Pagi ini Jasmine berangkat sekolah di antar Isaac.
"Inget, bekal dari kakak harus di makan," ucap Isaac mengingatkan Jasmine, adik bungsunya itu akhir - akhir ini sangat padat jadwalnya. Pamela pernah meminta bantuannya untuk menegur Jasmine, agar gadis itu tidak lupa dengan kesehatannya sendiri.
"Iya abang, adek masuk dulu ya?" Jawab Jasmine lalu mencium punggung tangan kanan kakak sulungnya.
Isaac walaupun sudah berkeluarga tetap tidak ingin melepas tangannya pada adik - adiknya. Ia selalu berpikir bahwa tanggung jawab anak sulung harus ia emban, meskipun mungkin akan sedikit 'repot' saat nanti Chèrie sudah hamil.
Jasmine keluar dari mobil Isaac, berjalan santai sambil membalas sapaan adik kelas kepadanya seperti biasa.
Jasmine sungguh tidak menyangka, akan datangnya hari seperti ini. Dimana ia di segani, tidak ada yang berani kepadanya apalagi merendahkannya. Bukan ingin sombong karena identitasnya sebagai Pramoedya, akan tetapi Jasmine sangat bersyukur akan hal itu.
Jika dulu Jasmine harus sampai mengemis demi mendapat teman, walau berujung di injak alih - alih mendapatkan teman yang ia impikan. Sekarang dunia telah berbalik, Jasmine hanya diam dan orang di sekitarnya yang akan mendekatinya.
"Merasa cantik lo?" Sindir seseorang di balik tiang tidak jauh dari posisi Jasmine berdiri.
"Kak Jasmine emang cantik," jawab adik kelas yang bernama Julian, cowok berkacamata.
Jasmine mencegah Julian, saat cowok itu akan mengejar langkah siswi yang hanya membalasnya dengan kekehan dan pergi begitu saja.
Jasmine tahu, dia Rianti. Entah apa yang akan gadis itu lakukan, tapi Jasmine merasa Rianti akan membuat masalah dengannya.
"Kakak ke kelas aja," ucap Julian memerintah, Jasmine pun tertawa kecil lalu mengangguk.
Pesona adik bungsunya Isaac, adik kelas yang di kenal culun pun bisa bergerak dengan instingnya.
Jasmine berjalan di lorong sendirian, ia memikirkan apa yang bisa Rianti lakukan. Meskipun Jasmine bukan lagi gadis SMP yang ketakutan dan gemetaran, tapi tetap saja Jasmine malas kalau harus berurusan dengan perundungan lagi.
Juga sebagai Ketua OSIS, Jasmine mempunyai tanggung jawab untuk menertibkan sekolah. Ia tidak ingin di masa jabatannya atau di masa ia bersekolah, akan mengalami kejadian yang serupa dengan di masa lalunya. Ia tidak ingin menghiasi masa sekolahnya dengan keburukan.
Selama ini, Jasmine sudah berjuang untuk terus tumbuh. Tidak mungkin jika Jasmine kali ini harus kalah lagi.
"Ngelamun mulu, kaki lo tuh angkat. Gak gatel apa?"
Jasmine menoleh, ada Keandra yang berdiri dua langkah di belakang dengan menggendong ranselnya. Keandra menunjuk kaki Jasmine dengan dagunya.
"OMG!" Pekik Jasmine tertahan, ia melipat bibirnya ke dalam dan memejamkan matanya.
Perlahan, ia mengangkat kaki kanannya yang masuk ke tempat sampah. Sedikit kotor.
"Makanya fokus," ucap Keandra kembali menegur, cowok itu tidak ada tanda - tanda ingin beranjak. Ia memperhatikan Jasmine yang berjongkok membersihkan sepatu dan kaos kaki putihnya yang terkena noda sampah.
Setelah selesai, alih - alih mengucapkan terima kasih pada Keandra, Jasmine hanya melirik sebentar dan segera masuk ke kelasnya. Ada beberapa adik dan kakak kelas memperhatikan keduanya.
Keandra pun terus mengikuti Jasmine hingga gadis itu duduk di bangkunya, kedua tangan Keandra baru akan mengukung tapi sorot tajam mata biru Jasmine mengurungkan niatnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
LOVE LANGUAGE [ END | REVISI ]
Novela Juvenil[ SEASON II | J Edition ] Setelah semua sakit, bukankah seharusnya terbit senyuman; seperti pelangi yang hadir sehabis hujan turun? Namun, hidup mu dalam kehidupan ini tidak berjalan dan tidak berhenti hanya karena kamu menginginkannya. Tuhan adalah...
![LOVE LANGUAGE [ END | REVISI ]](https://img.wattpad.com/cover/370326240-64-k856950.jpg)