10. Jangan biarkan dendam mu padam.

574 69 3
                                    

Ia membuka matanya perlahan. Cahaya langsung menyambut matanya, menyebabkan ia menutup matanya kembali sejenak. 

"Caine?" pintu dibuka bersamaan dengan Garin yang masuk di ikuti oleh Gin.

Sosok pria bersurai merah tomat yang dipanggil Caine menoleh.

"Udah bangun?" Gin bertanya.

Caine mengangguk lemah, "Mn."

Garin keluar dari balik tubuh Gin, matanya memerah dan ia menangis.

"Hue, maaf Caine." ia merengek.

Caine menggangguk dan tersenyum tipis, "Nggak apa-apa."

Hening sejenak, Caine terjebak dalam lamunan yang tak kunjung buyar. Sampai tepukan pelan dilayangkan di bahunya.

"Caine?" panggil Gin.

"Hah?" Caine menatap Gin kaget.

Gin mengangkat sebelah alisnya, "Banyak pikiran?"

Caine hanya menggeleng pelan, menjawab dengan santai. "Enggak."

Gin ragu, namun hanya mengangguk.

Caine menatap Garin dan Gin secara bergantian. Rumit, seperti benang-benang kusut yang berdarah-darah mengikat pikirannya.

Lahir di atas tanah darah,
Bajingan menyerang kelahiran,
Dibunuh atau membunuh,
Dilahirkan hanya untuk itu.

. . .

Siang hari yang damai. Ketika Nabastala enggan menjadi kelabu dan tetap berpegang teguh untuk bersinar terang.

Halaman mansion ini begitu heboh dan berisik dengan suara makian dan tawa.

Seluruh anggota berkumpul dan bercanda bersama. Tak dengan Caine yang tengah termenung di bangku tak jauh dari mereka.

"—Ne!"
"—Caine!"

Caine tersentak, mendongak untuk menatap pria bersurai terong dengan pandangan linglung.

"Hey, are you okay?" suara berat yang dalam menusuk telinganya.

Caine diam sejenak sebelum mengangguk, "I'm fine."

Rion, pria itu menarik sebelah alisnya. Menatap ragu pada Caine yang nampak pucat, "Yakin? Kalau masih butuh istirahat, balik kamar aja."

"Aku-"

"CAINE? Kok pucet! Kenapa? Kamu sakit lagi, iya?!" Echi, suaranya yang cempreng itu benar benar merusak gendang telinga.

Rion mengusap kasar telinganya, dan mendengus.

Caine menatap Echi, tersenyum kecil. "Enggak papa, aku aman."

Echi merecoki Caine, duduk disebelahnya. "Nggak nggak, kamu pasti kenapa-kenapa'kan?!"

Caine menggeleng tanpa daya dan menghela nafas.

"Caine semenjak balik dari domain hantu jadi gini, huaa maafin aku!" Garin ikut merecoki Caine dan duduk di sisi lainnya.

Kepala Caine rasanya berdenyut terus menerus akibat rengekan dan pekikan yang tak kunjung selesai di kedua sisi telinga nya. Perlukah ia menangis sekarang? Ini seperti pembunuhan berencana, tolong.

"Heh duo jamet, lu pada kalau gitu malah bikin Caine pusing!" suara khas yang sering menyentak dan marah-marah itu, siapa lagi kalau bukan Krow?

Echi mendengus sebal, tapi wajah murung menatap Caine. "Uwaa—Gomen Caine."

Caine mengangguk, maklum. Menarik kedua sudut bibirnya, "That's okay."

Ah, Echi terlena. Kenapa Caine ini begitu lembut dan menenangkan ya? Berada didekatnya seolah dekat dengan malaikat yang menjaga.

BEHIND THE LIE'STempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang