Kembali ke masa kini.
Tepatnya di ruang kerja milik Liam. Suasana di ruangan itu sangat mencekam. Kemarahan yang tidak benar-benar mereda, menguar begitu cepat. Pertemuan yang tak seharusnya, terjadi tepat di depan matanya. Kebencian, kemarahan, dan takut ditinggalkan, tersimpan rapi dalam diri Liam.
"Aku memang tidak bisa membunuhmu sekarang. Tapi kita lihat saja, sampai kapan batas nyawamu itu!" geram Liam, menatap nyalang pada foto di ponselnya.
Gurat emosi tak bisa dihentikan. Liam membanting ponselnya ke dinding hingga hancur berkeping. "Aku bersusah-payah menyingkirkan wanita bodoh itu agar dia membencimu! Tapi apa hasilnya? Dia masih saja tidak bisa membencimu, sialan!!"
Napasnya memburu, atensinya menangkap sebuah foto pernikahannya. Perlahan, dia mengambil foto itu dengan tangan gemetar. Rasa takut itu kembali hadir. "Tidak boleh ada yang memilikinya. Hearly hanya untukku! Dia hanya untukku!" racau Liam memeluk erat fotonya.
"Tunggu saja, aku akan memusnahkan kalian semua! Termasuk kau Stanley Wallcot!" Liam tertawa keras diselingi air mata yang entah itu rasa putus asa atau kemarahan yang terpendam.
Disisi lain, terlihat seorang lelaki berumur sedang melihat ke arah monitor yang menampilkan cctv kantor. Terlihat jelas sorot mata kesedihan dan ketidakberdayaan. Apa yang dilihat sangat menghancurkan hatinya. Dia, Josepha Rechesther.
Xauliam Rechesther, putra semata wayangnya dengan Cellia Ben. Satu-satunya penerus keluarga Rechesther. Sosok sempurna yang diimpikan semua orang. Namun dibalik semua kesempurnaan itu, tersimpan luka yang begitu buruk. Ketika Liam baru berusia lima tahun, sebuah insiden terjadi sewaktu Liam bersama sang Ibu. Kecelakaan beruntun menimpa mereka. Mobil yang terhimpit di tengah-tengah, menewaskan sang Ibu yang berusaha melindunginya.
Liam koma selama beberapa bulan. Namun saat mata teduh itu membuka, sebuah kenyataan pahit menghancurkan diri Josepha. Putranya, mengalami trauma batin yang begitu serius.
BPD (Borderline Personality Disorder) adalah kondisi mental kompleks yang mempengaruhi cara seseorang merasakan dan berinteraksi dengan orang lain. Orang dengan BPD selalu kesulitan dalam mengatur emosi, mempertahankan hubungan yang stabil, dan mengelola stres. Penderita BPD juga memiliki pandangan yang tidak stabil tentang diri sendiri dan orang lain, bahkan tak segan-segan untuk menyakitinya. Penyebab salah satu BPD adalah trauma.
Terapi yang dilakukan, membutuhkan waktu agar bisa sembuh total. Dokter Audrey, dokter psikolog pribadi yang dibayar Josepha dalam menjalani terapi rutin pada Liam. Terapi DBT (Dialectical Behavior Therapy).
Sejak masa itu, Liam harus hidup dalam pengaruh obat, terapi, dan pengendalian diri. Nahasnya, seberapa kalipun Josepha berusaha membantu, Liam terus menerus melakukan aksinya dan berkali-kali Josepha menyingkirkan buktinya. Liam putranya, bukanlah psikopat gila yang membunuh demi kesenangan. Penyakit yang dialaminya selalu sensitif terhadap penolakan dan terluka dengan mudah. Liam hanya ingin pengakuan, bukan penolakan. Senyuman yang selama ini ditampilkan, hanyalah sandiwara untuk menyembunyikan semuanya.
"Ayah harap kamu bisa sembuh, Liam."
Markas Red Devil's.
Beralih pada Lauva yang baru saja menyelesaikan konflik antar dua mafia dengan damai. Meski bayaran yang ditebus sangat tinggi, tak membuat mereka rugi. Menghela napasnya lelah, ia berusaha memikirkan alasan yang tepat untuk kepergiannya dengan Alva dalam mencari kebenaran mengenai hilangnya Nona Alisha.
Tentu itu tak mudah baginya, karena alasan apapun yang akan terucap pasti menimbulkan rasa curiga. Namun, apa yang terjadi bukanlah penolakan, melainkan pintu keluar.
"Arly, aku meminta ijin darimu. Hari ini aku mau perjalanan ke Kota Lanbo. Ada sesuatu yang harus lakukan disana,"
Hearly yang sibuk akan anggarannya, menatap Lauva penuh tanda tanya. "Apa ini urusan pribadi, Lauva? Tidak biasanya kau pergi ke Kota itu,"
KAMU SEDANG MEMBACA
Mawar Api | End
Misteri / ThrillerApa jadinya jika seseorang yang memiliki segalanya menyimpan kenangan buruk? Keegoisan, penghianatan, dan kebohongan. Semua terjadi begitu cepat bagaikan api yang menyambar. Sebuah permintaan maaf tidak ada artinya kala rasa kecewa lebih dominan. Di...
