Thread of Truth : O5

9 3 0
                                        


{ O N E W A Y }
- vol. 1 -

Melodya bersandar pada sandaran kursi di teman belakang sekolahnya. Silau sinar mentari di waktu pagi menjelang siang ini membuat pandangan Melodya sedikit menyipit.

"Nih."

Dari arah kiri gedung sekolah, Leanna datang menyodorkan sebotol minuman dingin lalu duduk di samping Melodya.

"Ucapan terimakasih dari bu Cecilia karena udah bantu masukin kertas nilai."

Melodya mengangguk meraih botol minuman dingin itu lalu meletakkan di pangkuannya.

Pagi ini, walaupun adalah libur pengambilan nilai kebaikan kelas. Melodya bersama dengan beberapa teman sekelasnya datang membantu wali kelas menyusun kertas berisi nilai sebelum nantinya akan diberikan pada orang tua wali murid.

"Udah banyak yang ambil rapor?" 

Leanna mengangguk, "Bisa dibilang setengah dari isi kelas kita udah pada ambil hasil nilainya."

"Tapi gue belum liat abang lo."

Bahu Melodya terangkat, "Telat kali. Bang Ethan pagi-pagi banget udah berangkat, jadi gue berangkat sendiri deh tadi."

"Jadwal kampus emang sepadat itu ya? Jadi takut gue."

"Kalau kata abang gue sih, selama lo enjoy nggak bakal terasa."

Helaan napas berat terdengar, Leanna menatap orang-orang yang berlalu lalang di sekitar sana.

"Lo kerasa nggak sih mataharinya mulai nusuk kulit? Balik ke kelas yuk, kali aja yang lain nyariin kita."

Lengan Melodya terangkat meminta untuk di tarik.

"Na, sumpah gue udah nempel disini."

"Manja lo ini dari mana sih, astaga!"

Dengan cepat Leanna menarik lengan Melodya, keduanya berjalan beriringan menyusuri lorong dengan obrolan ringan sampai mereka berhadapan dengan lelaki tinggi yang sangat Melodya kenal.

"Kelas lo yang mana?"

Mata Melodya mengedip bingung, mengapa lelaki ini ada disini?

"Ody."

Leanna sedikit menyenggol lengan Melodya dengan sikunya agar ia tersadar.

"Oh.. ini kebetulan gue sama temen gue mau ke kelas." Melodya mengedarkan pandangannya, "kenapa lo ada di sini? Bang Ethan mana?"

"Ethan lagi ada urusan, gue gantiin dia ambil hasil nilai lo."

Lelaki dengan mata elangnya itu adalah Erlangga. Wajah itu tak pernah Leanna lihat sebelumnya, ia berpikir kakak sahabatnya itu sudah cukup tampan tetapi ternyata adalah pahatan sang pencipta yang sempurna seperti ini? Melodya, kebaikan apa yang di perbuatnya di masa lalu?

"Ah halo kak? Kenalin gue temennya Ody, kita bareng aja ke kelas yuk?"

Leanna yang merasa keheningan diantara keduanya mengambil alih pembicaraan.

Erlangga melirik Leanna sekilas sebelum menggeser tubuhnya, mempersilakan mereka untuk memimpin jalan.

"Ini sepupu lo, Dy?"

"Bukan, bang Erlangga ini temen deket abang gue."

Balas Melodya tanpa menatap sang empunya nama. Walaupun tak ada masalah apapun, tetapi ia merasa canggung luar biasa karena tak sering berinteraksi dengan Erlangga. Beda hal nya jika itu adalah Alder mungkin ia akan merasa senang. Opsi Gentala juga tidak buruk karena ia adalah orang yang jenaka. Akan tetapi ini Erlangga... Bagaimana caranya menghadapi Erlangga?

"Erlangga? Nama lo keren banget kak, cocok buat lo. Gue suka banget kalau banyak kenalan, mau tuker media sosial nggak kak?"

