BAB VII

46 3 0
                                        

~Sesilion Brigita Widjaja POV~

Keesokan paginya aku terbangun karena ketukan pintu yang terus terulang, tentu saja aku merasa hal ini sedikit aneh karena semua orang yang sering ke kamar ku akan langsung buka pintu tanpa mengetuk dulu, walau memang itu terlihat tidak sopan tapi itu sudah menjadi suatu kebiasaan bagiku yang memang sejak dulu tidak diperbolehkan untuk sekedar mengunci pintu kamar ku sendiri.

Akhirnya setelah duduk sebentar untuk mengumpulkan nyawaku yang belum seratus persen sadar, aku berdiri dan berjalan kearah pintu untuk membukanya.

Saat pintu itu terbuka betapa terkejutnya aku melihat buket bunga yang sangat besar sampai sampai aku tidak dapat melihat siapa yang sedang membawanya.

"Sil, bantu kakak dong ini berat kamunya lama banget lagi bukainnya." Gerutu kak Kristal dari belakang buket bunga itu.

"Kenapa juga gak di taruh dibawah dulu kak, kan jadi gak berat." Ucapku sambil membantunya membawa buket itu masuk kedalam kamarku.

"Eh, iya juga ya, kenapa kakak gak kepikiran dari tadi." Ucap Kristal sambil tersenyum aneh.

"Ngomong ngomong ini dari siapa kak?" Tanya ku yang mulai penasaran dengan buket di kasurku ini.

"Kakak gak tau tadi kata orang yang ngirim ini dari GH Landak." Ucap kak Kristal yang malah membuatku bingung.

"Apaan tu GH Landak?" pikirku sampai sampai aku tak sadar jika aku mengerutkan dahi ku dan itu cukup menarik perhatian kak Kristal. Hingga kurasakan tangan nya menyentuh dahiku, saat itu lah aku baru sadar jika aku baru saja membuatnya kembali memperlihatkan ekspresi khawatir ini.

"Kamu mikir apa Sil?" Ucap Kak Kristal dengan nada lembutnya seperti biasa.

"Cuma mikir GH Landak apaan kak?" Ucapku yang dengan spontan di sambut tawa keras dari kak Kristal.

"Astaga Sil, itu artinya bunga ini dari Guest House Onic Sil" Ucap kak Kristal yang berusaha menjelaskan sambil menahan tawanya dan itu malah membuat ku ingin memukul kepalanya sekarang juga.

Tapi ketahuilah ada yang aneh disini, sejak kapan GH Onic ada di Bali, dan setahuku tidak ada anak Onic yang tahu dimana tempat tinggal ku di Bali, bukan kah ini sangat tidak masuk akal?

"Oke, stop berpikir terlalu keras kakak akan jelaskan kenapa bunga ini ada di sini." Ucap kak Kristal sambil menarik tanganku untuk duduk di sebelahnya karena dari tadi aku hanya berdiri di depan kasurku dan memperhatikan buket bunga itu.

"Jadi kemarin ayang ebeb kamu itu dm kakak untuk nanya alamat kamu di Bali, nah kakak kasih deh walau kakak gak tau sih dia mau ngapain, dan tiba tiba pagi ini bunga ini uda sampai di rumahmu aja." Ucap kak Kristal tanpa merasa bersalah karena telah membeberkan alamat ku ke orang lain.

Sesaat setelah Kak Kristal selesai menjelaskan dengan ekspresi wajah kesal aku melayangkan tanganku dengan cepat ke arah tangannya dan mulai memukulinya.

"Sil...., uda Sil" Ucap kak Kristal sambil berusaha untuk menghindar dari seranganku.

"Tapi ni ya, kakak mau nanya dikit karena ada pertanyaan Kairi yang buat kakak bingung." Ucap kak Kristal saat sudah berhasil menghentikan pukulan ku.

"Apaan?" Ucap ku tanpa minat sambil menunggu kak Kristal yang mulai mengutak atik hpnya tanpa melanjutkan ucapannya.

"Kemarin dia sempat bilang ke kakak, kalau misal dia dateng ke sini kamu mau gak ketemu sama dia." Ucapan kak Kristal ini membuatku benar benar terdiam sambil menatapnya.

"Terus dia juga bilang mau jelasin semuanya ke kamu biar kamu gak salah paham sama dia." Ucap kak Krital dengan ekspresi yang jelas sangat kebingungan.

"Terus kakak bilang coba aja kesini kalau berani" Ucap kak Kristal saat melihatku hanya terdiam dan malah jawaban kak Kristal ini membuatku tak habis pikir, karena terasa seperti dia sedang menantang seseorang untuk datang menemuiku tanpa tau alasan sebenarnya apa.

"Terus dia bilang apa kak?" Sahutku saat ku lihat kak Kristal tidak lagi melanjutkan ucapannya dan terfokus pada hpnya.

"Oooo itu, dia bilang Okay, After christmas i go there, but right now i can't go, because i promise to my family stay in philippines after the tournament. Nah gitu deh kata dia" Ucap kak Kristal sambil lalu.

"Oooo yaudah deh, aku mau mandi kakak keluar." Ucapku sambil menariknya untuk berdiri dan mendorongnya untuk keluar dari kamar ku.

"Kita makan di luar ya Sil, kakak gak masak hari ini." Teriak kak Kristal sebelum pintu kamar ku benar benar tertutup.

~ Kamar Mandi ~

"Haruskah aku percaya padanya? Aku cuma gak mau terlalu berharap padanya, walau sebenarnya aku ingin berharap padanya, tapi bahkan dia tak tau apa - apa tentang ku" Ucapku kepada diriku sendiri sambil melihat wajahku di cermin kamar mandi.

Bodohnya aku yang lupa bahwa dialah yang menyelamatkanku waktu itu, berarti dia mengetahui lebih banyak dari apa yang seharunya diketahui oleh orang lain tentang diriku.

Aku mandi secepat kilat berharap kak Kristal tidak menunggu terlalu lama karena jujur saja, perutku sudah berbunyi sejak tadi.

~ Kamar ~

Setelah selesai aku langsung menggunakan pakaian ku dan sedikit merias diriku, lalu menyusul kak Kristal di ruang tamu.

~ Ruang Tamu ~

"Makan dimana kita kak?" Tanya ku lalu duduk disampingnya sambil memainkan hpku tanpa melihat ke arahnya.

"hmm" sautan ini malah membuatku terkejut bukan main.

"Kamu kok bisa disini?" Tanyaku sambil melihatnya yang sudah duduk santai di sofa ruang tamu ku, dan bodoh nya aku malah mengira dia adalah kak Kristal, kuedarkan tatapanku ke segala arah sampai aku menemukan kak Kristal dan Kiboy sedang menahan tawa di dekat meja makan.

"Bisa dong, kenapa gak bisa?" Jawabnya dengan pertanyaan juga yang membuatku semakin bingung.

"Kata kak Kristal gak bisa ke Bali, kok tiba tiba uda di Bali?" Jawabku dengan pertanyaan lagi yang malah membuatnya tertawa kecil dan jujur saja tawanya memang semanis itu.

"Kenapa mukanya merah gitu Sil?" Tiba tiba pertanyaan kak Kiboy membuatku panik dan segera berdiri dari posisi awalku tadi, bersiap berlari ke arah kamarku sebelum tanganku ditahan oleh tangan hangat miliknya lalu dalam hitungan detik aku sudah masuk kedalam dekapannya.

"Mau Kemana?" tanya Kairi masih mendekap erat badanku yang membuatku bisa mencium bau parfumenya dengan jelas.

"Malu kak." Ucapku sambil berusaha menenggelamkan kepalaku di dadanya.

"Pelukan Kairi senyaman itu ya Sil?" Pertanyaan kak Kiboy kembali membuat ku terkejut dan berusaha untuk melepaskan diri dari pelukan kak Kairi tapi tetap tidak bisa karena dekapannya terlalu erat.

"Bisa diem gak si lu Boy." Teriak Kairi yang membuatku sedikit terkejut tapi saat kulihat ekspresi khawatir yang dilayangkan kak Kristal aku buru buru untuk memberikannya senyuman terbaikku agar dia tenang.

"eh maaf maaf bikin kaget ya" Ucap Kairi sambil mengelus kepalaku ringan yang membuatku merasa aman, dan dari dalam dekapannya ku lihat kak Kristal tersenyum melihatku dan Kairi.

"Jadi bisa kita pergi makan sekarang?" Tanya kak Kiboy lagi.

"Okee Ayo." Ucap Kairi sambil melepaskan pelukan kami tanpa melepaskan genggaman tangannya di tanganku.

"Itu tangan dilepas dulu Kairi." Ucap kak Kristal sambil menarik tanganku menjauh dari jangkauan Kairi.

"Yaelah kak." Rengek Kairi yang membuat kami tertawa keras.

BERSAMBUNG

Maaf lama ya, aku lagi susah buat nyari ide lanjutin nya gimana, dan tiap mau nulis tiba tiba blank T_T

Stay With MeCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang