13. Lebah Hitam

18 8 0
                                        

Malam hari telah tiba begitu cepat. Penerbangan selama 11 jam memakan waktu yang lama bagi Lauva dan Alva. Disinilah mereka berada, di depan pintu rumah milik Fedrick Algan. Satu kali menekan tombol bel, terdengar suara pintu yang terbuka. Nampak sosok Hera dihadapan mereka berdua. Lauva sedikit terkejut dengan penampilan Hera jauh berbeda saat terakhir kali bertemu lima tahun yang lalu. Wajah lelah Hera sangat kentara, apa dia sakit? pikir Lauva.

Menjauhkan pikiran buruknya. Lauva menatap serius pada Hera. "Apa anda masih ingat saya, Hera?"

Hera mengangguk, menyingkir dari pintu seakan memberi ijin untuk masuk ke dalam. Tanpa banyak tanya, mereka langsung menurut. Hera menuntun mereka ke kamar Fedrick yang masih terbuka. Ketika pintu terbuka lebar, aroma rumah sakit menguar di indra penciuman mereka. Nampak jelas apa yang terlihat membuat Lauva menggeleng tak percaya. Keadaan Fedrick sangat diluar prediksinya.

Tubuh penuh perban terbujur di ranjang, dengan berbagai alat bantu medis terpasang disana. ECG monitor yang tak hentinya memberitahu, membawa sekecil harapan yang entah kapan terwujudkan.

"Tuan Fedrick koma sejak satu tahun yang lalu. Tepatnya saat peristiwa kebakaran di malam pesta itu," ujar Hera sendu.

Lauva menoleh cepat ke arah Hera. "Kenapa tidak memberitahu kami?"

Terdengar helaan napas kasar dari Hera. "Kita bicarakan diluar," balas Hera, menuntun mereka berdua ke ruang tamu.

Setibanya mereka duduk dengan nyaman, Hera diam sejenak menyusun kata. Menatap Lauva serius, Hera berkata. "Tuan Fedrick datang sendiri tanpa pengawalan sama sekali. Katanya, beliau ingin melihat Nona Hearly untuk terakhir kalinya. Tapi saat saya diberitahu kabarnya, tidak sesuai harapan kami. Tubuhnya hangus terbakar oleh api, karena ingin menyelamatkan Nona Alisha yang tiba-tiba saja diculik seseorang. Saya tidak tahu, mengapa Nona Alisha diculik saat kebakaran itu terjadi,"

Satu tahun yang lalu, ketika sebuah pesta pernikahan Deon Wallcot dengan Belvani yang digelar di sebuah gedung milik Belvani sendiri. Pesta mewah menghadirkan rekan kerja, teman, dan keluarga. Perayaan penuh kebahagiaan dan tawa. 

Namun dibalik itu semua, terjadi ledakan tabung gas dari arah dapur. Memicu api yang mengobar begitu besar. Kerusuhan terjadi, berusaha menyelamatkan diri mereka sendiri. Ditengah-tengah kekacauan, seseorang tengah menyeret Alisha yang pingsan tak berdaya. Darah di kepala Alisha menandakan kekerasan terjadi padanya. Tidak ada yang mengetahui ataupun peduli. Hingga suara lantang menghentikan orang itu.

Fedrick Algan, sosok yang berusaha menolong Alisha. Nahas, kedatangannya diwaktu yang salah. Api yang menyebar begitu cepat menutup penglihatannya. Sebelum bisa mengejar orang itu, sebuah tendangan mutlak mengarah dari belakangnya. Tubuh Fedrick jatuh tersungkur. Sang pelaku mendekat ke arah Fedrick, dengan batu besar ditangannya. Menghantam keras pada salah satu kaki Fedrick hingga berkali-kali. Teriakan penuh kesakitan Fedrick sama sekali tidak mengganggu, bahkan terdengar melodi bagi sang pelaku.

Belum selesai, sang pelaku pun memegang kedua lengan Fedrick. Lalu memelintirnya tanpa rasa belas kasih. Suara retakan tulang terdengar seiring teriakan putus asa Fedrick. Melepas kedua tangan itu, sang pelaku menatap datar pada Fedrick yang sama sekali tak berdaya.

Sebelum pergi, sang pelaku mengambil sebuah balok kayu yang terbakar. Mengarahkan balok itu di atas tubuh Fedrick, ia melepaskan genggamannya seketika. Hantaman dari balok kayu dan api yang membakar di punggung, membuat Fedrick tak memiliki harapan untuk hidup. Suaranya teredam oleh ricuhnya barang yang terbakar. Terlebih lagi, dia tak tahu siapa pelaku dari semua ini. Fedrick jatuh pingsan bersamaan luka yang dibawa.

Sang pelaku yang sedari tadi memakai penutup wajah, mulai menampilkan garis bentuk wajahnya. Pria tampan lemah lembut seperti malaikat, adalah sosok iblis yang bersembunyi. Tidak ada yang tahu, semua rencananya tersusun rapi oleh otak liciknya. Alibi kebakaran yang di ciptakan, dua kubu berhasil disingkirkan. Alisha dan Fedrick. Senyum iblis nampak jelas diwajahnya. Latar belakang api ganas yang membara, gelak tawa bahagia terdengar begitu merdu. Xauliam Rechesther kembali menjadi dalang dibalik kekacauan yang lebih gila.

Mawar Api | EndTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang