Pagi itu matahari bersinar cerah, menembus sela-sela gorden kamar seorang pemuda bernama Nara. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 08.00, tapi sosok tinggi berparas tampan itu masih terlelap di atas kasur empuknya. Tak ada yang mengusik, hingga suara klakson mobil membahana di depan rumahnya.
Berulang kali suara itu terdengar, keras dan menyebalkan. Nara hanya mengerang pelan, menggulung tubuhnya dengan selimut. Ia tahu persis siapa yang datang—Archen, sahabatnya yang paling cerewet sejagad raya. Biasanya, ia akan tetap santai karena yakin Om Jirat, pamannya, akan segera keluar dan memarahi Archen karena ribut di pagi hari. Namun hari ini... klakson itu tak juga berhenti.
Nara mendadak teringat sesuatu. Malam sebelumnya, Om Jirat sempat berkata akan berangkat ke luar kota pagi ini.
"Sial," gumam Nara setengah sadar.
*Riingg riingg
Ponselnya berdering tanpa henti. Archen lagi. Belum sempat ia angkat, deretan notifikasi LINE masuk bertubi-tubi. Spam chat dari Archen sudah jadi makanan sehari-hari.
Dengan malas, Nara menggulirkan layar dan membalas satu-dua chat seadanya. Setelah itu, ia bangkit, berjalan lesu ke kamar mandi untuk cuci muka dan gosok gigi. Tidak, ia tidak berniat mandi. Ia hanya berganti baju seadanya, menyemprotkan parfum Versace kesayangannya, dan merapikan rambutnya sekadarnya.
Turun dari tangga, ia langsung keluar dan masuk ke mobil Archen yang sedari tadi menunggu di depan pagar.
“Sawatdi khap phi,” sapa Nueng manis dari kursi belakang, menyatukan kedua telapak tangannya dengan sopan.
“Watdikhap Nueng,” balas Nara sambil tersenyum, menirukan gerakan yang sama.
“Lo kenapa sih jemput gue pagi-pagi gini, Sat?” tanya Nara sambil menyandarkan kepala ke sandaran kursi.
“Lo lupa lagi? Kita ada jadwal latihan pagi ini, tolol. Otak lo isinya cuma Jaehyun sama Gojo ya?” balas Archen dari kursi kemudi dengan nada nyebelin.
“Masa sih? Perasaan nggak ada deh. Lo kali yang ngelantur,” sahut Nara enteng.
“Makanya kalau punya HP tuh dipake. Lo nggak baca isi grup chat semalam?”
“Oh iya... yaudah sih, lupa dikit juga,” balas Nara sambil nyengir cuek.
Perjalanan mereka berlangsung dalam keheningan. Tak ada yang bersuara, hanya musik pelan dari speaker mobil yang mengisi suasana. Begitu sampai di depan kampus Nueng, anak itu buru-buru turun dari mobil dan menghampiri jendela sisi penumpang depan. Ia mengetuk pelan.
Nara membuka jendela, menatap Nueng dengan bingung. “Kenapa, Nueng? Ada yang ketinggalan?”
“Enggak, phi. Ini Nueng mau kasih ini buat phi. Semoga suka ya,” ucap Nueng sambil menyodorkan sebuah tas kain kecil berwarna hijau tosca.
Nara menerimanya, tersenyum kecil. “Eh, apa ini? Makasih ya, Nueng. Nanti phi makan deh buat sarapan.”
Nueng hanya mengangguk pelan, lalu buru-buru berlari meninggalkan mobil. Pipinya sedikit memerah. Archen yang duduk di sebelah Nara hanya bisa menghela napas dan menggeleng pelan. Ia tahu adiknya itu menyukai Nara, dan jelas sekali Nara belum sadar.
Nara membuka kotak bekal dalam tas kain itu. Aroma masakan menyebar cepat di dalam mobil. Tanpa ragu, ia menyendok satu suapan. Matanya langsung membelalak.
“Anjir, masakan adik lo enak banget, gila. Jadi pengen tinggal sama lo,” ucap Nara sambil terus mengunyah.
“Lah, kenapa malah pengen tinggal sama gue, njing. Nambah beban bokap gue aja,” balas Archen datar.
“Biar gue bisa makan masakan Nueng tiap hari,” sahut Nara, masih santai.
“Gue aja nggak pernah nyicip masakan Nueng.”
“Serius? Padahal enak banget, jir.”
“Yaudah sih, bacot banget lo. Kalo enak mah makan, nggak usah banyak gaya.”
Di Ruang Dance
Mereka tiba di gedung tempat latihan. Ruangan itu luas dan berlapis cermin, tempat biasa mereka berlatih koreografi. p'Tawan, pelatih mereka, sudah berdiri di tengah ruangan dengan tangan terlipat.
“Aw phi, watdikhap,” sapa Nara sambil membungkukkan badan sedikit.
“Watdikhap phi, phi udah lama nunggu kami?” sambung Archen sopan.
“Watdikhap,” sahut p'Tawan agak kesal. “Udah hampir setengah jam phi nunggu kalian. Kalian dari mana aja?”
“Ini phi, susah banget bangunin kebo yang di sebelah gue,” kata Archen sambil nyenggol Nara.
“Khoo thoot na, phi, gue semalam begadang buat latihan dance,” ucap Nara dengan wajah memelas.
“Alah, alasan klasik. Lo mah tiap hari susah bangun,” potong Archen cepat.
“Udah-udah, ayo mulai. Hari ini kita latihan ‘Hit Me Up’, ya,” kata p'Tawan akhirnya.
“Khap phi,” jawab mereka bersamaan sambil mengambil posisi masing-masing di lantai.
Latihan pun dimulai, dan hari itu berjalan seperti biasa. Tapi ada senyum kecil yang tak henti muncul di wajah Nara, tiap kali mengingat bekal hijau tosca dan wajah malu-malu Nueng pagi tadi.
akuu ngetik ulang chapter ini guys, karena setelah membaca ulangg aku ga puas sama cara pengetikkan aku di chapter ini sampai chapter ini sampai.. chapter 5—yang akan aku ketik ulang juga, sesuai dengan cara pengetikkan aku yang sekarang, hehe.
tapi tenangg plot nya tetap samaa kokk, tapi kalau kalian yang sudah baca mau baca ulang—BOLEH BANGETT YAAA!!
tekan tombol vote nya yaa 🩷
see u next chapter~
hope you like it! 🫶
KAMU SEDANG MEMBACA
I will never be him. ||PondPhuwin|| ||Joongdunk||
RomantikJangan terkecoh sama judul dan sampul ceritanyaa, alurnya ga seberat itu kokk coba ajaa baca duluu
