"Kamu gapapa kan?"
"M-mommy?"
"Huh?"
"Mommy cudah pulang..." Lirih anak kecil yang lebih sering di sapa Lele. Anak tersebut memandang Haesa dengan tatapan sedih, senang, dan haru, akhirnya setelah hampir setahun di tinggal oleh Mommy nya, ia kembali di pertemukan lagi dengan sang ibu.
"Mommy... Lele tangen banget cama Mommy hiks..." Ucapnya yang kini mulai menangis sambil menguraikan pelukan erat kepada Haesa. Ia menyembunyikan wajahnya di ceruk leher si manis, dan menghirup aroma tubuh itu sangat dalam.
Haesa yang di hadapkan dengan situasi seperti ini, hanya bisa terdiam seribu bahasa, mencerna kejadian tersebut dengan perlahan. Ia tidak tau harus berbuat apa sekarang. Sampai saat ia mendengar derap kaki yang sepertinya lebih dari satu orang menuju kearahnya.
"Lele, sedang dengan siapa sayang?" Tanya seorang wanita dari arah belakangnya.
Ketika haesa akan membalikkan badan nya, ia urung saat melihat seorang pria berdiri mematung dari ujung tangga. Mata mereka bersitatap sangat lama, hingga seorang wanita yang tadi bersuara di belakangnya, kini sudah berada di sampingnya.
Haesa ingin berdiri menyampaikan tujuannya untuk menghantarkan titipan Maminya kepada wanita di samping nya, namun terhalang oleh pelukan Alester. Ia menatap wanita tersebut dengan perasaan yang tidak enak.
"Maaf Nyonya, Tuan ini yang sedang mencari Nyonya." Ucap wanita lainnya yang mengantarkan diri nya kedalam kediaman teman Maminya.
Wanita yang di sebut Nyonya segera sadar dari lamunannya dan segera tersenyum kearah Haesa. Melihat cucunya yang tidak mau melepaskan pelukannnya, ia segera berjongkok dan mempersilahkan Haesa untuk duduk di sofa terlebih dahulu.
"Duduk di sofa dulu yuk," ucap wanita itu kepada Haesa. Kemudian ia beralih ke cucunya, mengelus kepala itu dengan lembut memberikan pengertian. "Lele, sayang, di lepasin dulu ya, biarin kakak ini buat duduk dulu. Kasian nanti kakaknya capek jongkok terus."
Alester tidak mau mendengar, ia menggelengkan kepalanya dan semakin memeluk erat Haesa.
"Tidak masalah, biar saya gendong saja." Ucap Haesa, dan langsung saja menggendong Alester menuju sofa mengikuti tuan rumah, kemudian memangkunya.
Wanita yang ada di depannya menatap Haesa dengan raut bingung sekaligus bertanya-tanya. Haesa yang mengerti tatapan tersebut, ia kemudian mengambil paper bag yang sempat ia tinggalkan di sofa tempat ia duduk tadi.
"Saya Haesa tante, anaknya Mami Jane- ahh Zendaya maksud saya"
"Ahh.. kamu toh, anaknya Jane. Ya, ya, saya sering sekali mendengar Jane menyebut namamu."
"Iya.. saya mau nganterin ini, titipannya Mami." Ucap Haesa menyodorkan paper bag itu dengan sedikit canggung.
Mona, wanita yang duduk di depannya itu segera mengambil paper bag tersebut kemudian mengucapkan terimakasih. Langsung saja Mona menyimpan paper bag tersebut tanpa melihatnya, dan kemudian menatap wajah Haesa dengan serius, menelisik wajah Haesa tanpa celah sedikit pun.
Keadaan semakin canggung, Haesa yang tidak tahan akan situasi ini segera bangkit dari duduknya. "Maaf tante, saya izin pamit dulu. Mami saya menyuruh saya untuk segera pulang."
"Yasudah.. Lele, sini yuk sama Oma. Kakaknya mau pulang ke rumahnya." Ucap Mona lembut, mencoba membujuk kembali cucu nya itu.
"Oma, ini Mommy Lele, butan kakak. Emang Mommy mau pulang temana? Kan lumah Mommy baleng cama Lele." Tanya Alester memandang Oma nya dengan polos.
"Engga sayang, ini bukan Mommy nya Lele."
"ENGGAK! INI MOMMY NYA LELE!" Teriak Alester kepada Oma nya, kemudian kembali menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Haesa.
"Alester. Daddy gak pernah ajarin kamu teriak-teriak dan membantah orang tua." Peringat seorang pria yang menyebut dirinya Daddy. Pria itu sedang menuruni tangga, berjalan menghampiri mereka.
"Daddy! Liyat, Mommy cudah pulang." Ucap Alester girang, tanpa mengindahkan peringatan Daddy nya itu.
Benjamin, Ayah dari anak yang sedang di gendong Haesa itu menghela nafas pelan. Mata cokelat muda milik pria manis itu kembali bersitatap dengan mata hitam kelam milik pria dominan yang semula berada di sebelah ibu nya, Mona, kini melangkah mendekati Haesa dan Alester.
