"like this?"
Sebuah anggukan didapat oleh Jake membuat pemuda yang masih berantakan itu menoleh lagi ke arah pintu. Suara ketukan yang tak henti membuatnya heran. Apalagi Lia nampak sedikit tak nyaman dengan hal itu.
"Biar aku buka..."
Lia tak menjawab dan membiarkan Jake mendekat ke arah pintu. Membuka, keduanya kaget saat melihat orang yang nampak tak asing berdiri di baliknya. Yap! Pria yang kemarin sempat membuat Lia tak nyaman di cafe. Jake masih ingat wajahnya.
Pria itu nampak menatap tajam Jake yang ada di dalam kamar Lia,bahkan dengan penampilan khas bangun tidurnya. Beralih, ia menatap ke arah Lia yang nampak lebih rapi dan sepertinya pun baru selesai mandi.
"Apa yang kalian lakukan berdua di dalam kamar? Semalaman ini?"
"Siapa anda?" Tanya Jake tak peduli dengan pertanyaan pria itu. Lagipula, kenapa juga pria itu bertanya? Tak ada urusannya juga,kan? Pemilik kamar sendiri saja nampak tak mengenalnya.
"Pergi..." Ucap pria itu ke arah Jake namun yang lebih muda nampak tak gentar. Ia malah melipat kedua tangan dan menyender di kusen pintu.
"Anda yang harusnya pergi..."
"Apa tak cukup kau membuat keluargamu malu?" Tanya pria itu kepada Lia yang membuat gadis itu melotot tak percaya dengan apa yang pria itu ucapkan. Siapa dia sebenarnya?
Terdiam sejenak, Lia mendekat dan menatap tepat ke mata pria asing itu. Dia tak kenal, meski pernah bertemu. Jadi itu asing baginya.
"Apapun yang temanmu itu ceritakan, silahkan kau dengarkan. Tapi jangan mencampuri kehidupanku. Aku tak ada urusan denganmu!"
Lia hendak menutup pintu namun segera di tahan oleh tangan kekar pria asing itu.
"Kau tak kasihan dengan kakakmu?" Tanyanya lagi yang dibalas decihan dan senyuman miring oleh Lia.
"Kasihan? Pastikan kau tahu siapa dia sebelum kau mempercayainya. Bodoh!"
Jake membantu Lia mendorong pintu hingga tertutup lalu menguncinya. Melihat seniornya itu memejamkan mata dan menarik nafas dalam,ia langsung meraih Lia dalam pelukan. Tak percuma, Lia membalas pelukannya,bahkan mengusakkan wajahnya di dada yang lebih muda seakan ingin menghapus ingatan pagi ini.
Tak ada kata, tak ada suara. Semua tetap demikian sampai Lia teringat bahwa mereka harus bekerja pagi hari ini.
Memberi jarak perlahan, mereka bertatap sembari Lia mengusap pinggang Jake,seakan mengucapkan terimakasih.
"Ayo. Kita kerja pagi hari ini..."
"Nope... To dangerous...!" Ucap Jeno yang disetujui oleh Renjun dan Minjeong,kekasih Renjun.
Setelah mendengar cerita Lia dan Jake, meski harus sedikit menahan kesal dengan tingkah adiknya yang tahun ini bahkan baru akan berusia legal. Namun ia bersyukur juga, setidaknya ada Jake disana menjaga Lia dari orang asing itu.
"Pindah saja Li. Maksudku, it's not all time you get protected..." Ucap Renjun yang membuat Lia berpikir sejenak. Ya, dia setuju untuk pindah. Tapi kemana? Dia tak tahu banyak lokasi kontrakan lain. Paling ada hanya yang jauh lebih mahal saja.
"Tapi—"
"Ke tempatku,apa kamu mau,kak?" Tawar Minjeong, gadis yang lebih muda darinya. Terdiam, Renjun baru ingat dan segera mengangguk cepat.
"Ya! Ibu Minjeong punya tempat kontrakan. Meski ada di jalan kecil, tapi nyaman dan lumayan. Harganya juga tak mahal. Lokasinya dekat dengan rumahmu, Jen..."
KAMU SEDANG MEMBACA
Just Wanna Be Yours (End)
Fiksi PenggemarUsia bukan penghalang. Itu yang pemuda itu selalu ingat. Tentu saja motto hidup itu baru tercipta dan hanya berlaku dalam hal percintaannya saja pada sang senior idamannya, Lia.
