2. Tatapan Athar

160 87 9
                                        

Hallo semuanya! Aku update malam malam gini, karna gabut kebetulan banget ada waktu jadi yah, aku lebih milih nulis aja🌷

Jangan lupa vote, komen dan follow ya!

Jangan lupa vote, komen dan follow ya!

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.



Hari pertama di SMA Harapan Jaya tiba lebih cepat dari yang Alya harapkan. Ia berdiri di depan gerbang sekolah baru itu, menarik napas dalam. Sekolah ini tampak lebih besar, lebih megah, dan entah kenapa terasa lebih asing dibanding yang ia bayangkan.

"Lo nggak usah pasang muka kayak mau masuk kandang singa," suara Reza terdengar dari sampingnya.

Alya mendengus. "Bodo."

Mereka berjalan ke arah lobi, di mana seorang guru sudah menunggu. Guru itu tersenyum ramah.

"Kamu Alya, ya? Selamat datang di SMA Harapan Jaya. Saya Bu Rina, wali kelas kamu. Ayo, saya antar ke kelas."

Alya mengikuti Bu Rina dengan perasaan campur aduk. Setiap langkah terasa berat, sampai akhirnya mereka berhenti di depan sebuah kelas.

Bu Rina mengetuk pintu, lalu masuk ke dalam. "Anak-anak, kita punya murid baru hari ini. Silakan kenalkan diri kamu."

Alya menarik napas, lalu maju ke depan kelas.

"Halo, aku Alya. Baru pindah ke sini. Semoga kita berteman baik."

Beberapa anak langsung berbisik-bisik, sementara yang lain hanya menatapnya.

Bu Rina tersenyum. "Alya, kamu bisa duduk di bangku kosong di sebelah Athar."

Alya mengedarkan pandangan dan akhirnya melihat seorang cowok dengan seragam sedikit berantakan, duduk dengan posisi santai sambil memainkan pulpennya. Tatapan matanya tajam, tapi ada sedikit ketertarikan saat melihat Alya berjalan ke arahnya.

Alya duduk tanpa banyak bicara, lalu mengeluarkan bukunya. Tapi sebelum ia sempat membuka halaman pertama, suara malas dari sampingnya terdengar.

"Anak baru, ya?"

Alya melirik. "Ya, kelihatan banget, kan?"

Athar menyeringai kecil. "Jangan terlalu serius. SMA ini nggak seburuk yang lo kira."

Alya menaikkan alis. "Lo sotoy banget, sih. Kita bahkan baru kenal."

DIANTARA DOA DAN HARAPAN  Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang