuk Mikha dengan syarat tidak boleh ada yang tahu akan keberadaan Mikha.
Salah satu alasan Delvon tidak lagi dekat dengan Davendra maupun circle nya adalah untuk tidak mengundang kecurigaan siapapun terhadap dirinya yang sering keluar kota.
"Gue jadi semakin penasaran gimana sih si Gerald Gerald itu? Kayaknya udah nyita perhatian lo banget." Gumam Nezar yang tampak sedikit tidak suka pada nada nya.
"Kenapa sih? Sensi amay sama Gerald." Balas Mikha dengan senyum kecil.
"Sedikit ngeganggu gue sih." Gumam Nezar kembali sambil menatap Mikha dengan senyum manis nya. Melihat itu Mikha langsung memalingkan wajah nya. Arrghhh! Nezar sangat tampan saat tersenyum!
"Zar .. Zar! Gue cantik ga?"
Nezar terkekeh kecil mendengar itu. Mikha terlihat pickme, tetapi anehnya Nezar merasa apa pun yang dilakukan Mikha itu cocok untuk diri gadis itu sendiri. Terlihat manis dimata nya.
Mikha yang melihat ketampanan Nezar semakin bertambah saat tertawa, jadi ikut tertawa menutupi salting nya.
"Lo selalu canー"
"Nezar diem atau gue timpuk!" Potong Mikha dengan cepat. Tidak ingin salting lebih lagi jika harus mendengar suara tampan itu mengatakan kelanjutan dari kalimat Nezar.
Nezar? Lelaki itu semakin tertawa keras karena terlalu peka terhadap reaksi orang. Dia tentu tahu jika gadis di depan nya itu salting. Dan dia menyukai itu.
Nezar bangkit dari tempat duduk nya.
"Gue bayar dulu. Lo mau nunggu disini apa diluar?"
"Disini aja."
Sesudahnya, Nezar mengusap lembut rambut surai Mikha lalu berlalu menuju kasir. Meninggalkan Mikha yang mematung di tempat nya karena salting. Dalam hati dia tertawa keras melihat reaksi lucu Mikha.
"Nezar amjink! Arrgh bisa gila!" Gumam Mikha tak terima. Kenapa juga hati nya harus selemah ini jika soal Nezar?! Shibal !!
****
Motor besar Nezar akhirnya sampai ke depan pagar rumah Mikha tepat jam 19.04. Mikha dengan bantuan Nezar, turun pelan-pelan dari motor milik Nezar.
"Gue ga ngapel dulu ntar malem ya?" Ujar Nezar seakan meminta izin pada Mikha. Dengan elusan lembut di rambut Mikha, guna membujuk gadis itu.
"Lo mau sama cewe mana emang?" Balas Mikha biasa saja. Padahal Nezar tahu jika gadis itu memendam rasa kesal.
"Itu ada tetangga baru gue. Mau godain dikit."
Bugh.
"Nezar .. !" Teriak Mikha yang kepalang kesal. Padahal yang dipukul Nezar. Tetapi lelaki itu malah tertawa melihat reaksi Mikha yang seperti itu.
"Mau ngumpul bareng teman aja loh cantik .. ga ada yang cantik disana." Ujar Nezar akhirnya memberitahukan yang sebenarnya.
"Bohong banget! Ga mungkin ga ada cewe disana!"
"Ga ada yang bilang ga ada cewe disana, aku kan bilang ga ada yang cantik."
Mikha menggerutu kesal. Masih tak puas dengan alasan-alasan Nezar. "Jadi kalo ada yang cantik, lo mau?"
"Ya engga .. ya kali gue mau lo diliat-liat temen gue. Ntar kalo mereka suka, gue yang sibuk sendiri." Balas Nezar menatap dalam Mikha. Tatapan yang sangat Mikha sukai. Seperti tatapan Gerald dulu kepadanya.
"Gausah gitu. Modus." Mikha mengusap sekilas wajah Nezar, membuat lelaki itu sedikit mundur dan menjadi mengalihkan tatapan nya.
"Cuman lo kok. Gausah khawatir, gue nanti nyari kalo si cantik ini udah dapet cowok bener." Ujar Nezar yang menyelipkan anak rambut Mikha di belakang telinga gadis itu.
Tentu Nezar cukup sadar akan perbedaan jauh diantara kedua nya. Agama.
Walau Nezar sangat serius pada Mikha, Nezar tidak buta mata sampai harus meninggalkan agama nya. Dia punya orang tua, dan juga saudara yang baik. Juga, dari awal dia mendekati Mikha, Mikha menjadi orang pertama yang menolak pendekatan nya mentah-mentah.
Setelah berupaya dengan banyak hal, akhirnya Mikha membuat nya sadar akan perbedaan keduanya. Akhirnya Nezar dan Mikha berjanji hanya berhubungan sebatas teman, tidak lebih. Tidak akan melewati batas antara keduanya. Karena .. Mikha milik Tuhan nya .. begitupun dirinya.
"Lo tau gue ga bakal berhubungan sama siapa pun Nezar .."
"Kalo gitu gue juga sama. Gue kan nunggu lo?"
Mikha menghela nafas pelan, tak mampu menatap lebih lama tatapan lembut itu. Andai saja .. Andai saja Nezar bukan cowok yang beda agama dengan nya .. ?
"Lihat gue, gue cuman mau ngelindungi lo sampe lo bahagia. Anggap gue tameng lo ya? Gue cuman ga mau cowo brengsek bolak-balik datang ke hidup lo. Gue janji, gue janji ga bakal jadi penghalang kalo memang cowo itu baik. Boleh ya?" Lagi, suara lembut itu lagi-lagi berhasil meluluhkan pertahanan Mikha.
"Gue masuk duluan. Lo hati-hati bawa motor." Setelah nya Mikha masuk begitu saja. Hati nya sakit, suara lembut, tatapan tulus, wajah tampan itu yang terlihat memohon. Mikha benci.
Bukan karena Nezar. Tetapi karena dirinya yang tak mampu membuat batas tegas diantara keduanya. Selalu lemah akan karakter Nezar, menciptakan duri diantara kedua nya.
Sudah tahu mustahil. Tetap saja memberi ruang.
Disatu sisi, bukannya langsung pulang ke rumah, Nezar singgah ke apartement milik nya untuk berganti pakaian, lalu pergi ke club yang letak nya lumayan jauh dari apartment milik nya.
Bunyi berisik, lampu yang gemerlapan, serta bau alkohol menyeruak ketika dia masuk ke dalam club itu. Namun Nezar tampak tidak terusik dengan itu semua, seperti sudah terbiasa.
Hanya saja, kali ini tujuan nya bukan untuk minum. Tetapi mencari lelaki ... yang selalu berhasil membuat perhatian Mikha teralihkan dari nya.
****
Menurut kalian Nezar baik atau gimana?
Sayang banget Nezar sama Mikha beda agama ya?
.
.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rumit.
Teen FictionMemang benar cinta banyak tantangan. Tapi bukan berarti kita ga mampu?! Gerald dan Mikha hanya 2 remaja labil yang saling terjebak dengan banyak nya kondisi dan perasaan yang silih berganti. Spoiler : "A*jing" umpat Gerald. Davendra Gerald Alaskar...
