05 : Lisa

156 12 0
                                        

"LHO?!"

"LHO?!"

"LHOOOOOOO?!!!!!"

Jennie memekik kaget sekaligus terheran - heran saat nyawanya sudah terkumpul menyadari jika ia berada diatas ranjang dengan jarum jam di dinding menunjukkan hampir pukul 6 pagi.

Ia menepuk - nepuk dan mencubit pipinya sendiri yang ternyata sakit menunjukkan ia tidak tengah bermimpi.

Sementara itu Jiwon yang mendengar teriakan karena pintu kamar Jennie memang terbuka sedikit sejak semalam lansung saja ia cepat - cepat menghampiri sang anak.

"Kenapa Nini? Ada apa kok teriak - teriak?"

"Ma, kok Nini tiba - tiba udah ada disini aja? perasaan semalem Nini masih di mobil Kak Lisa. Terus itu jam nya rusak apa gimana? masa udah pagi aja?" Tanyanya bertubi - tubi, nampak sangat kebingungan

Jiwon menghela nafasnya lega, ia pikir anaknya ini kenapa bisa pagi - pagi begini.

"Ga tiba - tiba kok. Nini semalem tuh ketiduran jadi Lisa yang gendong Nini sampe ke kamar."

"HAH?!"

Mata kucing Jennie membulat, pipi chubbynya juga merah merona mendengar perkataan sang ibu jika ia digendong kakak kelasnya itu.

Jiwon tersenyum sembari duduk disamping sang anak. Tangannya terangkat mengusap pucuk kepala Jennie sambil berkata, "Kamu kemarin kecapekan banget ya, Nini? biasanya kamu tuh denger suara dikit udah lansung kebangun tapi semalem kamu tidurnya kayak orang mati tau ga? Sampe mama gantiin baju kamu aja ga kebangun."

Jennie menganggukkan kepalanya, "Iya, ma. Kemarin tuh sibuk banget, terus kegiatan OSIS juga udah mulai jalan."

"Oh pantes. Mama liat - liat juga kamu sekarang makin kurusan, makan kamu ga teratur pasti. Kamu jangan terlalu memporsir diri kamu, Nini. Mama sedih kalo liat kamu gini."

"Enggak, ma. Nini gapapa kok, jangan sedih." Jennie lansung menggenggam tangan sang ibu.

"Nini jangan terlalu khawatirin beasiswa, Nini. Hutang rumah sakit papa kan sekarang udah lunas, Mama sanggup kok bayar biaya sekolah Nini kalo beasiswa Nini ga diterusin tahun depan. Mama juga kan Guru disana, SPP nya dapet diskon 15% juga."

"Iya, ma. Gapapa, Nini belajar karena Nini suka. Nini bisa kok nerusin beasiswa. Uangnya buat masuk tabungan aja. Mama juga bilang kan nanti mau buka toko roti sendiri kalo dana nya udah cukup."

Jiwon menghela nafasnya karena anaknya satu ini selalu bilang tidak apa - apa dan masih tidak mau terbuka. Jennie bahkan tidak sama sekali menceritakan keluh kesahnya.

"Nini kalo misalnya ada apa - apa disekolah atau diluar sekolah cerita sesekali sama Mama ya? Mama juga mau dengerin cerita Nini. Mama udah ga pernah lagi denger keluh kesah Nini."

"Iya, ma. Nini ga cerita ke mama karena Nini baik - baik aja disekolah maupun diluar." Balas Jennie, tentu saja ia berbohong agar tidak menjadi beban pikiran sang ibu.

"Yaudah kalo gitu, tapi mama sesekali juga pengen denger cerita apa aja yang keluar dari mulut kamu ya, Nini? Sesekali cerita ke mama ya walaupun itu cuma hal - hal kecil. Ya, sayang?"

Jennie menganggukkan kepalanya, "Iya, ma."

"Tapi nini ga janji...." Lanjutnya dalam hati.

Cup!

Jiwon mencium lembut dahi anaknya. "Mama siapin sarapan buat kita dulu."

"Biar Nini bantuin, ma."

"Gausah, Nini mandi, siap - siap aja buat ke sekolah."

My Roman EmpireCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang