{ R I T M E }
Ethan melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya, tubuhnya bersandar pada sisi mobil menunggu bel pulang sekolah Melodya yang seharusnya telah berbunyi 10 menit yang lalu.
Melodya tak memberi kabar jika sekolahnya akan ada kegiatan tambahan, jadi mungkin saja sebentar lagi akan terdengar dering bel yang biasanya cukup memekakkan telinga hingga dapat terdengar dari luar gerbang sekolah.
Pikiran Ethan terpecah sesaat setelah merasakan ponsel di dalam saku celananya bergetar, jemarinya perlahan merogoh kantong saku dan melihat kontak panggilan masuk di layar ponselnya.
Dengan segera dirinya menjawab panggilan masuk itu setelah melihat nama Erlangga tercantum di dalam layar. Tangannya terangkat mendekatkan ponsel persegi itu pada daun telinganya.
"GPS udah mulai jalan, Than. Lo dimana?"
Ethan berdecak mendengar itu. "Oke kerja bagus. sekarang gue lagi jemput Ody, tapi ini sekolah kayaknya belum ada minat buat pulangin muridnya, jadi lo handle dulu ya bro."
"Emang Ody nggak kasih kabar apapun kalau bakal pulang telat?"
"Nggak, paling juga bentar lagi kelar."
Kepala Ethan terangkat saat mendapati pagar sekolah terbuka bersamaan dengan beberapa murid yang mulai berhamburan keluar. Di tengah itu ia menangkap Melodya tengah asik berjalan keluar bersama teman-temannya.
"Udah dulu, yang di omongin panjang umur." Ucapnya seraya menutup panggilan itu dan menegapkan tubuhnya.
"Abang!" Pekik Melodya melambai dari kejauhan. "Eh Vel, abang gue tuh. Duluan ya!"
Melodya menghampiri Ethan dengan kedua tangannya yang menggenggam tali tas ransel di sisi kanan dan kiri lalu berlari kecil.
Lengan Ethan refleks terangkat menahan dahi adiknya yang hendak berada terlalu dekat dengannya, "Apa sih bocah, gue berdiri disini hampir 25 menit asal lo tau."
"Hish!" Geram Melodya menyingkirkan telapak tangan Ethan dari dahinya, "listrik sekolah tuh padam, jadi otomatis bel nggak bunyi. Di enak-enakin tuh guru ngajarnya."
"Hm.." gumam Ethan mengangguk pelan. "Udah ayo pulang."
"Ih udah? masa mau pulang gitu aja?"
Kedua kaki Melodya sedikit berjinjit untuk dapat melihat Ethan yang sudah berada di sisi pintu kemudi.
"Besok lo masih sekolah, weekend aja lah kalau mau kemana-mana."
Bibir Melodya kembali membentuk kerucut menanggapi balasan kakaknya. Jemarinya ikut menarik tuas pintu dan duduk di samping Ethan.
"Ah nggak asik, gue tuh pengen—"
Bibir ranumnya terbuka menggantung kalimatnya saat melihat red velvet minuman favoritnya tersedia di cup holder dasboard. Mata hazelnut Melodya berbinar. Dengan cepat ia meraih gelas itu dan memeluknya seakan jika tidak minum itu akan direbut oleh seseorang.
"Buat gue!?"
Ethan mulai melajukan mobilnya sembari terkekeh melihat reaksi Melodya dengan apa yang sudah ia siapkan.
"Emang buat siapa lagi?"
"Iya buat gue lah! Tumben baik banget? aaah makasih bang Eth!"
Ethan hanya tersenyum dan tetap terfokus pada lalulintas dihadapannya, di jam seperti ini memang sebagian daerah akan mengalami kemacetan yang luar biasa melelahkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Thread of Truth
Teen Fiction"Hey. if everyone say no, i will always say yes, Melodya." Ini tentang Melodya Hanindita, seorang anak yang hanya tinggal berdua dengan sang kakak- Ethan Hanandra disaat umurnya menginjak 13 tahun. Ethan benar-benar menyayangi adiknya dan mendukung...
