⚠️⚠️Warning!! Warning!!⚠️⚠️
Cerita ini banyak kekurangan, plot hole, typo bertebaran, belum lagi kesalahan grammar dan gaya penulisan yang berubah sesuai mood yang nulis__aku.
Take your chance and leave buat yang pengen cerita wow dan perfect, karena nggak mungkin didapetin disini.
Aku buat ini cuma buat seneng-seneng aja jadi mari kita sama-sama having fun.
••☆••♡♡♡••☆••
"Aku ada kenalan temen yang buka klinik," Lian membujuk Wati untuk memindahkan Mario ke klinik anak seorang kenalan yang menerima dana sumbangan darinya setiap bulan.
"Dia bisa dipercaya kok. Operasi Rio kan lancar, tinggal pemulihan aja. Disana juga banyak anak seusia Rio jadi bisa ningkatin mood dia"
Wati masih ragu. Masalahnya Mario adalah cucu satu-satunya dari Anak dan Menantunya yang meninggal saat Rio masih berusia beberapa bulan. Bagaimana pun dia ingin perawatan yang terbaik untuk cucunya.
"Ruang privat begini terlalu sepi terus mahal. Kalau disana Rio bisa lebih membaur sama temen-temen dengan kondisi yang sama juga sekaligus memperluas wawasan Rio kalau banyak anak-anak yang kondisinya lebih parah dari dia dan nggak punya siapa-siapa buat diandelin" Lian masih berusaha mengeluarkan pendapatnya
Mata Wati bersitatap dengan Rio yang menggeleng dari atas kasur. Sepertinya cucunya tahu klinik seperti apa yang dimaksud Lian. Rio memang kadang diajak Lian untuk mengikuti kegiatan amalnya. Meski akhir-akhir ini dia sering menolak dengan dalih tugas sekolah, Lian sering kali memberi wejangan tentang saling memberi dan membantu pada sang bocah sd.
Selama ini Wati tidak pernah bertanya tentang kegiatan amal anak angkatnya itu tapi sekarang, saat melihat wajah pucat Rio yang menolak mentah-mentah ide Lian, dia jadi ragu.
"Kata Dokter, Rio perlu istirahat yang cukup...," Wati mencoba berargumen
"Bu, percaya sama aku. Disana juga fasilitasnya bagus kok. Suster sama Dokternya tuh kenalan aku, jadi bisa lebih tenang nitipin Rio disana. Ibu juga nggak perlu terus-terusan jaga di rumah sakit"
"Aku mau di sini aja," takut Wati mengalah, Rio berkata lirih dari kasur
Lian menoleh pada bocah yang kini matanya berkaca-kaca, "Kamu kan udah pernah kesana. Dokter sama susternya baik kan?,"
"Nggak mau. Aku mau disini," Rio mulai menangis
Wati bingung, "Kayaknya emang nggak perlu pindah. Kalau masalah biaya..."
"Nah itu, daripada bayar mahal buat sewa ruangan privat lebih baik kelebihannya kita sumbangin buat anak-anak yang lebih membutuhkan kan, Bu?
Disana nanti Ibu bisa liat kondisi mereka. Kasian, Bu. Rio kan cowok, dia harus kuat!"
Kepala Wati pusing. Dia tidak mengerti jalan pikiran anak angkatnya ini. Wati hanya ingin yang terbaik untuk cucunya. Lagipula dia bersedia membayar untuk itu dan justru Lian lah yang memaksa menanggung seluruh biaya Mario pada mulanya. Tapi sekarang kenapa malah seperti ini?
"Aku masih ada tabungan," Wati akhirnya bersikeras
Lian menggeleng dengan pasrah. Ibunya ini agaknya gagal menangkap maksud baik yang dia maksudkan "Bu, aku udah pertimbangin ini mateng-mateng. Menurut perhitungan aku, dengan jumlah yang sama yang kita keluarin di rumah sakit ini sama manfaat yang bisa kita bagi buat anak-anak lain..."
"Rio punya dana pribadi warisan orang tuanya," Wati kembali bersikeras. Dia punya firasat yang kurang bagus saat melihat penolakan dan deskripsi yang dikatakan Lian tentang klinik tadi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Her. [ ✓ ]
FanfictionKarina's One shot, two shots, short story about her- my main muse, Karina aespa.
![Her. [ ✓ ]](https://img.wattpad.com/cover/361337948-64-k214977.jpg)