Besok harinya setelah Vino tersadar dengan pergelangan tangan kiri tertempel plaster bekas luka jarum selang infus, dia mencoba bangun sembari memijat pelipis mehilangkan rasa pusing, meminum air putih hingga tandas. Mencuci muka sebelum pergi dari sana, digenggam gagang pintu baru saja ingin membuka salah satu penjaga lebih dulu menghampiri. " Biarkan Aku keluar " ujar Vino pelan dengan suara napas masih terdengar memberat.
Penjaga tidak mau mengalah melainkan mencekal lengan Vino agar untuk berbaring kembali, lelaki remaja itu memberontak disisa tenaga hingga sampai Evan mengintrupsi membiarkan Vino keluar kamar melalui earphone. Ruang bawah tanah sebagai tujuan utama menemui Lexy, dia melewati lorong panjang yang dipajangi berjejer apik foto keluarga di dinding. Salah satu foto menarik perhatian pada mobil yang pernah dia lihat sebelumnya.
Langkah kaki semakin cepat, tujuan utama dia lupakan begitu saja karena kini ingin bertemu Radof. Segera dia menuruni anak tangga dan mereka tengah berkumpul di ruang keluarga terlihat dari atas tangga.
" Om culik Aku dijadikan tawanan disini bukan untuk menjual organ ku kan, karena kejadian waktu itu ? ." Vino menepuk jidat, " Atau om mau minta rugi ke papa ?, jangan dong om Aku kan cuman bantu kalian saja, kenapa om malah bawa Aku kesini. " cerocos Vino dengan kedua tangan ia tempelkan memohon kepada Radof bahkan disaksikan oleh seluruh anggota keluarga yang lain, begitu pun para penjaga yang bekerja.
" Kami melakukan semua ini karena kamu putra ku, darah dagingku dan kami adalah keluarga mu," ujar Radof tegas sembari memberikan berkas kepada Vino.
" I-ini tidak mungkin om, bagaimana bisa ? Jika Aku anak om kenapa papa tidak mengatakan semuanya "
" Karena kamu.... "
" Jangan dengarkan dia Vino, tolong jangan percaya padanya. Kamu harus percaya sama papa " Sanggah Rifston melenggang masuk ke dalam mansion, dengan cepat dia mencekal lengan Vino menariknya menjauh dari Radof.
" Masuk mobil ada kak Valdo dan Lexy, maaf papa datang terlambat menolong mu. Pergilah. " Ujar Rifston lembut mengusap kepala Vino. Setelah lelaki remaja itu pergi dengan hati masih menaruh rasa penasaran, rahang Rifston kembali mengeras.
" Kenapa mengkhianati perjanjian kita, bukankah dari awal kita sudah berjanji bahwa tidak akan mengungkit masalah ini. Jauhi Vino, dia putraku dan Aku tidak akan tinggal diam membiarkan kalian mengambil putraku begitu saja " ujar Rifston melangkah pergi.
" Rifston Alister, bagaimana pun kau telah memisahkan dia dari kami tetap saja dia darah dagingku, Aku akan melupakan perjanjian itu dan Aku akan mengambil hak asuh ku. "
********
Didalam mobil Vino langsung menanyakan keadaan Lexy lalu menyenderkan kepala pada lengan Valdo, tertidur kembali. Rifston yang baru masuk diikuti Ander dan Altar meminta Valdo berpindah posisi dengannya. Lexy segera menceritakan yang terjadi selama disana bahkan memberitahu kondisi Vino yang beberapa kali jatuh pingsan dan sering sakit saat masih didalam sel tawanan bahkan sampai kejadian pengeroyokan.
Mereka memutuskan menepikan mobil didepan cafe, membangunkan Vino untuk mengisi perutnya yang kosong. " Papa Vino mual, " belum sempat menjawab putra bungsunya memuntahkan darah segar begitu banyak. Telpon Rifston berdering, Altar segera mengangkat telpon tersebut mengeraskan volume. " Serahkan Vino kepada kami atau dia akan merasakan kesakitan berlarut-larut karena kami memiliki obat penawarnya. "
" Papa, Vino baik-baik saja. Maaf pakaian papa jadi kotor, " Rifston yang mendengarnya mengecup kening Vino, " Kita ke rumah sakit Ander, Vino kamu harus janji sama papa kalo kamu tidak akan meninggalkan papa, paham ? "
Vino mengangguk, tersenyum lebar dibalik wajahnya yang pucat pasi.
Amarah Rifston serta yang lain memuncak menatap jendela bagaimana alat-alat medis kembali terpasang begitu banyak ditubuh pada orang yang selalu mereka jaga. " Malam ini Aku akan menyelinap kembali ke mansion mereka, Altar tidak mau pa jika Vino bersama mereka. Dia adik kita. "
Dokter pun datang menghampiri mereka, " Kami hanya bisa menolongnya semaksimal mungkin dan kami belum bisa menemukan obat penawar yang akan kami berikan kepada putra Tuan. Namun yang kami khawatirkan efek samping yang terjadi akan menurunkan pada daya tahan tubuhnya. "
" Saya akan membayar berapa pun itu bila perlu panggil profesor doktor termahal sekali pun asal putra bungsu saya kembali sembuh seperti semula " Rifston menatap lekat dengan kedua matanya bercampur emosi dan sedih, setelah mengatakan itu dokter Asraf berpamitan dan mengizinkan mereka menjenguk Vino yang sudah berpindah ruangan.
Selama satu minggu mereka mengajukan cuti kerja, hanya akan datang ke kantor bila mendapati kasus urgent. Valdo duduk dikursi menunggu adiknya terbangun disamping brankar sementara yang lain memilih disofa sembari memikirkan jalan keluar, lalu Lexy sedang memesan makanan untuk mereka. Perlu diketahui Lexy merupakan anak seorang pekerja dimansion Rifston sekaligus teman Vino dirumah juga sekolah.
Kedua kelopak mata terbuka perlahan, " Abang kita pulang, papa mana ?, " merasa namanya terpanggil Rifston berjalan menghampiri. " Papa kita pulang, Vino kangen main ps dirumah daripada harus dirumah sakit pasti biayanya mahal. "
" Kamu makan dulu son, " Rifston mencoba mengalihkan, " Lexy tidak dirawat disini juga pa, kenapa hanya Vino saja "
" Lexy sudah diperiksa oleh dokter tadi dan tidak perlu dirawat " jawab Rifston menyodorkan sendok berisi bubur yang diterima paksa oleh Vino. Valdo dia terkekeh, " Mau taruhan maen game sama abang ?. "
Vino mengangguk antusias menerima ponsel milik Altar. " Kalo abang kalah belikan ponsel buat Vino ya bang, "
Valdo setuju, sang adik tersenyum ceria begitu ambisi ingin mengalahkan kakaknya, " Abang tidak usah jadi, abang yang menang. " ujar Vino tiba-tiba menghentikan permainan, kedua tangannya terasa ngilu dan kebas. Bahkan dia juga meminta Rifston berhenti menyuapinya yang baru enam suap merasakan sakit pada perutnya. Mereka mengernyit bingung, suhu tubuhnya terasa dingin saat Altar tidak sengaja menyentuh telapak tangan kanan Vino. Ac penghangat ruangan dihidupkan saat adiknya memiringkan tubuh menghadap Rifston memeluk lengan sang papa.
Lelaki remaja itu tidak mengatakan apa-apa, hanya pelipis yang terus-menerus mengeluarkan keringat sembari memejamkan kedua matanya dengan berharap rasa sakit yang tengah dirasakan menghilang. Altar langsung menelpon Radof, Evan yang menerimanya terkekeh kecil. Giginya bergemelatuk saat Vino akan dijemput oleh mereka.
Sudah satu jam Vino merasa kesakitan membuat mereka khawatir bahkan dokter sekali pun tidak mampu menanganinya. Pintu diketuk, Radof beserta yang lainnya berjalan masuk. Pria paruh baya ketua mafia itu sudah mempersiapkan obat penawar tersebut yang tinggal disuntikan pada lengan Vino namun sebelum dilakukan Rifston harus menandatangi pengalihan hak asuh putra bungsunya.
" Tanda tangan atau kalian akan kehilangan nyawa Vino. Jika kami tidak bisa memilikinya maka kalian juga tidak. "
Rifston ingin memukul Radof namun Vino lebih dulu terbangun memanggil namanya. Kedua mata sedikit sembab serta memerah, dia memberanikan diri mencabut jarum selang infus serta melepas alat medis tertempel pada tubuhnya. " Vino sudah sehat pa, Aku pulang duluan ya pa sama Lexy. Papa sama abang lebih baik selesaikan dulu urusannya "
KAMU SEDANG MEMBACA
MAFIA vs FBI
AcakHidup adalah pilihan dan ini adalah pilihan jalan cerita miliknya, terlihat rumit tapi dia tetap menjalani nya memahami setiap alur mengalir apa adanya dan dia adalah Vino. Anak SMA yang memiliki kisah istimewa dalam kehidupan yang tidak orang lain...
