Bab 66

7 0 0
                                        

66.

"Langsung to the point aja, anda mau ngomong apa sama saya?"

Jessinta lagi-lagi menghela nafas pelan, dia sama sekali tidak memiliki kesempatan ya? Dia juga ingin memperbaiki kesalahan nya.

".. Em .. mama .. mau meminta maaf, mama tau .. emm .. mama telat banget," Jessinta tampak sangat gugup mengucapkan rentetan kalimat yang sama sekali belum disiapkan nya. Ia pikir kalimat nya akan meluncur mulus begitu saja, ternyata setelah berada di depan Genta, dia malah tidak mampu berkata-kata.

Seakan menyadari keterlambatan nya.

"Saya mengerti apa yang ingin anda sampaikan." Genta memotong kalimat Jessinta yang tampak kesusahan berkata-kata. Jessinta yang mendengar itu kembali menatap Genta was-was.

Namun menit berikut nya ia terkejut melihat pandangan dingin itu melembut. Apa dia salah lihat?? Genta .. menatap nya lembut?? Anak bungsu nya itu??

Sebelum kembali berbicara, Genta lebih dulu menghembuskan nafas lelah. ".. tidak perlu minta maaf. Ini bukan salah anda,"

"Saya .. bisa mengerti keadaan anda. Saya juga mengerti bagaimana harus bertahan disaat kondisi anda sedang depresi parah .. karena saya juga mengalami itu."

Jessinta merasa tenggorokan nya tercekat mendengar kalimat terakhir Genta. Memang raut Genta sama sekali tidak menyalahkan nya, seperti berkata tulus. Namun .. mendengar Genta juga pernah mengalami nya, membuat hati Jessinta terenyuh.

Bagaimana bisa .. Genta menghadapi semuanya itu seorang diri?

"Genta .. mama nyesal sekali karena menjadi salah satu faktor depresi kamu waktu itu, mamaー .. mama ingin memperbaiki semuanya." Tanpa bisa dicegah, suara Jessinta terdengar bergetar di kalimat terakhir nya.

Bukannya turut senang mendengar nya, pandangan Genta malah menjadi dingin. Kemudian dia tiba-tiba terkekeh pelan. Tidak sinis.

"Ah .. sepertinya ada kesalahpahaman. Biar saya luruskan, saya memang tidak mempermasalahkan kejadian yang sudah lewat, saya juga bilang akan memaklumi posisi anda, tetapi bukan berarti saya ingin melakukan pendekatan dengan siapa pun."

"Begini .. saya tidak bisa merangkai kata-kata yang baik, jadi kalo sekiranya kalimat saya menyinggung perasaan anda, saya mohon maaf. Yang sebenarnya saya ingin katakan adalah, saya tidak membutuhkan apapun dari anda."

"Begitu juga dengan papa. Saya memilih untuk tinggal bersama dia hanya agar tidak membebani keadaan finansial anda, dan juga jika bersama papa, pasti tidak akan menyulitkan keseharian saya. Dia sibuk dengan urusan nya, begitu juga saya." Genta terdiam sejenak.

Genta rasa apa yang dikatakan nya sudah cukup jelas, namun melihat tidak ada respon apapun dari Jessinta, membuat nya akhirnya memilih menjelaskan lebih rinci. Situasi ini menyebalkan bagi nya.

"Jika yang anda maksud adalah kasih sayang, tidak ada yang perlu diperbaiki dengan itu. Saya bukan anak-anak yang haus kasih sayang lagi, masa-masa seperti itu sudah bukan lagi masanya saya."

"Seperti yang sudah saya katakan, itu bukan salah anda. Karena berkat anda juga, saya merasa nyaman dengan mengandalkan diri saya sendiri. Jadi saya juga mau untuk berbicara sekarang karena ingin menyampaikan bahwa, lain hari jika bertemu dengan saya .. tidak perlu basa-basi, itu suatu hal yang saya tidak sukai. Membuat saya tidak nyaman."

"Tidak perlu repot-repot, karena saya juga tidak merasa aneh jika kita bersikap seperti biasanya. Mungkin ini terdengar tidak tahu diri, tetapi saya rasa saya harus mengatakan ini. Terlepas dari semua ini tentunya saya berterima kasih kepada anda karena sudah melahirkan saya, walau saya tidak pernah benar-benar menikmati hidup ini."

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jan 24 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Rumit.Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang