DOS

68 1 0
                                        


Malam yang semakin larut sama sekali tidak membuat La Noche Diosa yang berada di daerah pinggiran Gran Via menjadi sepi. Justru karena malam yang semakin larut itulah yang membuat La Noche Diosa semakin ramai. Memang sepertinya jarang sekali ada bar apalagi dengan reputasi bukan hanya sekedar tempat minum - minum biasa, namun juga sebagai tempat perjudian dan pelacuran yang akan buka di siang bolong.

"Señores, que estamos presentando, Señorita Amèlia Marcos." Baru saja gaung kata - kata itu berakhir, seorang wanita muda dibalut dengan gaun hitam berenda yang transparan mucul dari balik panggung. Pakaiannya menonjolkan bentuk tubuhnya yang berpinggang ramping dan pinggulnya yang bulat. Tubuh sejatinya seorang wanita yang sudah jarang ada. Matanya yang bulat dan bersinar - sinar seperti mutiara hitam menebarkan pandangan manja sekaligus 'mengundang' yang tak dapat ditolak, apalagi ketika bibir merahnya yang basah nampak sedikit terbuka membuatnya nampak lebih bergairah. Dari bibir itulah ia mulai bernyanyi. Ia menyanyikan sebuah lagu dalam Bahasa Spanyol.

Amèlia Marcos, ratu dari para Chicas de la inferno, sebutan untuk para pelacur yang bekerja di sana.
Kebanyakan orang tidak memfokuskan diri pada lagu yang dinyanyikannya, melainkan pada gerak tubuhnya, ataupun tubuhnya itu sendiri.

Pinggulnya yang bergerak luwes terbentuk bukan karena korsetnya, tetapi memang sudah terbentuk alami seperti itu. Banyak orang yang berkata, Tuhan memang menciptakan gadis itu untuk menjadi pelacur.

Sekalipun ia sedang menggerakkan tubuhnya dan beryanyi, ternyata matanya masih dapat berkeliling melihat keadaan sekitarnya. Kini bibirnya menyeringai ketika melihat seseorang yang duduk di meja pojok seorang diri sambil uring - uringan.
Pria yang terduduk uring - uringan seorang diri itu adalah Hugo Sánchez yang masih saja mengutuki kata - kata penghinaan yang diucapkan Andréas padanya, meskipun mereka kini terpisah jarak ratusan meter. Bahkan sumpah serapahnya membuatnya tidak menyadari kalau ia sedang diperhatikan oleh seorang wanita cantik.

Amèlia duduk manis di depannya dan memperhatikannya menyumpah - nyumpah.

"Sudah puas menyumpahnya?" tanya Amèlia. Hugo tidak langsung menjawab pertanyaan itu, tapi mengatur nafasnya terlebih dahulu. Ia meneguk champagne di depannya. Bahkan di tempat seperti ini, pilihannya tetap jatuh pada sesuatu yang mahal dan tidak umum.

"Ya, terima kasih." Hugo akhirnya menjawab dengan dingin.

Merasa tidak mendapat tanggapan baik, Amèlia menggeser tempat duduknya dan merapat pada Hugo. Matanya memandang dengan lurus pada mata Hugo.

"Kau tahu tidak, aku sudah lama menunggumu. Aku rindu sekali padamu." Amèlia mencium lembut bibir dan lehernya. Tidak banyak pria yang bisa menolak rayuan seperti ini. Seperti ular, tenang, pelan. Begitu berhasil, langsung saja menebar racun mematikan. Hanya sepertinya syaraf - syaraf Hugo sedang berhenti bekerja malam ini hingga ia hanya dingin menanggapi Amèlia. Amèlia menyadari itu.

"Kau tidak suka lagi padaku, ya?" Amèlia mengangkat dagu Hugo, agar ia benar - benar menatap matanya yang berapi - api.

"Percaya diri sekali kau mengatakan aku menyukaimu." Balas Hugo dengan santai.

Menyadari rayuannya sedang tidak manjur, Amèlia melepas pegangannya dengan kasar.

"Hanya lelaki bodoh yang akan menolakku."

"Baiklah, baiklah. Kau merindukanku, dan aku menyukaimu. Puas?"

Tentu saja, kata Amèlia dalam hati. Ia kembali mengeluarkan senyumannya yang termanis. Sesombong apapun pria, biasanya akan langsung luluh kalau diancam akan dicampakkan oleh wanita, apalagi wanita seperti Amèlia.

"Nah, daripada kau tidak keruan seperti itu, lebih baik kau bicarakan denganku. Siapa tahu aku bisa membantumu."

"Punya tempat yang lebih, katakanlah, lebih pribadi dari ini?"
Amèlia tidak langsung menjawab pertanyaan itu, namun melihat -lihat dulu ke sekelilingnya.

Adios, Amelia! (status: unifinished)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang