Eksekusi #2

609 47 0
                                        

Suara gelang kaki terasa mencekik, mengikuti gerakan tarian seorang gadis bersurai ungu yang menari di bawah sinar rembulan.

Tubuhnya bergerak dengan lincahnya, setiap langkah tariannya digaungkan oleh samar-samar suara gelang kaki yang melingkar di pergelangan kakinya. Surai ungunya berayun lembut di bawah cahaya rembulan, memperkuat aura menawan yang ia pancarkan.

Namun, ada ketajaman yang tak terbantahkan di netranya, netra tajam yang sepertinya tidak pernah goyah. Senyuman yang tersungging di sudut bibirnya tampak samar namun memiliki makna yang dalam dan tenang, seolah kesedihan merasukinya.

Dengan itu, semua The Flower atau biasa disebut dengan Penari bunga ikut menari dengan gadis itu. Gerak gemulai Penari Bunga berpadu serasi dengan sang gadis bersurai ungu. Langkah mereka yang tersinkronisasi bagaikan kelopak bunga yang tertiup angin, pemandangan menakjubkan di bawah sinar rembulan yang pucat. Bahkan mereka terlihat tak terganggu kala petir menyambar menghiasi langit yang suram.

Tubuh para penari berputar dan meliuk dengan cekatan, seiring kentalnya feromon bunga di udara yang membanjiri indra mereka. Tarian desperate, kesedihan, kehilangan namun terlihat bahagia, dengan terengah-engah melanjutkan tariannya dengan paksa. Sampai kaki sang gadis bersurai ungu tersandung sesuatu, membuat tubuhnya tersungkur di depan mayat yang tertutupi oleh kain putih.

"Seperti inilah akhir kisah cinta sang penari bunga, Echi," seruan tajam dengan suara langkah kaki terdengar, membuat gadis itu menoleh.

Seorang pemuda bersurai abu-abu muncul, ekspresinya tenang saat dia melihat ke mayat di depannya. Seringai tersungging di sudut bibirnya.

Alisnya terangkat kala melihat tangan kanan sang mayat yang tak tertutupi oleh kain putih, menampilkan cincin silver yang terpasang di jari manis mayat itu. Pemuda itu berdecak menyayangkan, "Kau lupa melepas cincin itu."

Echi Ceress, gadis itu mendongak. "Itu dari Riji, Kro—"

"Lantas? their story is finished," cetus pemuda itu.

Echi melirik Mia, meminta bantuan. Mia yang masih menangis, mulai berjalan mendekat ke pemuda itu.

"Kak Krow," Mia berusaha membujuk, ia masih sesenggukan dengan air mata mengalir di pipinya.

Pemuda itu, Krow, mengernyit arogan. Ia tertawa geli, dan mulai melepaskan cincin silver yang berada di jemari Makoto dengan paksa. Echi dan Mia hanya bisa saling beradu tatap dengan binar sendu.

Seorang gadis bernama Ennon mulai berjalan mendekat. Raut wajahnya datar, namun netranya terlihat berkaca-kaca.

"Saatnya kita berpamitan," Ennon berbisik.

Seringainya Krow semakin lebar, "Bukan berpamitan, but we set him free."

Para penari bunga yang berkumpul dengan jubah hitam, menatap satu sama lain dengan heran.

"Orang berjuang untuk mendapatkan kebebasan, namun penari bunga seperti kita mendapat kebebasan dalam kematian." Netra Krow melirik Mia, tangannya menyeka air mata di pipi Mia dengan lembut.

"Sweetheart, kita tak meratapi kebebasan," Krow menjeda ujarannya. Ia bersimpuh di tanah, menghadap mayat Makoto yang tertutup kain putih.

Jemarinya membelai pipi Makoto, dan berbisik. "Kita merayakannya."

"Selamat atas kebebasanmu, Makoto." tutur Krow, ia beranjak dan mengambil lentera yang memang berada di samping mayat itu. Dengan ujaran Krow, para penari bunga mulai menari mengitari sang mayat.

Gemerincing gelang kaki yang menyeruak, tarian indah di bawah sinar bulan. Mereka menari lihai seakan merayakan hari kebahagiaan mereka, sementara Ennon berjalan mengambil lentera, dan memberikannya pada Echi yang masih tersungkur di tanah.

"It's okay.. Mako sudah bebas," bisik Elya, memeluk Mia yang menyeka air matanya.

Krow mulai mengkode empat pemuda untuk menggotong tandu berisi mayat Makoto yang tertutup kain putih, dirinya berjalan keluar dari Mansion dengan membawa lentera.

Dipandu oleh Krow, mereka mulai berjalan keluar. Para penari bunga, yang memang memakai jubah hitam. Melambangkan bahwa mereka sedang dalam masa berkabung, berbanding terbalik dengan senyuman mereka yang bahagia dan matanya yang memerah karena banyak menangis.

Meninggalkan Mia yang berjalan mundur untuk kembali ke Mansion, ia termenung menatap kerumunan itu. Alisnya terangkat, netranya menyipit kala melihat seseorang gadis memakai tudung hitam yang tak menutupi wajahnya, berjalan mendekatinya sembari membawa lentera. Mia tahu gadis itu.

"Kak Selia," bisik Mia. Wanita itu berdiri di depan Mia, tersenyum manis.

"Kau mengenaliku?" tanyanya, dengan senyuman manis. Namun Mia tahu, gadis ini tak semanis itu.

"Tentu saja. Cantik sekali calon istri kak Riji," Mia menatap wajah Selia dengan tenang, "Kenapa kau kemari?"

Mia menaikkan alisnya heran kala Selia memeluknya, dan berbisik. "Turut berdukacita."

Selia melepas pelukannya, senyuman manisnya berubah menjadi seringai licik, "Aku disini untuk menemani calon suamiku yang sedang mengantarkan jalang pribadi miliknya yang sudah mati."

Mia tersenyum arogan, dengan netranya yang menajam, "Mati karena perbuatanmu."

‼️‼️ \ picture menyusul bestie

Halo!
long time no see~
Aku ada dua update untuk kalian! semoga suka ♡.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jul 26, 2024 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Love.Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang