Waktu enam bulan rupanya belum cukup bagi Andréas untuk melupakan Amèlia Marcos sehingga terkadang ia terlihat uring - uringan karena memikirkannya. Biasanya, dalam keadaan kacau seperti ini, gitarnya satu - satunya yang dapat menolong. Tapi sekarang, ia sama sekali tidak dapat memetik satu senar pun. Selalu saja muncul bayangan Amèlia, terutama ketika ia memainkan lagu cinta hingga membuatnya tersipu - sipu. Pastilah kalau gitarnya dapat berbicara, ia akan mengungkapkan kecemburuannya, apalagi kalau mengingat 'hubungan mesra' mereka yang sedikit terganggu. Maria yang telah dengan setia memantau keadaan Andréas, terus berusaha untuk menawarkan bantuannya mekipun telah berkali - kali ditolak dengan halus.
Algun dia - Suatu hari. Cara Amèlia menyebutkan kata - kata itu dengan penuh kepastian, hingga membuat Andréas yakin sekali mereka memang akan bertemu lagi, meski hanya algun dia.
Mungkinkah aku jatuh cinta lagi?
Semenjak empat tahun yang lalu, Andréas menolak untuk jatuh cinta lagi. Ia memang menyebarkan cinta pada siapa saja yang mau mendengarkan lagu - lagunya, namun tidak ada yang tahu kalau hatinya sendiri sudah tertutup untuk mencintai seorang wanita. Kembali pada empat tahun yang lalu.
Pada saat itu, Andréas baru saja menjadi seorang pemuda matang dengan semangat tinggi, dan sedang memulai kesuksesannya sebagai seorang gitaris muda. Pada Ephipany Tahun 1911, Andréas berada di Zaragoza untuk mengunjungi sepupunya yang juga seorang pemusik. Baru saja seminggu di sana, ia sudah jatuh hati pada seorang wanita Zaragoza yang umurnya delapan tahun di atasnya. Ia bertemu dengan wanita itu ketika ia sedang mengagumi Monumen Agustina de Zaragoza yang kemudian menjadi pahlawan favoritnya, dan membuatnya sedikit sensitif pada hal - hal berbau Perancis, termasuk suami Selena, Fréderick Cèleste yang sampai rela menginap di pekarangan rumah Keluarga Sèrégovia hanya untuk memenuhi tantangan Andréas yang mempertanyakan kebesaran cintanya pada Selena. Hal pertama yang membuat Andréas tertarik pada wanita Zaragoza itu adalah kesederhanaannya. Meskipun wajahnya tidak bisa dibilang cantik, hanya, ia manis sekali dengan kulit merah Gipsinya yang seperti kayu manis. Selain itu, karena umurnya yang lebih tua, sementara Andréas sudah tidak mendapatkan kasih sayang ibunya semenjak umurnya enam belas, ia merasa nyaman pada kasih sayang dan perhatian yang ditawarkannya. Dan ternyata cintanya tidak bertepuk sebelah tangan. Wanita itu membalas cintanya. Dan selayaknya seorang yang sedang jatuh cinta, ia menjadi naif dan tidak ada yang tidak akan dilakukan Andréas untuk kekasihnya itu, termasuk menguras simpanannya. Apapun ia korbankan, termasuk memperpanjang waktunya di Zaragoza. Padahal ia tahu benar kalau pekerjaannya menumpuk di Madrid, dan adiknya sendiri akan menikah tahun itu pada Bulan Agustus. Apapun ia lakukan, hingga akhirnya wanita itu memberi kejutan yang tidak terlupakan. Ia telah bersuami, dan segala yang Andréas berikan padanya jatuh pada suaminya itu. Sekeras apapun wanita itu menangis dan bersumpah ia tidak mencintai suaminya, Andréas sudah keburu menulikan telinganya dan menutup hatinya.
""MENTIR!" Kata - kata terakhir yang Andréas ucapkan, dan belum bisa ia lupakan bagaimana dengan keras dan bersedihnya ia mengatakan kata itu. Setahun setelahnya, Andréas 'merayakan' kesakitan hatinya itu dengan lagu - lagu cinta yang cenderung gelap. Hanya ketika pernikahan adiknya saja, ia berusaha keras untuk berbahagia, meski jauh dalam hatinya ia benar - benar sakit. Sudah kehilangan seorang kekasih, kini adik yang sangat dicintainya pun meninggalkannya untuk menempuh hidup bahagia.
Ini menjadi sebuah pelajaran berharga baginya agar jangan mencintai wanita yang baru ditemui tujuh hari, apalagi kurang. Dari mana ia bisa mengetahui asal - usul seorang wanita kalau kenal saja baru? Nyatanya, hal ini tidak berlaku lagi setelah ia bertemu Amèlia. Meski sudah enam bulan, Andréas baru bertemu dengannya sekali dan langsung tertarik. Mungkin saja perasaan itu sudah berubah menjadi cinta. Ada perasaan bahagia yang menyakitkan dalam hatinya. Yakinkah ia, wanita itu mau mencintai tanpa menyakitinya juga?
KAMU SEDANG MEMBACA
Adios, Amelia! (status: unifinished)
Historische RomaneSpanyol, 1914 Amelia Marcos terkenal bukan hanya karena suaranya yang indah, namun juga karena wajahnya yang cantik dan tubuhnya yang molek, sehingga para pria lebih tertarik untuk membeli tubuhnya daripada membeli suaranya. Di saat karirnya sebaga...
