Enggan beranjak meski sinar matahari seakan berteriak memasuki kamarnya. Lia memilih abai dan sibuk saja dengan ponselnya. Tak membalas banyak pesan. Hanya menjawab satu pesan dari Jake lalu kembali melihat sosial medianya. Hanya ada 3 foto yang diunggah. Satu fotonya saat kecil, satu fotonya saat kelulusan SMA dengan teman-teman kelasnya, satu lagi foto yang Jake upload. Tentu saja foto mereka berdua. Foto yang Jake ambil tanpa Lia sadari saat hari pertama pemuda itu bekerja karena dirinya saat itu sibuk meracik kopi dengan tambahan caption hati. Biar saja. Toh tak ada yang aneh meski komentarnya banyak menanyakan hubungan mereka.
Tentu banyak yang bertanya. Pasalnya semua tahu Lia itu tak serius meski banyak teman dekatnya. Dekat hanya sekedar dekat. Tapi tak pernah ada yang Lia terima cintanya. Sedangkan Jake, semua mengenalnya sebagai adik dari Jeno. Salah satu teman dekat Lia yang juga sempat dikira memiliki hubungan lebih dengan gadis itu.
Jeno sang bintang lapangan dengan ketampanan paripurna. Tak jauh berbeda dengan adiknya. Tapi karena Jeno lebih dulu dikenal, Jake pun mendapat predikat Jeno ke 2 dan pemuda itu tak pernah menyukainya. Itu sebabnya dia selalu sengaja membentuk sifat yang berbanding terbalik dengan sang kakak supaya orang-orang berhenti menyamakan mereka.
Suara ketukan pintu membuat alis Lia berkerut. Memasang telinga dengan baik untuk memastikan itu suara dari pintu kamarnya atau dari pintu kamar orang lain. Kalau dari kamarnya, harusnya siapapun yang akan datang pasti akan mengabarinya dulu. Meski yang dia izinkan masuk tetap saja hanya Jake.
Suara ketukan kedua kalinya menyadarkannya kalau itu memang dari pintu kamarnya. Heran, karena Jake mengatakan ia tengah mengantar mamanya ke supermarket.
Merapikan sedikit rambutnya, Lia berjalan tanpa alas kaki menuju pintu kamarnya.
Suara ketukan kembali terdengar lebih jelas dan bersamaan dengan sedikit getaran saat dirinya menyentuh daun pintu. Memperjelas bahwa itu memang tamunya.
"Siapa?"
Tak ada jawaban. Hanya setelahnya suara ketukan kembali terdengar. Apa para peminta donasi bisa masuk kesana? Tentu tidak. Aneh malah jika orang-orang seperti itu bisa masuk ke area kontrakan.
"Saya tak akan membuka pintunya sebelum anda memberi tahu siapa anda!" Ucapnya tegas.
"Aku bisa saja masuk tanpa mengetuk..."
Suara bariton pria yang asing. Lia tak ingat pernah mendengarnya. Lebih berat dari suara Jeno. Lalu siapa?
"Saya tak mengenal anda. Pergilah!"
"Beruntunglah jika aku masih mau mengetuk pintu..."
"Kita tak ada urusan. Saya tak mengenal anda..."
"Tapi aku mengenalmu. Dan karena itu kita punya urusan..."
"Dasar gila!" Umpat Lia pelan. Tak peduli, ia memilih acuh dan berjalan masuk kedalam kamar mandi. Membersihkan diri rasanya tak buruk juga.
Matanya terpejam saat air shower membasahi dirinya. Dari ujung rambut ke ujung kaki, Lia menikmatinya. Menikmati caranya merindukan hujan karena pada kenyataannya dia ingin melakukannya. Di musim yang salah.
"You okey,kak?" Tanya Jake saat melihat aura Lia agak berbeda. Mudah menebaknya jika diperhatikan dengan baik. Lia tak pintar berbohong, itu sebabnya dia tak mau merespon banyak hal juga.
"Hhmmm..."
"Don't lie..."
Jake mengambil alih portafilter di tangan Lia untuk membuang ampas kopi dan membersihkannya. Sesekali ia melirik, melihat respon seniornya itu yang nampak diam dengan jari mengetuk di meja.
KAMU SEDANG MEMBACA
Just Wanna Be Yours (End)
FanfictionUsia bukan penghalang. Itu yang pemuda itu selalu ingat. Tentu saja motto hidup itu baru tercipta dan hanya berlaku dalam hal percintaannya saja pada sang senior idamannya, Lia.
