Ding dong, bel berbunyi. Pelajaran ekonomi telah usai. Kelas segera lengang, menyisakan ku yang masih mencatat apa yang ada di atas papan tulis.
"Ken, ayo kita ke kantin." Aku melirik, Izuna menunggu ku di sebelahku.
"Tunggu, sedikit lagi selesai, dimana Vinra?"
Izuna tidak menjawab, aku melirik nya.
"Baiklah, ayo kita ke kantin." Meletakkan buku ke dalam tas."Vinra sudah duluan ke kantin, dia tidak ingin kehabisan roti kesukaan nya." Izuna menjelaskan. Aku mengangguk.
Koridor kelas tampak ramai, murid-murid berlalu-lalang, Aku dan Izuna berjalan berdampingan.
"Izuna, mau ke kantin?" Izuna berhenti, menoleh ke belakang.
Aku ikutan menoleh, itu Fina. Teman sebangku Izuna.
"Aku ikut ya." Fina tersenyum. Aku mengangguk.
"Ayo, nanti kehabisan makanan di kantin." Ajak ku, kami kembali berjalan menuju kantin.
Fina dan Izuna asik mengobrol sepanjang jalan. Aku hanya menatap ke depan, melirik-lirik gedung sekolah. Sekolah ini sangat luas. Mempunyai banyak sekali taman yang indah. Yang paling iconik berasa di tengah-tengah area sekolah.
"Ya kan Ken?" Aku tersentak. Fina tiba-tiba bertanya.
"Maksudnya, apa yang kalian bicarakan?" Aku menggaruk kepala yang tidak gatal.
Fina hanya tertawa. Kembali ngobrol dengan Izuna. Aku menatap mereka dengan heran, aneh sekali. Mereka seperti sedang mengejek ku. Sudahlah, apa peduli ku.
Kami telah tiba di kantin. Langit-langit kantin penuh dengan gema suara ocehan para siswa. Aku berpisah dengan Izuna dan Fina. Aku ingin memesan pisang coklat. Aku hari ini tidak lapar, hanya ingin sedikit cemilan manis.
"Pak, saya mesan satu porsi." Mengacungkan jari telunjuk ku. Pak Panolir-pedagang yang berjualan di sekolah ku, dengan cekatan membuatkan pesanan ku.
"Ken, kau jajan apa?" Vinra datang merangkul ku. Tangan nya memegang es krim.
"Kau darimana?" Aku melepas rangkulan nya.
Vinra menyenggol. "Aku habis di tembak sama adek kelas." Berbisik di telinga ku.
Aku menatap nya, Vinra tertawa lepas.
"Kau habis kasih cairan apa, gak mungkin cewe mau nembak seorang brandalan seperti mu." Aku mengejek.
"Kau jangan iri, aku tahu bahwa kau sebenarnya memuji ku." Vinra kembali tertawa.
Aku menatap nya sinis. Untuk orang seperti dia, mungkin sih ada yang suka. Rambut hitam bergelombang, mata berwarna emas yang menyala, dan wajah nya yang masih babyface. Apalagi dengan gelar nya yang kekanakan, Sang tak terkalahkan. Aku selalu ingin tertawa jika ada orang yang manggil Vinra dengan sebutan itu.
"Nih mas, pesan nya."
"Terima kasih." Aku memberikan uang. Aku dan Vinra berjalan bersama.
"Kau mau kemana?" Tanya Vinra, menoleh kepadaku.
"Aku ingin ke kelas-"
Vinra telah menarik tangan ku.
"Mau kemana?" Aku melepas tangan ku dari nya.
"Ayo ikut aku, ada sesuatu yang ingin ku beri tahu kepada kau." Wajah Vinra menjadi serius.
Aku mengikuti langkah Vinra dari belakang. Pikiran ku kemana-mana, apa dia ingin bertarung lagi? Tapi, kenapa harus ajak aku. Dia sendiri cukup untuk mengalahkan semua nya.

KAMU SEDANG MEMBACA
Initium: One
Teen FictionNamaku ken -Ashira Ken. Aku hidup berdua dengan Ayah ku. Apakah Ayah ku bekerja? entahlah. Dia jarang sekali ada di rumah. Aku selalu berpikir bahwa dunia ini sangatlah luas. Entah takdir atau memang hal lain, sehingga Aku hanya terkekang di kehidup...