"Maafkan anak saya, Alester biar saya yang gendong, kamu bisa pulang." Ucap Benjamin sembari mengambil alih Alester dari gendongan Haesa.
Alester yang di jauhkan dari Haesa, langsung saja berontak di pelukan Ayahnya. Ia menangis histeris ketika melihat Haesa menjauh.
"MOMMY!!! DADDY LEPACIN LELE! LELE MAU MOMMY! MOMMY! JANGAN TINGGALIN LELE, HIKS! MOMMY!!" Alester terus saja meneriaki Haesa hingga Haesa tidak terlihat lagi.
Di balik pintu besar yang tidak tertutup sepenuhnya, Haesa memegang dadanya. Ia tidak tega melihat anak kecil menangis histeris seperti itu. Disisi lain ia di buat bertanya, kemana ibu anak itu? Mengapa anak kecil itu terus saja memanggilnya Mommy? Hingga saat ini pun, ia masih saja mendengar teriakan histeris anak itu. Tanpa disadari, setetes air mata mengalir begitu saja di pipi mulus nya. Sungguh ia tidak tega mendengar tangisan itu.
Merenung beberapa menit, Haesa menghapus air matanya kemudian melihat jam tangannya. Ia terkejut ketika melihat jam menunjukkan pukul 18.14. Ia melihat langit yang sudah gelap dan sedikit kilatan diatas sana. Sepertinya hujan akan segera turun. Ia harus segera pulang, kalau tidak Maminya pasti akan mengomelinya.
Baru selangkah Haesa berjalan, hujan seketika turun begitu saja, disusul dengan terbukanya pintu besar kediaman Damarjaya dengan sangat lebar.
"MOMMY!!!"
Haesa seketika berbalik saat mendengar teriakan itu. Ketika melihat Alester yang akan berlari kearahnya, ia segera mendekat. Tidak ingin anak itu basah dengan air hujan.
Di belakangnya sudah ada Benjamin, menatap khawatir kearah Alester. Juga di susul oleh Mona. Mereka mengira bahwasanya Haesa sudah pulang, jadi saat Alester pergi keluar Haesa sudah tidak ada lagi. Namun nyatanya, Haesa masih berada diluar kediaman Damarjaya.
"Mommy... jangan pelgii, hiks!" Ucap Alester sembari memeluk kaki Haesa.
"Loh, udah hujan ternyata." Gumam Mona, yang masih didengar oleh Benjamin.
"Kamu disini dulu aja gapapa? Sambil nungguin hujan reda." Tanya Mona hati-hati kepada Haesa.
Saat Haesa akan membalasnya, Mona kembali bersuara. "Nanti saya izin ke Mami kamu, ya." Ucap Mona, yang entah Haesa menangkapnya seperti hal yang mutlak, tidak bisa di bantah.
"Mommy..." Kembali terdengar lirihan anak kecil yang masih saja memeluk kakinya.
Haesa menunduk melihat anak itu, terlihat memelas meminta ia untuk tidak pergi darinya. Berpikir sebentar, kemudian tersenyum kearah anak itu.
"Iyaa, gak pergi, aku disini."
Mendengar itu, Alester tersenyum lebar meskipun masih saja sesegukan. Ia mengangkat kedua tangannya, meminta Haesa memeluknya.
"Maaf ya, aku gabisa peluk kamu. Baju ku basah, nanti kamu sakit kalau peluk aku." Ucap Haesa, membuat bibir Alester melengkung kebawah dan menundukkan kepalanya.
"Masuk dulu yuk, nanti kamu kedinginan kalau kelamaan diluar." Ajak Mona kepada Haesa.
"Bibi, buatkan teh hanget ya sama cemilan." Pinta Mona kepada maid yang berpapasan dengannya.
Setelah mengatakan itu, ia menuju ke kamarnya, untuk mengambil handuk baru untuk Haesa. Kemudian kembali lagi ke ruang tamu dan memberikan handuk tersebut kepada Haesa.
"Antarkan Haesa ke kamarnya Lele, biarkan Haesa mandi terlebih dahulu. Lalu berikan pakaian mu yang baru." Pinta Mona kembali kepada Benjamin.
"Kamu gapapa kan, pakai bajunya Benjamin dulu?" Tanya Mona beralih kepada Haesa, yang di jawab anggukan canggung oleh Haesa.
"Mommy, ayok ke kamalnya Lele." Ajak Alester, ia segera membawa pria manis itu untuk masuk ke kamarnya disusul oleh Benjamin dari belakang.
ㅤㅤ
***
ㅤㅤ
Kkeut!
See you in the next chapter✨️
KAMU SEDANG MEMBACA
Perfect Strangers(?) | NAHYUCK
Romance⚠️ BxB ; 21+ ; Harsh word ; Mpreg ; Misgendering ; Little bit ANGST ; Alur lambat ⚠️ "Stranger? Bukankah itu yang sering kamu katakan kepadaku? Kamu selalu menekankan bahwa kita hanyalah orang asing." - Haesa Elkairos "To hell with strangers. Biarka...
