Chapter 4

37 1 0
                                        

" Bagaimana keadaannya ? " paruh baya itu menghampiri Agraf, dokter pribadi keluarga sekaligus teman mafia.

" Dia harus istirahat total, kondisi jantungnya semakin memburuk bahkan kemungkinan harus melakukan pecangkokkan "

" Aku mengerti "

Agraf menepuk pundak Radof sebelum berpamitan, sementara yang lainnya segera masuk ke dalam melihat keadaan Vino sekarang. " Kau yakin dengan pilihanmu ini ? Alister tidak akan tinggal diam mencari Vino, mereka sangat mengawasi ketat kepadanya. Maaf Aku tidak bermaksud mencampuri urusan mu, Aku hanya mencoba mengingatkanmu "

" Bilakau hanya ingin mengatakan itu sebaiknya silakan pergi saja "

Agraf terkekeh pelan, " Aku tebak, kau tertarik dengan dia karena insiden waktu itu saat menolong kalian ?, Aku akui anak ini cukup kuat dan berani " Ujarnya melenggang pergi.

Agraf terkekeh pelan, " Aku tebak, kau tertarik dengan dia karena insiden waktu itu saat menolong kalian ?, Aku akui anak ini cukup kuat dan berani " Ujarnya melenggang pergi

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Tangan kekar itu megenggam tangan yang lemah, deru suara napas begitu kentara terdengar berat dibalik masker oksigen." Kami semua merindukanmu nak, maafkan ayah "

Radof tersenyum tipis mengingat kejadian sebulan yang lalu begitu pula dengan yang lainnya dalam diam.

Seorang anak lelaki remaja berlari cepat masuk kedalam mall takut terlambat akan pertemuan bersama keluarga yang telah lama bekerja dinas. Napasnya tersenggal-senggal memasuki salah satu restoran disana. Jalannya sedikit melambat setelah mengetahui tidak ada satu pun anggota keluarga. Dia pun meronggoh ponselnya untuk menghubungi sang papa dan gagal.

" Aku pikir Aku yang telat tapi ternyata Aku yang paling awal disini " Gumamnya.

Hampir satu jam Vino menunggu mereka namun tidak kunjung datang, dirinya hanya menatap satu minuman gelas yang telah dipesannya tadi mengetuk-ngetuk meja dengan jemari telunjuk menghilangkan rasa bosan. Disana hanya ada dia bersama satu keluarga besar sedang menikmati waktu bersama.

Vino kecewa. Tidak menyadari kedatangan Farhan, supir pribadi Alister menepuk pundak lelaki remaja tersebut tersenyum singkat. Farhan menyampaikan semua alasan kenapa kedatangan Alister berserta yang lain tidak bisa datang. " Vino tahu paman. Harusnya Vino tidak terlalu berharap dan memahami pekerjaan papa dan abang memiliki waktu luang kecil bersama keluarga "

Keduanya pun segera pergi dari sana bersama dengan keluarga Radof, bahkan mereka satu jalur terkecuali Farhan. Dipersimpangan jalan tepat lampu merah menyala dari arah belakang segerombolan anak remaja menyenggol motor Vino yang telah maju mendahului iringin mobil Radof, sehingga harus me'remnya cepat karena Vino terjatuh didepannya.

Vino melepaskan helm full face, salah satu dari mereka turun menghampiri. " Gue tahu lo bukan sasaran yang akan ingin kita habisi. Tapi kita tahu kalo lo sahabatnya Gibran yang paling akrab "

" Geng Elang ? " batinnya.

Mata Vino hati-hati memperhatikan mereka yang telah mengepung dirinya, perkelahian pun terjadi. Sekitar Satu lawan lima belas orang, Vino melawan mereka dengan mobil iringan Radof yang tidak bergeming. Napas Vino yang tersenggal membuat dirinya kewalahan, dia masih beruntung mereka melakukan dengan tangan kosong sehingga tidak menyerah, mempertahankan kesadaran agar tetap terjaga.

Nasib berpihak padanya, karate sabuk hitam itu berhasil menumbangkan mereka meski waktu cukup lama mengakhiri. Bahkan wajah miliknya pun tidak luput dari memar dan goresan luka. Dia meronggoh ponsel miliknya, berusaha mengatur napas disaat sepuluh motor berhenti turun menghampiri Vino, segera mengirim lokasi kepada grup anggota untuk meminta tolong.

" Bagaimana ini tuan ? "

" Tetap disini " ujarnya, pria paruh baya selaku pemimpin mafia itu begitu mengawasi Vino yang tidak jauh berbeda dengan anggota keluarga yang lainnya.

Vino, kedua mata itu menelisik para anggota geng Elang, meski 7 orang namun mereka membawa senjata tajam. Dia mencoba tetap tenang, mata ekornya begitu tajam menelisik gerak-gerik mereka. Dia menangkis, memelintir lengan Zino selaku anggota geng inti, mengambil alih pisau lipat setelah itu membanting tubuhnya, lanjut menendang keras kaki kanan Reza hingga berlutut serta menangkis lengan yang siap memukul rahangnya.

Suara deru motor kembali terdengar kali ini anggota Vino yang langsung segera menolongnya, dia yang mendapatkan celah mundur perlahan sejenak berlari cepat ke arah pohon rindang untuk memuntahkan darah segar sembari meremat dada kirinya akibat terkena pukulan keras. Hatinya sedikit lega mengingat dirinya membawa persiapan didalam saku jaket, dengan tangan sedikit gemetar ia meminum obat tersebut tanpa air, mengelap mulutnya dengan tissue yang ia selipkan saat pulang dari restoran entah firasat bagaimana ia ingin membawanya untuk berjaga-jaga.

Tidak ingin sahabatnya menaruh curiga dan berujung mengadu kepada Alister nantinya, ia bergabung kembali membantu yang lain. " Banci lo pada mainnya keroyokan " ujar Gibran emosi tak terkontrol saat dengan tega menghabisi mereka hingga mundur pergi dari sana.

" Vin wajah lo pucet " Ujar Ander menelisik.

" Perasaan lo aja kali, gue baik-baik aja "

" Yakin lo gak bohong ? kita anterin pulang sampe rumah "

" Gak, gak, gue bisa pulang sendiri, mending sekarang kalian pulang besok sekolah bobo ganteng. Makasih lo pada udah bantuin "

Gibran yang tidak percaya mencekal lengan Vino, " Gue baik-baik aja kalo pun kenapa-kenapa pasti gue hubungi kalian semua "

" Kalo lo bohong, kita semua yang akan kurung lo dirumah sakit "

" Gue paham "

Mereka pun mengangguk serempak menaiki motor masing-masing meninggalkan Vino, sementara dia menatap mobil yang sedari tadi masih diam ditempat, dia membenarkan posisi motor serta memakaikan helm segera pergi dari sana. Diperjalanan Vino menepikan motor didepan halte menelpon orang dirumah untuk menjemputnya. Lama menunggu suara senjata api terdengar dijalan gang terhimpit gedung bertingkat seberang jalan yang terlihat sudah sepi dan gelap sampai terdengar hantaman mobil.

Rasa penasaran menjalar ia berjalan mengendap ingin mencoba mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Diintipnya beberapa orang berseragam hitam tergelatak mati tak berdaya, melanjutkan kembali berjalan semakin dekat agar tidak diketahui, dilihatnya sepasang suami istri bertekuk lutut serta beberapa pemuda lainnya sedang dihadapkan senjata tajam oleh segerombolan berjas hitam yang mengepung mereka.

Vino yang tidak tahu harus melakukan apa secara spontan mengambil senjata api yang tergeletak bebas. Tanpa aba-aba pelatuk ditekan, peluru berhasil menembus pada salah satu pria lalu berikutnya dua, tiga tumbang. Fokus mereka pun terkecoh, mereka yang berlutut tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, suasana berbanding terbalik dari sebelumnya.

" Ma-maaf om Aku hanya ingin membantu saja " ujar Vino sedikit merinding, meski dia tidak dapat melihat jelas raut pria paruh baya itu serta dua orang pemuda berdiri berdampingan.

Pria paruh baya itu melatukan senjata, peluru berhasil menembus pundak lelaki dibelakang Vino membuatnya mematung. " Pergi sekarang " ntah suara siapa yang memintanya, cepat-cepat Vino berlari dari sana. Napasnya semakin tersenggal-senggal menghirup banyak-banyak.

" Kamu baik-baik saja ?' Kenapa tidak angkat telpon papa, masuk ke dalam mobil. Cuaca sedang buruk malam ini " ujarnya menampirkan jaket kepada putra bungsu. Vino menurut namun langkah kaki Alister terhenti bersitatap dengan Radof serta Seline yang akan masuk ke dalam mobil.

Flashback end.

MAFIA vs FBITempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang