Habel menghembuskan nafas kesal, ia berdecak sebelum kemudian ia lepaskan helm yang dari tadi bertengger diatas kepalanya. Setelahnya ia rapikan rambut coklat kemerahan miliknya yang berantakan sambil bercermin di spion motor.
Habel perhatikan gerbang sekolahnya yang sudah tertutup rapat, juga tak ada satpam yang berjaga disana padahal ia baru telat lima menit dari bel berdering.
Karena tak ingin bila nanti ada guru piket yang menyadari akan keberadaannya, akhirnya Habel putuskan untuk mengendarai motornya meninggalkan area sekolah.
Ia bawa motor besar yang tak sebanding dengan dirinya itu menuju salah satu rumah warga yang jaraknya agak jauh dari sekolah.Takut takut bila mana nanti ada yang menyadari bahwa motor itu miliknya.
" Buk, aku titip motor ya, ntar siang aku ambil! " Ucapnya pada seorang ibu ibu yang sedang menjemur pakaian didepan rumah.
" Iya dek silahkan!" Balas sang ibu tersebut tanpa menoleh ke arah Habel.
" Makasih buk!" Habel ambil kunci motornya setelah itu ia pun langsung kembali ke sekolah.
Dengan langkah terburu buru Habel pun segera memasuki lingkungan sekolah melalui gerbang belakang yang kebetulan tidak dikunci.
Langkahnya begitu hati hati saat ia berhasil memasuki lingkungan sekolah.
Kepala bulatnya ia tolehkan ke kanan dan ke kiri, memastikan supaya tak ada satu orang pun yang menyadari keberadaan nya.
Setelah berhasil melewati koridor lantai bawah dengan aman akhirnya tibalah Habel di koridor kelasnya yang terletak di lantai dua.
Tak langsung memasuki kelas, Habel melangkahkan kakinya menuju sebuah gudang penyimpanan barang di samping tangga.
Ia letakkan tas rangselnya di sebuah lemari tua, lalu ia ambil semua buku paket dan buku tulisnya di dalam tas.
Setelahnya ia mengintip dari balik cendela, memastikan bahwa tak ada satupun guru yang lewat disana.
Setelah memastikan bahwa tak ada guru yang lewat di sana, Habel pun memutuskan untuk segera berjalan menuju kelasnya dengan langkah santai dan pelan supaya tak ada yang curiga.
Di dalam sana, sudah ada guru yang sedang menerangkan materi di depan kelas. Habel hembuskan nafasnya berulang kali sebelum kemudian ia putuskan untuk mengetuk pintu bercat biru tersebut.
" Permisi pak " sapanya dengan nada sesopan mungkin.
Para siswa dan siswi yang berada di dalam sana pun langsung memusatkan perhatian ke arah pintu. Di sana mereka dapat melihat Habel yang tersenyum manis sampai gigi depannya kelihatan.
" Habis dari mana kamu? " Tanya guru tersebut sambil menghentikan kegiatannya yang sedang menulis di papan sambil menerangkan.
" Ambil buku di loker pak " jawab Habel sambil menunjukkan buku yang berada di tangannya, namun hal itu tentunya tak langsung membuat guru tersebut percaya, mengingat bahwa sejak awal masuk sekolah Habel sudah membuat banyak ulah.
" Tapi kok baru masuk? " Tanyanya dengan nada curiga.
" Tadi sekalian ke toilet pak "
" Celana kamu itu kenapa kotor? " Tanyanya lagi.
Kali ini Habel berdecak kesal mendengar pertanyaan guru tersebut.
" Bapak nih nanya mulu kayak Dora! " Kesal Habel, namun alih alih terlihat kesal, anak itu malah terlihat begitu mengemaskan dengan raut wajah seperti itu.
" Jadi gimana, saya boleh duduk atau enggak ini pak?! " Tanya Habel dengan nada kesal.
" Ya sudah, sana duduk "
KAMU SEDANG MEMBACA
Beloved Boy [ End ] > Sedang Revisi <
Teen FictionEnjoy this story guys! Revisi sambil update Publish : Maret 2024 End : Desember 2024
![Beloved Boy [ End ] > Sedang Revisi <](https://img.wattpad.com/cover/379294865-64-k855811.jpg)