Di suatu ruangan yang dipenuhi lukisan dan bau khas cat yang menusuk hidung, duduk seorang pria manis dengan seragam kampusnya yang sudah sedikit kotor terkena cipratan warna. Nueng sedang khusyuk mengoleskan kuas ke atas kanvas putih miliknya. Tangannya bergerak pelan, presisi, mengikuti alur sketsa yang sejak pagi ia gambar sendiri. Mata bulatnya fokus, dan alisnya sedikit berkerut karena serius.
Suasana damai itu tak bertahan lama.
"SAWADIKHRAAPP!" seru Fourth keras sekali, sampai gema suaranya seperti menggoyang kaca di ruang seni itu.
Satang muncul di sampingnya, memberi salam jauh lebih tenang, "Watdikhap Nueng."
"Ee watdikhap watdikhap," balas Nueng sambil menurunkan kuasnya dengan napas pasrah.
Fourth baru saja duduk saat tiba-tiba...
*Plak.
Sebuah tepukan mendarat di tengkuk milik Nueng.
"Ai shia Fott, harus banget ya ngagetin aku gitu?!" tatapan kesal Nueng sudah sangat khas, seolah itu bahasa tubuh resminya saat berhadapan dengan Fourth.
*plak
Tentu saja Nueng tidak hanya diam, ia membalas dengan cara yang sama kepada Fourth.
"Ohoo Nueng!, sakit tau," protes Fourth sambil meringis.
"Ya siapa suruh ngagetin aku." Nueng mendelik.
"Kamunya aja kali yang kagetan, suara aku gak segede itu deh," ucap Fourth cuek. Ia menyenggol Satang dengan ekspresi cari pembelaan. "Yakan, Sat?"
*Plak.
Satang ikut menepuk tengkuk Fourth, kali ini dengan penuh dendam pribadi. "Hem, rasain tuh. Aku udah bilang aku gak suka dipanggil Sat."
"OHOOI kalian kok tega sih sama makhluk imut gak berdosa kayak aku," ucap Fourth manja, suaranya dibuat cempreng seolah ingin dikasihani.
Nueng geleng-geleng melihat dua bocah kosong itu. "Udah please, aku capek denger kalian ngebacot. Kalian ke sini mau ngapain sih? Mau ngerjain tugas?"
"ngga Nueng, kita mau ngajak kamu makan siang di kafe depan kampus. Tadi kita sarapan di sana, enak banget anjir, ya kan Fott?" ujar Satang penuh semangat.
Nueng sempat melamun sejenak, pikirannya melayang pada kejadian pagi tadi—saat ia menyerahkan bekal kepada seseorang yang telah mencuri perhatiannya diam-diam. Wajah Nara terbayang jelas di benaknya.
"Kira-kira bekalnya udah dimakan belum ya? Dia suka nggak ya sama sambel cumi buatan aku?" batinnya.
Tak sadar, Nueng senyum-senyum sendiri. Hal itu jelas tak luput dari mata tajam dua sahabatnya.
"Kamu kenapa sih, Nueng? Nggak jawab, malah senyum-senyum sendiri. Kamu lagi suka sama siapa? Atau... udah punya pacar tapi nggak mau cerita ke kita?" tanya Fourth, menyipitkan mata curiga.
Nueng salah tingkah, buru-buru bangkit. "Eh ngga lah, apaan sih. Yaudah ayo ke kafe."
"GASSS!" teriak Fourth dengan suara toa khasnya.
*Di kafe depan kampus*
Sementara itu, Archen dan Nara sudah lebih dulu duduk di salah satu meja, menunggu pesanan mereka. Nara mengenakan hoodie oversize hitam, lengkap dengan masker duckbill yang sepertinya sudah tertanam di wajah tampannya itu.
"Panas banget anjing, nggak sanggup gue, Chen," keluh Nara sambil ngelap keringat.
"Ya mau gimana, lo sekarang udah terkenal. Fans lo banyak. Mau dipaparazziin diam-diam?" sahut Archen.
KAMU SEDANG MEMBACA
I will never be him. ||PondPhuwin|| ||Joongdunk||
RomanceJangan terkecoh sama judul dan sampul ceritanyaa, alurnya ga seberat itu kokk coba ajaa baca duluu
