Chapter 3

34 4 0
                                        


Vino meringis kesakitan menatap tulang pundak yang bergeser dengan darah yang terus-menerus mengalir akibat benda lancip, dirinya saat ini menjadi sasaran pembulian oleh komplotan tawanan yang merasa iri atas perlakuan Radof kepadanya, tidak hanya itu pengeroyokan tersebut membuat pelipis Vino terluka serta beberapa luka lembap pada punggung, lengan serta dada sebelah kanan. Dengan, sekali urut dan tarikan, dia meluruskan tulang engsel tersebut rasa sakit, ngilu bersatu.

Mereka semua tertawa keras, Orion yang belum masih berpuas diri ingin memukulnya kembali, beruntung Radof serta anggota keluarganya yang tengah menikmati waktu senggang segera datang sehingga masih dapat digagalkan mendapati laporan dari salah satu penjaga, ia pun memerintahkan kepada para penjaga untuk membawa komplotan pembulian tersebut menyeretnya ke ruang bawah tanah.

" Jangan pedulikan " ujar Vino menepis tangan Radof, tanpa pamit dirinya pergi dari sana. " Biarkan, awasi dia dari jauh " tegasnya pada Evan yang hendak menahannya.

Di ruang kesehatan diperuntukkan khusus untuk para tawanan, dia memilih duduk pada kursi panjang dengan membawa berbagai peralatan medis yang dibutuhkan seperti obat-obatan serta tong sampah yang dia geserkan agar lebih dekat dengannya. Dia menggunting pakaian atas yang sudah dipenuhi oleh darah, menyuntikan cairan anestasi kepada lengan kiri, menggigit kain menyumpalnya menahan rasa perih saat satu botol alkohol ia tumpahkan begitu saja membersihkan luka yang begitu menganga, menjahitnya tanpa pertolongan siapapun. Desahan rasa sakit itu menggema yang hanya didengar oleh dirinya serta keluarga Radof yang sedari tadi memantaunya dari cctv.

Dia melepaskan sumpalan pada mulut, membuangnya, fokus membersihkan luka lainnya yang tidak separah pada lengan. Sibuk menumbukkan beberapa butir obat yang masih terbungkus meminum dengan cepat. " Aku butuh kerja sama, kamu harus bisa beradaptasi selama disini. Jangan rewel oke " ujar mengusap dada kiri berharap tidak akan kambuh, lupakan ingatan hari ini yang harus check up satu bulan sekali

Seorang lelaki berlari terburu-buru masuk menghampiri Vino dengan pakaian yang serba tertutup, " Are you oke ?, kita harus segera pergi dari sini " ujar dengan tatapan khawatir memeriksa setiap keadaan luka

Vino terperangah mengenali siapa pemilik suara tersebut meminta menjauh, " Kau harus segera pergi dari sini Lexy, bagaimana bisa kau ada disini ? "

" Aku akan menjelaskan nanti saat kita sudah terbebas dari sini. Sekarang cepat ikuti aku, aku tahu jalan pintu keluar dari disini " Lexy menampirkan jaket kepada Vino, menarik pergelangan tangan sahabatnya erat mengajak keluar. Keduanya berlari kencang menuju tempat samping ruang pembuangan sampah, setelah disana Lexy dengan cepat menekan kode digit angka agar akses pintu gerbang terbuka. Gelang yang dikenakan Vino terus menerus menyala, tanda signal maps yang langsung terhubung kepada keluarga Radof.

Lexy segera cepat mengajak kembali berlari menghampiri motor yang sudah dia persiapkan sebelumnya disana dengan tertutup kain hitam serta beberapa tumpukkan dus. " Sini biar Aku bantu " ujarnya mengenakan kaos kebesaran serta helm kepada Vino, menaiki motor tersebut segera pergi dari sana dengan melaju kecepatan tinggi.

Perjalanan memakan waktu yang banyak menuju perbatasan kota, bahkan belum sempat dipertengahan jalan pun keduanya sudah diikuti beberapa mobil hitam milik keluarga Radof dan bodyguard. Namun dari berlawanan arah dua mobil hitam telah berhasil menghadang keduanya membuat Lexy memberhentikan motor secara terpaksa. Keduanya turun dari motor, begitu pula yang lain.

Lexy memberikan pisau lipat kepada Vino " Anggota kita butuh kamu, mereka disandera geng Elang ," tergurat wajah kesedihan. Vino sekuat tenaga dia mencoba melawan dengan senjata seadanya, hal itu disaksikan seluruh anggota keluarga Radof.

Jahitan dilengan terbuka kembali mengeluarkan darah segar lumayan banyak, dia meringis pelan. Beberapa bodyguard tumbang dibuatnya. Suara tembakan tepat pada pundak kanan Lexy, ditatapnya Evan sebagai pelaku. " Jangan khawatirkan Aku, Aku masih bisa bertahan ," mencoba menenangkan Vino terlihat panik agar kondisi jantungnya tidak kambuh. Evan yang terlanjur marah menembak kembali, kali ini tepat mengenai lengan kiri.

Evan berjalan mendekati Lexy, mencengkram dagu. " lancang sekali kau membawa kabur dia, hm ?" Ujar dengan tangan kanan siap melatukan isi peluru mengarah tepat dikepala Lexy. " Kau, segera ikut kami atau melihat teman mu ini mati didepan mu ? " menatap tajam ke arah Vino.

Belum sempat melanjutkan perkataan, Evan berdesis segorombolan musuh menyerang mereka. Mau tidak mau Vino bersama Lexy ikut terkena imbas, tenaga Vino mulai terkuras habis. Mengabaikan rasa sakit, dia memanfaatkan mengambil senjata api milik penjaga yang tergeletak menembak segera satu persatu musuh Radof. Beberapa diantaranya berhasil tepat mengenai sasaran, seorang pria berkisar 26 tahun memberi kode kepada anggota memilih mundur dan segera pergi dari sana.

Deru napas Vino tersengal-sengal, energi yang dia keluarkan telah melebihi batas. Lexy segera menghampiri sahabatnya itu yang sedang bersandar pada mobil namun ditahan begitu saja oleh bodyguard, menyeretnya masuk kedalam mobil menuju ruang tawanan. Sementara Vino, dia masuk kedalam mobil milik Evan diikuti keluarga serta beberapa bodyguard berbeda tempat dengan Lexy, membawa ke sebuah ruangan putih tanpa jendela.

MAFIA vs FBITempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang