{ O N E W A Y }
- Vol. 2 -
Mata Melodya memicing memperhatikan setiap lembar halaman buku menu.
Benar, setelah menyetujui ajakan Erlangga. Kini mereka berdua telah berada di tempat makan yang bisa dibilang lokasinya cukup strategis.
Dari mana Erlangga bisa mengetahui tempat makan seperti ini? Apakah ia sering berkeliaran di sekitar sini?
"Uhm.. buat minumannya-"
"Red Velvet."
Dengan cepat Melodya mendongakkan kepalanya menatap Erlangga dihadapannya.
"Bener 'kan?"
Melodya mengangguk ragu, ia bingung bagaimana Erlangga bisa mengetahui isi pikirannya?
"Kalau gitu minumannya red velvet sama matcha satu."
Setelah selesai mencatat seluruh pesanan, waiter itu beralih pergi.
"Kok lo bisa tau gue mau pesen itu?"
"Lo pikir dari mana gue bisa tau minuman yang biasa lo pesen kalau bukan orang dalemnya sendiri yang ngasih tau?"
"Bang Ethan?" Erlangga mengangguk.
Sialan, apa saja yang diceritakan makhluk itu pada teman-temannya selama ini? Maki Melodya dalam hati.
Melodya berdeham pelan. "Kalau abang cerita yang aneh-aneh lupain aja."
"Nggak ada yang aneh menurut gue, asal lo tau dia selalu muji lo di setiap kesempatan."
Sebelah alis Melodya terangkat, "yang kayak gimana?"
"Tanyain aja sendiri."
Mendengar balasan itu membuat Melodya berdecak ringan. Apa yang ia harapkan?
"Matcha satu, Red Velvet satu. Untuk minum sudah lengkap ya kak."
Masing-masing gelas diantarkan pada sisi yang berbeda. Waiter itu tersenyum memberikan pelayanan ramah sebelum kembali berjalan untuk mengantarkan pesanan pada meja lain.
Mata hazelnut itu melirik gelas milik Erlangga. Ternyata apa yang dikatakan Ethan benar adanya, ia pikir sosok Erlangga yang menyukai matcha itu hanya candaan belaka membuat Melodya sedikit tertarik mengangkat topik yang ada di dalam kepalanya.
"Gue pikir lo bakal pesen americano atau semacamnya? Ternyata matcha."
"Kenapa lo bisa berasumsi gitu?"
Dagu Melodya bertumpu pada telapak tangannya, terlihat berpikir. "Cuma nebak aja-" ia memberi jeda.
"Kantong mata lo agak gelap tipe orang suka begadang, terus lo keliatan galak, biasanya yang galak-galak suka kopi sambil ngerokok."
Penjelasan Melodya langsung menarik gelak tawa, pupil mata Melodya melebar melihat tawa Erlangga yang menurutnya jarang sekali terlihat.
"Gue bukan perokok, gue juga nggak bisa kena kopi yang terlalu strong karena ujung-ujungnya bakal tumbang dan satu lagi-"
Ditatapnya kedua mata Melodya. "Tanpa kopi, gue emang ada kesulitan tidur waktu malem."
"Insomnia?" Tanya Melodya.
Bahu Erlangga hanya terangkat sebagai jawaban.
"Ngomong-ngomong abang lo pasti nanyain soal ini. bilang kalau habis ambil rapor gue langsung anter lo pulang."
"Kenapa gitu?"
"Intinya bilang aja kayak gitu. Abang lo penganut yang bisa ngajak adeknya keluar cuma dia. "
Melodya terkekeh geli, "mana ada sih."
- - - - -
Riuh tepuk tangan memenuhi aula, memberi apresiasi pada pengisi materi diatas podium yang mengangkat pemuda kreatif bangsa.
"Luar biasa nak Hanandra."
Ethan yang baru saja turun dari podium langsung mendapat sambutan dari pria paruh baya yang dikenalnya sebagai pendana beasiswa terbesar.
"Terimakasih, saya hanya menyampaikan materi yang ada." Sudut bibir Ethan terangkat membentuk senyum yang biasa dilakukan dalam bisnis.
Telapak tangannya menyambut sodoran jabatan tangan pria itu. Bentuk mata Ethan membentuk bulan sabit bersamaan dengan senyumnya, diliriknya pulpen yang tersemat di beberapa saku tamu penting disini. Seluruh rencana yang telah disusun berjalan sukses, Gentala berhasil dengan tugasnya menyelipkan pulpen yang sudah dimodifikasi, sedangkan saat ini- Ethan telah berhasil menarik perhatian ketua pendana beasiswa dihadapannya sesuai harapan. seluruh mata terarah padanya.
"Saya dengar beberapa nama mahasiswa beasiswa yang aktif, dan ini pertama kalinya saya melihat peran mu dengan mata saya sendiri."
Pria itu menepuk pundak Ethan seraya melangkah melewatinya. "Lanjutkan prestasi mu."
Ethan melirik dari sudut matanya, memperhatikan satu persatu dari petinggi yang ada. Sebenarnya siapa dari salah satu mereka yang menjadi impostor? Lambat laun musuh menyembunyikan baunya, pasti akan terasa juga. Biar waktu yang akan menentukan dan mereka hanya akan membuka jalan.
- - - - -
Ctick
Ruangan yang awalnya gelap, kini mendapatkan sorot pencahayaan dari lampu meja belajar Melodya. Dengan tumblr yang ia genggam di tangan kirinya, Melodya menarik kursi dan duduk.
Suasana saat ini sunyi dengan pencahayaan remang-remang. Sorot pandang Melodya lurus menatap keluar jendela kamarnya. Tangannya menyanggah dagu diatas meja, mengerucutkan kening nampak berpikir.
Selama ini Melodya hanya mengenal sekilas teman-teman Ethan, walau Alder, Gentala dan Erlangga sering kali berkunjung ke rumah, yang di lakukan Melodya tak jauh dari menyapa atau hanya berlalu-lalang di sekitar mereka. Melodya maupun Ethan mempunyai dunianya masing-masing hingga tak sempat bagi Melodya untuk bergabung lebih jauh.
Tetapi hari ini berbeda. Obrolan ringan dengan Erlangga membuatnya sedikit mengubah perspektif sudut pandangnya. Erlangga terlihat cuek jika tidak terlalu mengenalnya. Topik yang Melodya bawa sangat mudah mengalir jika bersamanya walau terkadang respon yang di berikan cukup singkat.
Apakah ia perlu mendekat pada teman-teman kakaknya untuk mengenal lebih dalam sisi dari mereka yang belum pernah terlihat oleh Melodya sebelumnya?
Tentunya ia juga dapat mencari tau sudut lain dari dunia perkuliahan dari mereka.
Bibirnya membentuk kerucut, menyeruput air dingin dalam tumblrnya. Berbicara tentang perkuliahan, ia jadi teringat Ethan.
Apa yang tengah dilakukan kakaknya hari ini? Arah jarum jam dinding telah menunjukkan pukul 9 malam, hingga saat ini Melodya masih tak kunjung mendapat kabar dari Ethan.
Helaan napas terdengar berat mengisi sunyi ruangan. Ia telah memulai kegiatannya sejak pagi, membuat kelopak matanya terasa berat saat ini.
Lihat saja nanti, ia akan marah sepanjang hari pada Ethan. Pikirannya.
Setelah termangu beberapa saat, Melodya beranjak mematikan lampu dan melemparkan tubuhnya ke atas ranjang sebelum terlelap.
To Be Continued
See u next chapter!
KAMU SEDANG MEMBACA
Thread of Truth
Teen Fiction"Hey. if everyone say no, i will always say yes, Melodya." Ini tentang Melodya Hanindita, seorang anak yang hanya tinggal berdua dengan sang kakak- Ethan Hanandra disaat umurnya menginjak 13 tahun. Ethan benar-benar menyayangi adiknya dan mendukung...
