Hari berganti hari, kini Alester sudah mulai membaik. Tiga hari berada di rumah sakit membuat Alester rewel ingin cepat pulang ke rumahnya. Begitupun dengan Haesa. Ia ingin segera pulang kerumahnya karena besok ia sudah mulai masuk kuliah lagi.
Di dalam ruang rawat tersebut, kini terdapat 2 pasang suami isteri. Kedua pasutri tersebut ialah orang tuanya Benjamin dan orang tuanya Haesa. Selain itu juga, terdapat Rhea, Benjamin, Haesa, dan tentu saja Alester sang pasien. Kedua pasang suami isteri itu sedang berbincang ringan, lalu ada Benjamin yang sedang menyiapkan makan siang untuk anaknya, dan Rhea yang sedang berbisik kepada sahabatnya.
"Eca, itu beneran bukan anak kamu kan?" Bisik Rhea. Pertanyaan tersebut terus saja dilontarkan oleh Rhea karena masih kurang pecaya dengan apa yang dilihatnya.
Haesa yang bosan dengan pertanyaan berulang, hanya bisa merotasikan bola matanya malas. Ia sudah capek menanggapi pertannya tersebut.
Tidak mendapatkan jawaban lagi, Rhea pun melanjutkan. "Sumpah Ca, kalau di liat lebih teliti lagi, anak itu mirip banget sama kamu."
"Anjritlah, perasaan waktu itu gue cuman berandai-andai, malah jadi kenyataan." Guman Rhea, namun masih bisa di dengar oleh Haesa.
"Rhea, jangan ngomong kasar.." Tegur Haesa.
Yang di tegur hanya menampilkan cengirannya. "Ya lagian, siapa sangka-"
Tok! Tok!
Ucapan Rhea terpotong dengan ketukan pintu ruang tersebut, dan masuklah seorang dokter dan beberapa perawat setelah di persilahkan untuk masuk.
Dokter kemudian memeriksa keadaan Alester dan sedikit berdiskusi dengan perawat yang ada di belakangnya.
"Kondisi pasien sudah membaik, ia sudah bisa pulang hari ini juga setelah infusnya sudah habis."
Mendengar pernyataan tersebut, semua yang berada dalam ruangan tersebut tersenyum, terutama Alester yang sekarang sudah bersorak gembira.
Setelah mengatakan kabar tersebut, dokter dan perawat meninggalkan ruangan Alester.
Zendayya mendekati Haesa lalu mengusap kepalanya dengan lembut. Ibu dan anak tersebut saling melemparkan senyum manis mereka.
"Pulang dulu yuk, sayang. Besok kamu udah masuk kuliah lagi loh." Ucapnya lembut kepada anaknya.
"Mommy mau temana?" Alester yang tadinya bersorak ria, kini menampilkan wajah yang murung saat mendengar perkataan tersebut.
"Begini sayang... Kakak ini harus sekolah, karena besok sudah hari senin, jadi kakaknya harus masuk untuk belajar." Jelas Zendayya secara perlahan sembari merangkul Haesa dengan lembut, dan berharap anak kecil di depannya mengerti apa yang di sampaikan.
"Mommy!" Elak Alester saat mendengar Haesa disebut Kakak.
"Ah, I-iya, Mommy..." Gumam Zendayya.
Ia sudah mengetahui dari sahabatnya, Mona, bahwasanya anaknya di panggil Mommy oleh cucu sahabatnya. Awalnya ia tidak percaya, namun saat mendengarnya langsung, ia di kagetkan dengan panggilan tersebut. Cucu sahabatnya selalu memotong, membantah ataupun mengelak saat anaknya disebut kakak untuk anak kecil itu. Saat ia mencoba untuk memberikan pemahaman bahwa anaknya bukanlah Mommy anak itu, ia akan menampilkan matanya yang berkaca-kaca.
"Lele ikut, Lele mau ikut Mommy cekolah."
"Belum bisa sayang, Lele harus cukup umur dulu untuk pergi ke sekolah." Jelas Zendayya
"Ndak mau, mau ikut Mommy..."
"Nanti ya, aku bakalan sering nyamperin kamu. Atau kalau kamu mau, kamu bisa mampir ke rumah ku." Jelas Haesa dengan lembut.
KAMU SEDANG MEMBACA
Perfect Strangers(?) | NAHYUCK
Romansa⚠️ BxB ; 21+ ; Harsh word ; Mpreg ; Misgendering ; Little bit ANGST ; Alur lambat ⚠️ "Stranger? Bukankah itu yang sering kamu katakan kepadaku? Kamu selalu menekankan bahwa kita hanyalah orang asing." - Haesa Elkairos "To hell with strangers. Biarka...
