18

92 15 6
                                        

Disini akhirnya sekarang. Duduk di ruang tamu,keluarga Lee dengan tambahan Lia berhadapan dengan keluarga Park. Dimana tatapan marah dari orang tua gadis yang tengah ber acting sedih dan ketakutan duduk diantara orang tuanya itu. Sementara Jeno juga nampak menatap tajam ke arah gadis yang tak lain adalah Claudia.

Gadis itu memang licik. Melaporkan kehamilannya dan menuduh Jeno sebagai ayah dari bayinya. Tentu itu membuat orang tua Claudia maupun orang tua Jeno sangat marah. Apalagi fakta bahwa putra-putri mereka melakukan hubungan yang melewati batas itu. Namun Jeno seakan sudah siap dengan semuanya. Baginya, lebih baik seperti ini daripada akhirnya ia harus setuju menikahi Claudia.

"Sekali lagi papa tanya,Jeno. Apa itu benar anakmu?!" Tanya Donghae tegas. Jelas dari nada bicaranya bisa ditebak sebenarnya pria itu tengah menahan amarah yang jauh lebih besar.

"Bukan,pa!" Jawab Jeno yakin membuat orang tua Claudia murka.

"Kau mengakui telah melakukan hubungan terlarang itu dengan putri kami, tapi kau tak mau mengakui hasil perbuatanmu pada putriku?!" Bentak tuan Park yang membuat Jake sedikit tersentak.

Jujur saja dia kaget, karena ini kali pertama ia menghadapi suasana seperti ini. Terutama yang melibatkan orang tuanya. Ia bahkan sedikit mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Lia hingga gadis itu terlihat sedikit mengusapkan ibu jarinya pada punggung tangan yang lebih muda. Mengerti kalau bagaimanapun Jake tetaplah remaja yang baru menginjak dewasa. Sekaligus ini bisa menjadi pelajaran untuk Jake bagaimana akibatnya jika seandainya ia juga melewati batasan yang orang tuanya buat untuk mereka.

"Memang itu bukan anakku..." Jawab Jeno yakin yang membuat tuan dan nyonya Park makin menatapnya tajam.

Tiffany yang sebenarnya kecewa sekali pada putranya itu, berusaha tetap tenang. Apalagi Lia yang sejak tadi duduk disebelahnya sambil terus membisikkan kata-kata penenang dan memintanya percaya pada Jeno,putra pertamanya itu.

"Kau—"

"Jeno memang bukan ayah dari bayi yang dikandung Claudia, tuan Park..."

Kini gadis diseberang mengangkat pandangannya. Menatap sengit ke arah Lia yang nampak sangat tenang menatapnya. Berdecih dalam hati melihat bagaimana gadis yang sering membakar api cemburu dalam dirinya kini tengah berpegangan tangan mesra dengan adik Jeno itu.

"Kau tahu apa—"

"Segalanya. Bahkan buktinya..."

Jeno pikir Lia hanya akan mengatakan apa yang ia beri tahu saja. Namun dugaannya salah. Lia malah mengeluarkan tabnya dan menunjukkan foto-foto kelakuan Claudia diluar selama ini. Mulai dari berduaan dengan banyak laki-laki di kampus maupun luar kampus, bahkan pergi ke club' dan make out dengan laki-laki yang berbeda-beda pula.

Tak hanya Jeno, semua orang disana juga kaget dengan bukti yang Lia tunjukan.

"Lia,sayang...itu—"

"Maaf ma...pa... Kalau beberapa hari terakhir Lia melanggar aturan kalian. Lia membolos dari kelas dan pergi ke club' untuk mengikutinya. Tapi sungguh, Lia tak minum apapun..." Ucap Lia menatap bergilir Donghae dan Tiffany. Melirik, Jeno nampak sangat kaget dengan apa yang Lia akui itu.

Kembali menatap tuan dan Nyonya Park dan berakhir pada Claudia. Ia sedikit menarik sudut bibirnya melihat gadis itu mengepalkan tangannya. Meski begitu,ia juga bisa melihat gurat kekhawatiran dan ketakutan dari gadis itu.

"Kalian yakin putri kalian hanya melakukannya dengan Jeno?"

"Kau—"

"Merendahkan mu? Ya. Melihat beberapa hari terakhir kelakuanmu selama aku membuntutimu, aku memang memandang rendah dirimu..."

"Berani sekali kau—"

"Merendahkan putri kalian? Yang memiliki nama baik itu keluarga kalian. Masa depan keluarga kalian ada padanya dan dia sudah menjatuhkannya. Kalian akan menyalahkan ku untuk itu? Berarti kalian tak ada bedanya dengan putri kalian yang menyalahkan orang lain atas kesalahan sendiri..." Jawab Lia dengan sangat tenang. Jake yang sejak tadi memperhatikan tak bisa tak menaruh rasa kagum lebih besar lagi pada kekasihnya itu. Luar biasa. Meski dia sedikit kesal karena Lia tak mengatakan apapun padanya.

"Dan jika itu tak cukup, saya punya kontak dari para laki-laki itu dan bisa meminta mereka datang untuk bersaksi disini jika perlu..."

Kembali tatapannya jatuh pada Claudia yang nampak meneteskan air mata kemarahan menatap Lia. Sungguh, meski terkesan jahat, dirinya menikmati setiap berhasil mengalahkan lawannya.

"Kau tahu, Claudia. Tak semua laki-laki bisa dipercaya seperti Jeno. Jangan kau pikir mereka tulus padamu. Karena jika kau jatuh pada laki-laki yang salah, semua temannya akan tahu dan berebut ingin mencoba juga. Jadi jangan besar kepala jika satu geng mereka mengejarmu. Mereka hanya ingin mencicipi sesuatu yang gratis..."

Tak bohong. Keluarga Lee menelan ludah mendengar ucapan sarkas yang jelas sangat menusuk itu dari mulut Lia. Lia yang mereka kenal sedikit bicara dan selalu bertutur kata lembut nyatanya lidahnya bisa terasah sangat tajam jika sudah saatnya menebas. Bahkan keluarga Park juga sama syoknya mendengar kata-kata tajam dari gadis muda itu.

"K-kau..."

"Jika kalian masih yakin itu anak Jeno, mari kita tunggu beberapa minggu lagi lalu lakukan tes DNA. Kau keberatan, Jen?" Tanya Lia menoleh pada Jeno yang dijawab gelengan oleh pemuda itu.

Melihat itu, orang tua Claudia melirik putri mereka yang menatap tajam ke arah Lia. Sedikit rasa curiga, apa jangan-jangan musuh putri mereka sebenarnya adalah Lia? Melihat bagaimana kebencian amat besar terpancar dari tatapan matanya. Dan sepertinya putri mereka memilih musuh yang salah.

"Bagaimana tuan Park. Usul Lia benar juga. Jika benar itu bayi dari putra saya, saya sendiri yang akan menikahkan mereka. Tapi jika bukan, saya akan pastikan putri anda akan melahirkan di dalam penjara!"

Lia kembali menarik sudut bibirnya melihat tangan Claudia yang gemetar dengan tatapan kaget mendengar ancaman kepala keluarga Lee itu. Dirinya percaya, Claudia saja juga tak yakin kalau itu anak Jeno. Meskipun ia tak tahu apa yang terjadi sebenarnya pada Jeno.

Sorot pandang beralih, senyum terulas lebih lebar dengan tatapan penuh kemenangan. Membaca gerak bibir membuat hatinya makin terbakar amarah karena merasa terkalahkan.

"Menyerahlah..."






.
.
.














Author hari ini 2x update, bab 17 dan 18 jgn sampe ke skip ya biar nyambung 😁

Author udah nulis beberapa bab lain, tapi kok malah menjerumus ke sad ending ya? Keknya author nih selalu, tanpa sadar nulis cerita sad mulu, padahal niat awalnya gak gitu.

Gimana bagusnya endingnya? Sad kah? Happy kah, atau gimana? 😭😭

Just Wanna Be Yours (End)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang