*ting Terdengar suara notifikasi line dari handphone Nara, Nara yang sedang berlatih dance di kamar nya segera mengecek notifikasi tersebut.
"Ga.. ga mungkin.." -batin Nara
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Betapa terkejutnya Nara melihat notifikasi line dari Archen, ia segera membuka notifikasi tersebut, lalu bergegas mengambil kunci motornya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Selama di perjalanan ia terus memikirkan nueng, semua momen-momen yang mereka lalui bersama tiba-tiba terlintas di pikirannya. Tak di sadari, air mata nya telah mengalir deras hingga membasahi helm fullfacenya.
Sesampainya di rumah sakit, ia segera berlari menuju resepsionis untuk bertanya dimana kamar milik Nueng. Setelah diberitahu, ia langsung berlari kearah kamar yang di tempati Nueng. Saat ia membuka pintu kamar tersebut, ia mendapati sesosok pemuda yang telah terbaring kaku.
Archen yang menyadari sahabatnya itu telah masuk pun segera memeluknya, padahal saat ini ia sama hancurnya dengan Nara.
Nara membuka kain putih yang menutupi wajah manis Nueng yang telah pucat. Sungguh, ia tak sanggup melihat wajah Nueng yang ia sayangi sekarang pucat dan kaku.
• • • • •
-Keesokan harinya, di kuil-
Ia bersama Archen, om Jirat, dan pak Pirapat serta kekasihnya (kak Mixxiw) telah sampai di kuil, mereka sedang menyaksikan proses kremasi Nueng. Nara terus menerus menangis, ia memeluk foto orang yang paling ia sayangi yang telah di bingkai. Hancur, satu-satunya kata yang dapat menggambarkan bagaimana perasaan seorang Nara saat ini. Betapa menyesalnya ia baru membalas cinta Nueng selama 3 bulan terakhir ini, ia tak pernah berfikir kekasihnya akan meninggalkannya secepat ini. Selama 3 bulan, ia mencintai Nueng dengan tulus. Selama 3 bulan pula ia tak pernah menyakiti hati Nueng, ia selalu memberikan yang terbaik pada Nueng.
"Kenapa.. kenapa secepat ini kamu pergi sayang.." "sayang.. tolong bilang ini semua hanya mimpi.." "Nara ga sanggup hidup tanpa kamu sayang.. maaf, maafkan Nara sayang.. tolong kembali.." Begitulah isi hati Nara selama proses kremasi Nueng berlangsung. Archen yang mengerti bagaimana perasaan temannya itu hanya bisa merangkul bahu Nara, walaupun ia sama hancurnya dengan Nara. Begitu pula dengan om Jirat, ia paham betul bagaimana perasaan ponakannya itu, ia adalah salah satu saksi bagaimana Nara mencintai Nueng selama 3 bulan terakhir ini, ia juga yang membantu Nara menyadari perasaannya pada Nueng.