Chapter 2

64 2 1
                                        

" Dimana lagi ini ? " ujarnya terbangun duduk bersandar pada ranjang pesakitan, pandangan mata mengedarkan ke sekeliling ruangan yang tidak bisa mendapatkan celah sedikit pun pintu akses keluar untuk kabur.

Pintu terdengar terbuka, " Sebaiknya beritahu saya letak jalan pintu keluar ada dimana ? Sebelum papa serta abang saya berhasil membongkar bisnis gelap kalian "

Ketiga pria serta wanita paruh baya yang tengah berada disana, berhadapan dengan Vino tertawa puas mendengarnya " Kau lupa dengan siapa kami, hm ? "

" Vino Alister, benar itu nama mu nak ? salah satu siswa kelas 2 di Champions School, kau ahli menembak jarak jauh maupun dekat juga pandai beladiri. Namun sayang kau memiliki riwayat penyakit jantung, bukan begitu bungsu Alister ? "

Pria paruh baya itu berjalan mengelilingi ranjang pesakitan, duduk saling berhadapan " buang jauh-jauh harapan mu itu untuk bisa lari menjauh dari kehidupan kami " ujarnya menghunus tajam.

" Orang bengis seperti kalian tidak pantas dikatakan manusia, kalian hanya memikirkan ego kalian tanpa memikirkan nasib orang-orang yang tidak bersalah "

" Apa peduli kami " Jawab Evan angkuh, dia berjalan santai perlahan mendekati Vino memberi kode kepada bawahannya untuk tidak lengah kepada lelaki remaja dihadapannya itu.

Vino terkepung, tidak bisa pergi kemana-mana. " Papa ? " Batinnya mengetahui siaran berita yang tengah meliput Rifston sedang berada dibandara beserta abangnya yang tengah bersiap melakukan penerbangan sesuai tugas perjalanan dinas.

Dengan pikiran yang berantakan Vino menerjang Giovani dari belakang dengan tangan kirinya mengambil sebilah pisau yang tersimpan disamping nakas atas piring buah-buahan yang dia arahkan pada bidang kiri pria serta pistol kecil yang berhasil dicuri disaku belakang Evan dia arahkan tepat kepada mereka. " Beri tahu saya, kemana arah jalan pintu keluar " Ujarnya tergesa, raut wajahnya terlihat kepanikan dengan tangannya yang gemetar serta panas.

Evan memberi kode kepada mereka agar tetap berusaha santai, tidak gegabah. " Turunkan benda tajam itu serta senjata mu, ini semua tidak ada artinya atau kami semua akan bertindak kasar pada mu " Ancam Radof kepada Vino.

Lelaki remaja berperawakan tinggi 156cm itu menggelengkan kepala, " Katakan cepat di mana arah menuju jalan keluar "

Vino tidak menyerah, dirinya masih berteguh diri
memaksa Giovani mengikuti langkah kakinya meski bersusah payah menahan rasa pegal karena perbedaan tingginya yang jauh berbeda berkisar 32cm. Namun yang pasti dia hampir mencapai pintu belakang. Sebenarnya Giovani bisa saja melawan, namun dia urungkan, ingin mengetahui sejauh mana lelaki remaja itu berani menghadapi mereka.

" Kau boleh saja keluar dari sini, tapi jangan salahkan kami, jika sahabatmu akan mati begitu saja " ujar Radof memberi peringatan kepada Vino dengan memperlihatkan beberapa penjaga sudah berada dibeberapa titik tempat kediaman sahabatnya.

" Mau kalian apa sebenarnya ? " Tanya Vino frustasi, dapat Giovani rasakan tubuhnya sedikit bergetar dengan ritme jantung yang begitu cepat.

" Bergabunglah bersama kami, maka semuanya akan baik- baik saja " jawab Evan tegas, dia menyeringai puas. Maju melangkah mendekati Vino. " Bawa dia ke ruang lab. "

Giovani segera mencekal tangan Vino, memilintirkannya, menyeret membawa lelaki remaja tersebut untuk melakukan penetralisir tubuh serta memasangkan microchip dan gelang identitas yang akses pemasangannya mengenakan kata sandi.

Vino, dia memberontak menatap seumuran para remaja disepanjang jalan yang dilewatinya seperti terlihat mayat hidup, dengan tatapan kosong bahkan beberapa diantara mereka banyak sekali telah kehilangan anggota tubuhnya. Bahkan dia hampir kehilangan akal sehat saat tidak sengaja menyaksikan bagaimana perlakuan mereka menghukum anak-anak yang tidak bersalah dengan begitu keji. Tubuhnya merasa lemas, tidak tahu nasib yang akan terjadi kedepannya nanti.

3 HARI KEMUDIAN,

" Kau baik-baik saja ? mungkin kamu akan merasakan sedikit pusing tapi itu tidak akan lama. Kenalkan nama ku Reyhan dan dia, Raya, kita harus pergi bekerja " ujarnya memberikan id card padanya

Vino mengernyitkan alisnya merasa bingung dengan keadaanya sekarang. " Ini dari tuan Radof kartu identitas untuk mengambil kebutuhan sehari-hari di toko market yang sudah disediakan disini. "

Vino yang belum sempat menjawab, berpasrah diri mengikuti kedua teman yang baru saja dia kenal sembari mendangar penjelasan kehidupan mereka selama disana. " Kami harus pergi mengamen, maaf kita tidak bisa mengajak mu pergi. Kita tidak mau kelurga Tuan Radof marah dan harus berakhir di hukum. "

Setelah mengatakan itu, keduanya pergi meninggalkan Vino sendirian, mungkin hanya dirinya serta tawanan anak lainnya yang sedang ditahan dalam jeruji besi karena telah melakukan tindak kriminal. " Mari tuan muda, anda dipinta menemui Tuan Radof " ujarnya seorang pria dewasa menepuk pundak Vino.

Sampai disana, Vino meluapkan emosi yang sudah tidak terbendung lagi, mendapati tamparan keras dari Radof. " Saya hanya memberi kesempatan hidup untuk mu, dan sebagai imbalannya kau harus patuh dengan semua aturan yang ada disini. Persiapkan dirimu untuk homeschooling jam 8 nanti. "

MAFIA vs FBITempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang