17

94 14 0
                                        

"ada masalah?"

Jeno yang sudah lebih dulu berada di ranjang melirik ke arah adiknya yang baru saja melemparkan tubuhnya ke tempat empuk itu. Ya, malam ini Jake akan tidur di kamar Jeno. Awalnya Jeno menolak karena masih kesal dan meminta adiknya itu tidur di kamar tamu saja. Namun dengan rengekan dan rasa bersalah dari adiknya, akhirnya ia luluh juga.

"Kaulah yang selalu mencari masalah."

"Cckk... Kau masih saja. Kan aku sudah minta maaf tadi,okey? Jadi katakan, apa masalahmu?"

"Masalahku?"

"Hhmm... Jangan pura-pura tak mengerti. Kau dan Lia menyembunyikan suatu masalah,kan? Aku bisa melihatnya tadi saat kau menerima panggilan masuk di meja makan. Ada apa?" Tanya Jake mendesak membuat Jeno memutar bola matanya jengah.

"Kan aku sudah bilang. Komplotan anak-anak malas dan pembuat masalah..."

"Kau yakin?"

"Kau ingin aku menjawab apa? Aku tengah mengerjakan tugas agen rahasia?" Sinis Jeno melirik sang adik yang langsung menunjukkan senyum konyol dengan deretan giginya.

"Aku kan hanya merasa ada yang janggal. Lebih baik bertanya daripada asal menyimpulkan lagi,kan?"

"Memang kapan kau pernah menebak dengan benar?" Gerutu Jeno acuh kembali lanjut dengan game di ponselnya.

"Kak..."

"Hhmmm??"

"Kau dan kak Claudia ada masalah apa?"

Melirik dengan tatapan yang jelas berbeda dan gestur aneh bagi Jake membuatnya tersenyum dalam hati karena kiranya merasa berhasil menemukan satu masalah lain pada kakaknya itu

"Apa yang dia katakan?"

"Get it!"
























Suara pukulan di meja membuat semua tersentak lalu diakhiri dengan helaan nafas lelah dari Lia setelah melihat siapa pelakunya.

"Kau lagi..." Jengahnya yang membuat gadis bernama Claudia itu melotot kesal. Tunggu, bukankah harusnya dia yang berkata seperti itu? Setelah berkali-kali dirinya memergoki Jeno dan Lia selalu bersama.

"Apa maumu?!" Bentak gadis itu pada Lia yang nampak tak terpancing sama sekali.

"Makan?" Jawabnya santai disusul dengan memasukkan sesuap nasi goreng kimchi kedalam mulutnya. Dengan tatapan dan ekspresi yang datar membuat Claudia merasa dipermainkan oleh gadis itu. Niatnya ingin memberi peringatan yang kesekian kalinya di depan semua orang supaya Lia malu. Namun nampaknya anak-anak di kampus itupun sudah bosan dengan drama mereka. Meski masih banyak juga yang penasaran.

"Tak bisakah kau menjauhi Jeno?! Sudah berkali-kali aku—"

"Akupun sudah berkali-kali mengatakan padamu wahai yang mulia putri Claudia yang entah dari kerajaan terpencil mana kau berasal hingga otakmu yang kolot itu lambat sekali mencerna ucapan orang lain. Aku dan Jeno bersahabat bahkan sebelum kau tahu ada manusia yang bernama Lee Jeno di dunia ini. Dan satu lagi, aku kekasih adiknya Jeno. Sedangkan kau—"

"Aku kekasihnya—"

"Mantan kekasih! Ingat itu. Kau dan Jeno sudah putus beberapa hari lalu.."

"Dan itu semua karenamu! Kau yang selalu menempeli Jeno hingga membuat kami bertengkar!"

Bentakan gadis itu membuat Lia berdecih dan menggeleng pelan. Heran dengan manusia sejenis mantan pacar Jeno itu.

"Kau yang emosi karena salah paham hingga membuat Jeno lelah padamu dan memilih mengakhiri hubungan kalian, tapi aku yang salah? Apa tak sekalian saja jika nilai Jeno jelek aku juga yang kau salahkan?" Tanya Lia yang lebih terkesan menyindir itu membuat Claudia makin kesal.

Ia mencondongkan tubuhnya pada Lia yang masih santai melanjutkan makan siangnya dengan tatapan mata merah yang menusuk.

"Jangan main-main denganku, Lia!" Geramnya mengancam namun kembali hanya mendapatkan senyuman tipis dari lawan bicaranya itu.

"Jika menurutmu aku mengajakmu bermain, maka coba kalahkan aku dengan kartu AS mu..." Tantang Lia tanpa takut. Jengah sudah dirinya hanya diam meski kadang menjadi penonton perdebatan Jeno dan gadis itu. Kali ini tidak. Dia akan membantu Jeno mengakhiri drama dari gadis ini.

"Kau akan menyesal nanti!"

"Aku?


















Atau kau?"














.
.
.


















Just Wanna Be Yours (End)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang