Pagi yang cerah, mentari menari dengan bahagia. Disebuah rumah besar yang dibangun dalam sebuah pelindung sihir terdapat kehidupan yang tak pernah dikira oleh siapapun.
Disini, sebuah Serikat besar tinggal. Tokyo Noir Familia lebih tepatnya, penguasa kota Tokyorole, satu-satunya Serikat yang mampu menandingi pendiri, Cosa Nostra.
**
"Rion, jngan dicomotin mulu... Yang lain nanti nggak kebagian, astaga..." Lelaki bersurai tomat yang tengah mengenakan apron merah muda dengan gambar Hello Kitty itu menghela nafas untuk kesekian kalinya.
Pria yang tengah mengemil sebuah makanan goreng olahan jagung dan tepung itu melirik acuh dan terus mencocol nya kedalam saus dan mengunyahnya.
"Aku bos nya, siapa mereka berani menentang ku?" ucapnya penuh kebanggaan.
Sebelum akhirnya sebuah sendal rumah berbentuk hiu mendarat mulus di dahi datarnya.
"Bangsat!" ia mengumpat, mengusap dahinya dan menatap gadis bersurai terong yang tengah menyengir mengejek.
"Azab orang serakah tuh ngeri tau pak. Kemarin gua baca buku hidayah, ada orang serakah pas meninggal makamnya meledak!" papar nya.
Rion mendengus, "Halah durhaka."
Echi, yang dikatakan durhaka hanya menjulurkan lidahnya. Kemudian dengan manja berdiri di samping Caine, "Caineeee."
Caine melirik dan tersenyum, "Kenapa Echi?"
Echi menatapnya dengan sumringah, "Ubur-ubur ikan lele, laper le."
Echi kemudian ikut mengambil satu bakwan jagung yang sudah matang dan memakannya tanpa dosa. Caine menengok dan wajahnya sudah muak, yaudalah jir untung adonannya banyak.
Rion mendengus meliriknya, "Ngikut-ngikut dasar."
Echi mendelik, "Susu gua ya!"
Suasana hening dalam sekejap, waktu seolah berhenti sejenak. Caine yang tengah memegang spatula tak bergerak. Rion yang tengah melipat kedua tangannya di depan dada membeku. Mia serta Selia yang baru melangkah masuk ke kawasan dapur juga melongo dibuatnya.
"Susu siapa tadi?!" Teriakan Krow terdengar menggema, membuyarkan lamunan semua orang.
Echi mengangkat sebelah alisnya dengan bingung, "Lah apa?"
"Ya susu gua, maksudnya suka-suka gua." lanjutnya.
"Bangsat, bisa nggak kagak usah disingkat begitu? Ambigu banget, anjing?" Selia mengusap dadanya tanpa daya. Kok dia punya kenalan kagak tau malu macem Echi ya?
Caine juga menghembuskan nafas lega dan kembali berkutat pada kesibukannya untuk memasak. Mia berlari kecil mendekatinya, "Caine mau bantu."
Caine melirik, "Boleh."
"Tolong sayurnya dipotong terus dicuci bersih ya," Caine menunjuk setumpuk sayur kangkung dengan dagunya.
Echi menatap bahan-bahan yang ada di meja masak, mengernyit.
"Kok tumben makanan nya kagak mewah, apakah bisnis pak tua Rion udah mulai hancur?" celetuk Echi.
Celetukan itu mendapat toyoran pelan dari belakangnya.
Echi berbalik dan cemberut, "Pak Istmo ih!"
Istmo tersenyum pelan, mengelus janggut tipis di dagunya.
"Bicara nya yang sopan, Echi. Apapun makanannya harus disyukuri, toh kamu masih bisa kenyang dengan makanan itu. Coba kamu lihat mereka yang tak mampu memakan makanan bersih dan sehat seperti kita, jadikan itu sebagai sumber rasa syukur." ceramah Istmo.

KAMU SEDANG MEMBACA
BEHIND THE LIE'S
FantasyCaine hanya seorang Pembunuh dengan bayaran tinggi, namun tiba-tiba direkrut kedalam sebuah Serikat besar?! Fakta demi fakta terungkap satu persatu. Ga pinter bikin desk, baca dulu aja siapa tau nyantol.