Lauva menatap terkejut atas hadirnya Geo yang tiba-tiba. Menjauhkan diri dengan sopan, nampak Lauva sedikit gelisah.
"Kenapa kamu begitu terkejut melihatku, apa semua baik-baik saja?" tanya Geo lembut.
Lauva tercekat. "Baik-baik saja Tuan Geo. Saya terkejut karena bisa bertemu anda di sini,"
"Oh, itu karena saya mau menemui Hearly. Saya sedikit khawatir tentangnya, jadi saya berencana ke Indonesia. Tapi jika kamu kemari, berarti Hearly juga ikut kan?" Geo mencari keberadaan Hearly disekitar dengan senang.
"Tidak, Tuan Geo. Saya kemari karena urusan pribadi, Nona tidak ikut dengan saya. Karena urusan saya sudah selesai, saya berencana untuk kembali hari ini," balasan Lauva melunturkan senyum Geo.
Geo mengangguk paham. "Jadwal pesawat kita sama tentunya. Apa yang kamu tunggu diluar? Mari menunggu bersama didalam sana,"
"Maaf, Tuan. Hanya saja, saya masih menunggu teman saya yang berada di toilet,"
"Kalau gitu, saya duluan ya,"
"Baik, Tuan," Kepergian Geo, membuat Lauva bisa bernapas lega.
Berjam-jam terlewat seperti air mengalir. Siang ini, Hearly terlihat sibuk akan anggarannya yang membeludak setelah ditinggalnya Lauva sehari. Ditengah kepadatannya, terdengar suara pesan masuk di ponselnya. Mengecek siapa yang mengirim, Hearly mengangkat alisnya heran. "Tumben Yuna mengirimiku pesan,"
Rasa penasarannya itu terganti dengan keterkejutan yang tiada henti. Berbagai foto yang Yuna kirimkan padanya, sangat membuat Hearly tak percaya. "Ini gila!" pekik Hearly tertahan.
Ingin menelpon Yuna, sebuah telepon masuk terlebih dahulu dari Lauva.
"Halo, Lauva. Apa kamu sudah dalam perjalanan pulang?" antusiasnya bertanya.
"Iya, Arly. Hari ini aku akan kembali pulang,"
"Itu bagus! Aku sangat merindukanmu, kau tahu!"
"Arly, ada sesuatu yang ingin aku beritahukan padamu,"
Hearly diam sejenak. "Ada apa?"
"Aku akan mengirimkannya semua, kamu dengar dengan baik-baik,"
Lantas, Lauva mengirimkan semua bukti-bukti yang telah dia kumpulkan pada Hearly. Bukti rekaman itu, Hearly simak secara baik-baik. Hatinya memanas kala mengetahui fakta kelam tersebut.
"Kenapa kau baru memberitahuku?!" bentak Hearly, menggebrak mejanya.
"Maaf, Arly. Aku harus memastikannya sendiri dengan jelas sebelum aku memberitahukannya padamu,"
"Kau membahayakan dirimu sendiri, Lauva! Jangan mengulangi hal ini lagi!"
Hearly langsung memutus telepon sepihak, dan mulai berusaha menelpon Yuna. Setelah mendapatkan rekaman dari Lauva, menyebabkan Hearly tidak bisa berhenti berpikiran jernih mengenai kondisi Yuna yang baru saja mengirimkan pesan. Berada di rumah monster satu-satunya hal mengerikan. Yuna, tolong angkatlah, batin Hearly gusar.
Beberapa kali telepon darinya, tak satupun terangkat. Lagi, Hearly menggebrak meja dengan marah. "Sial!" desisnya, langsung beranjak pergi dari markas. Tujuannya hanya keselamatan Yuna.
Setibanya di rumah, Hearly mendobrak pintu depan secara kasar. Pertama kali yang dia lihat, kondisi Yuna tengah terkapar tak berdaya di tengah ruang utama. "YUNA!!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Mawar Api | End
Mistero / ThrillerApa jadinya jika seseorang yang memiliki segalanya menyimpan kenangan buruk? Keegoisan, penghianatan, dan kebohongan. Semua terjadi begitu cepat bagaikan api yang menyambar. Sebuah permintaan maaf tidak ada artinya kala rasa kecewa lebih dominan. Di...