Leanna mencoba mencairkan obrolan selama mereka menelusuri lorong menuju kelas. Reaksi yang di dapatkannya tak jauh berbeda dengan ekspresi datarnya saat baru bertemu di awal.

Erlangga menggeleng, "gue nggak punya akun pribadi."

"Serius? Padahal wajah lo menjual gini, sayang banget nggak punya media sosial. Orang ganteng emang beda ya."

Melodya menarik sudut bibir kanannya, "sebenernya, kalau hasil nilai gue nggak diambil juga nggak masalah. Lo juga pasti sibuk 'kan bang?"

Langkah Melodya dan Leanna terhenti tepat diambang pintu kelas mereka, Erlangga tak menggubris pertanyaan Melodya dan hanya melayangkan tatapan sebelum masuk ke dalam kelas.

"Kalau lo udah nggak ada urusan lagi— tunggu disini, pulang bareng gue."

Ditatapnya punggung Erlangga yang perlahan menjauh hingga Melodya mendengar pekikan suara Leanna.

"Gila! Kok lo bisa tenang gitu padahal hidup lo di kelilingi cowok luar biasa?"

Ah, mulai lagi.

Melodya memutar bola matanya jengah, tubuhnya bersandar pada dinding menatap Leanna dengan kedua tangan terlipat di depan dada.

"Kebiasaan ah lo, ini lama-lama gue larang lo ke rumah gue ya kalau temen-temen abang gue main."

"Emang lingkar pertemanan abang lo bening semua?"

Kedua bahu Melodya terangkat acuh.

"Ah pelit, ayo kabarin gue kalau mereka lagi ngumpul. Gue saat itu juga bakal langsung secepat kilat sampe rumah lo."

Rengek Leanna sedikit mengguncang lengan Melodya, berusaha membujuknya.

"Males ah, yang ada nanti lo gulung sana gulung sini gara-gara salah tingkah nggak jelas."

"Ih odyy!"

- - - - -

"Congrats, lo masuk peringkat 2 semester ini."

Aku menerima map berwarna merah maroon yang sudah pasti berisi hasil nilai ku selama ini. Pandangan ku terangkat menatap Erlangga yang tengah memasang seat bealtnya.

Berbeda dengan sikap Ethan yang terkadang terlalu menggebu-gebu, Erlangga justru memiliki sikap yang lebih tenang. Ekspresinya juga monoton.

Aku pernah mendengar atau lebih tepatnya menguping tentang desas-desus mengenai Erlangga. Anak tunggal blesteran yang tengah menempuh pendidikan di kampus internasional terbaik. Walau ekspresinya selalu netral seperti itu, tetapi katanya ia mempunyai banyak penggemar dari lingkungan sekitarnya.

Apakah orang-orang lebih menyukai lelaki dingin, dan berlaga sok keren seperti Erlangga dibandingkan lelaki perhatian nan lembut seperti Alder?

Entahlah, mungkin apa yang ku lihat dari sudut pandang diri ku sendiri dengan sudut pandang orang lain bisa saja berbeda.

"Thank you udah mau repot-repot kesini bang Erlangga."

Erlangga menyalakan mobilnya lalu mulai melajunya. "No need. Gue cuma bantu Ethan."

Ku anggukan kepala lalu melempar pandangan pada sekitar. Jujur saja, aku tak tau harus membahas apa dengannya.

"Bentar lagi masuk jam makan siang, mau makan dulu? Gue tau makanan enak di area sini."

Pada awalnya aku sempat ragu, namun jika ku pikirkan kembali bukankah ini kesempatan mengenal Erlangga lebih jauh? Tidak ada salahnya mengenal karakter teman-teman Ethan yang pada akhirnya akan ia anggap kakak juga.

"Gue nggak bakal nolak tawaran bagus."

To Be Continued

See u next chapter minasan!

Thread of TruthTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang