12. Enggan Untuk Terkenang

516 55 8
                                    

12 Tahun Yang Lalu.

***

"Wih haha, liat! Sepatu baru gua keren, 'kan?" suara muda yang bersemangat itu berdiri ditengah kerumunan kelas dan berkata penuh kesombongan.

Hampir seluruhnya berkutat pada anak yang tengah menyombongkan dirinya sendiri.

Sedang seorang pemuda bersurai terong yang duduk dibarisan pojok belakang itu mencoba mengabaikan dan terus fokus pada buku yang tengah dibacanya. Sesekali ia menengok ke bawah mejanya, menatap sepatu yang rusak dan jebol tersebut. Dalam hatinya, ia sebenarnya iri namun tak dapat mengutarakan pendapatnya.

Jam pelajaran pada akhirnya berakhir, digantikan dengan bel pulang. Rion, pemuda itu membereskan buku-bukunya kedalam ransel tua yang lusuh.

Datang seseorang ke mejanya. Arthur, pemuda yang menyombongkan dirinya tadi.

"Tsk, gua lihat-lihat lu merusak pemandangan kelas ini banget deh." Arthur menatapnya dari atas ke bawah.

Pandangannya kemudian jatuh pada ransel lusuh diatas meja, ia menyeringai geli.

"Apaan nih, burik banget? Masa beli tas aja enggak mampu sih, keliatan banget tuh nggak diurusin bapaknya! Hahaha!" ledek Arthur.

Rion tetap diam tak bergeming, mengabaikannya dan lanjut membereskan buku-bukunya. Membiarkan seisi kelas tertawa sesuka mereka.

Arthur yang diabaikan jadi kesal sendiri, ia merasa seperti badut yang tengah melawak saat ini.

Ia menggertakkan giginya, "Ah elah. Emak lu nggak ada niatan ngelonte aja apa? Lumayan tuh duitnya buat beli tas, biar ngegantiin tas bu-"

Bugh!

Pukulan keras itu mendarat di pipi Arthur. Arthur tersungkur dan mendonga tak percaya pada Rion.

"Ngomong sekali lagi bangsat!" Rion berteriak marah, napas nya naik turun dengan cepat.

Ia menendang wajah Arthur lagi.

Arthur menggeram marah, "Liat apa lu semua? Pukulin dia, gua kasih duit!"

Setelahnya, pemuda-pemuda di kelas tersebut langsung mengeroyok pemuda tersebut dengan keji. Setelah pemuda itu babak belur dan dipaksa berlutut, Arthur menatap Rion dengan sombong.

Ia duduk diatas kursi dihadapan Rion, ujung sepatunya menaikkan dagu Rion.

"Lu itu... Memang anjing gila, ya?..." Arthur bersenandung.

"Lu tau Rion? If you have money, everything you want can be obtained easily." ucapnya lagi.

Rion hanya bisa menggertakkan giginya dengan marah dan menatap tajam kearah Arthur

Wajah Arthur berubah dengan cepat wajahnya menjadi muram dan dingin.

"Berani banget lu natap gua kayak gitu? Stop natap gua pake tatapan itu, bikin jijik." Arthur menendang wajah Rion, kemudian meludahinya.

Ia merapihkan seragam sekolahnya dan berjalan pergi diikuti yang lainnya, meninggalkan pemuda itu seorang diri.

Rion bangkit perlahan, seluruh tubuhnya sakit dan terasa ngilu. Ia mengusap darah disudut bibirnya dengan kasar. Menatap ranselnya yang telah rusak dan sobek, ia menatapnya kosong. Kemudian mengambil buku-bukunya dengan susah payah.

***

Rion berjalan terseok-seok keluar dari gerbang sekolah, ia berjalan pelan. Memasuki sebuah gang kumuh dengan jalanan yang kotor dan gelap, rumah-rumah tua dibangun berdempetan. Ia melewati toko tua, dimana banyak pria tua yang tengah fokus dengan catur.

BEHIND THE LIE'STempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang