Mata setajam elang itu terus perhatikan layar komputer dihadapannya, sudut bibirnya terangkat dengan tangan yang ia gunakan untuk menyisir rambut legam miliknya yang sedikit berantakan.
Terkekeh sejenak untuk suarakan keberhasilannya, ia kemudian ambil ponsel gengam miliknya, kaki jenjang itu bawa ia menuju ke arah jendela ruangan yang didominasi oleh warna hitam.
Jemari berurat miliknya tekan beberapa angka sebelum kemudian ia tempelkan benda pipih itu ke arah telinganya.
Butuh dua kali panggilan sampai kemudian panggilan itu baru diangkat oleh seseorang yang berada diseberang.
" Saya temukan orangnya " Satu kalimat berjuta makna.
Tak lama kemudian suara tawa mulai terdengar dalam ruangan gelap itu.
Suaranya cukup mengema dan saling bersahutan dengan orang yang berada di seberang sana, buat siapa saja yang mendengarnya pasti kan merinding dibuatnya.
_Beloved Boy_
Fahmi langkahkan kakinya dengan terburu tanpa menghiraukan sekelilingnya. Di tangannya ada sebuah styrofoam berisi bubur ayam sementara tangan satunya mengenyam sebotol air mineral.
Menghembuskan nafasnya sejenak, Fahmi menghentikan langkah kakinya saat ia tiba di depan pintu UKS.
Ia seka keringat yang mengalir di dahi dan pelipisnya sebelum kemudian ia buka pintu bercat putih dihadapannya.
Saat pintu itu terbuka, hal yang pertama kali ia lihat adalah Habel yang sedang berbaring diranjang sambil memejamkan mata tak lupa dengan wajah yang begitu berantakan sisa tangisan cukup lama tadi.
Fahmi letakkan bubur dan air mineral itu di atas nakas samping bangsal UKS, tangannya kemudian terulur untuk cek suhu tubuh Habel melalui punggung tangannya.
Masih sama.
Agak lega dirasa saat ia mengetahui bahwa suhu tubuh Habel tak semakin tinggi, itu berarti menunjukkan bahwa Habel kemungkinan hanya akan deman selama dua sampai tiga hari jika panasnya masih sama seperti saat ini nanti.
Fahmi guncang kan tubuh Habel perlahan, selembut mungkin sebab takut anak itu akan bangun dengan kaget yang akan menambah pusing di kepalanya.
Habel yang merasa tidurnya terusik pun segera membuka matanya dan melihat Fahmi yang berdiri disampingnya entah mengapa membuat ia kembali melengkungkan bibirnya ke bawah.
" Kenapa lama? " Lirihnya sambil berusaha untuk duduk. Fahmi pun dengan sigap langsung membantu Habel supaya bisa duduk dengan nyaman.
" Sorry ya? Tadi buburnya baru dibuatin sama bi Ida " Jawab Fahmi apa adanya.
Anggukan kepala Habel berikan sementara Fahmi kini mulai buka styrofoam berisi bubur yang tadi ia letakkan diatas meja.
'' Jangan diaduk "
Fahmi yang hendak mengaduk bubur ayam itu pun langsung hentikan kegiatannya. Ia hampir saja melupakan fakta bahwa teman kesayangannya ini merupakan tim bubur tidak diaduk.
Selepasnya, tak ada percakapan yang terjadi diantara mereka berdua.
Fahmi sibuk menyuapi Habel sementara Habel sendiri sibuk memikirkan alasan apa yang nanti ia berikan kepada sang mama saat beliau nanti melihat luka lebam di pipinya.
Melupakan sejenak tentang Fahmi dan Habel yang sedang berada di UKS.
Kita sekarang beralih pada dua sekawan yang lain.
Yaitu Aaron dan Sadewa.
Saat ini mereka sedang berada di rooftop sekolah, tempat dimana tadi Aaron dan Fahmi perhatikan kekacauan yang di ciptakan oleh Sadewa dan Habel saat di tengah lapangan.
Posisinya saat ini Sadewa sedang membersihkan luka lebam di sudut bibir dan memar di pelipisnya.
Sementara disampingnya Aaron hanya diam, memandang datar sambil melipat tangan didepan dada.
Luka di wajah Sadewa ini buka luka hasil perkelahian nya tadi dengan Habel.
Luka di sudut bibirnya ini tadi ia dapatkan dari Fahmi sementara luka di pelipisnya ia dapatkan dapatkan dari Aaron.
Singkat ceritanya, tadi saat Sadewa tak sengaja tonjok pipi Habel sampai anaknya terjatuh ia mereka berdua langsung turun kebawah dan melemparkan bogeman pada anak itu sebelum ia dapat memproses apa yang terjadi.
Aaron mendengus kesal sebelum kemudian mulai menceramahi Sadewa panjang kali lebar.
Sementara di hadapan Aaron, Sadewa masih tertunduk dengan tangan yang sibuk membereskan kotak P3K sambil telinganya mendengarkan siraman rohani dari Aaron pagi ini.
" Ngerti kan lo?! "
" Iyaaa... "
" Habis ini lo harus minta maaf sama Habel! " Final Aaron tak ingin dibantah.
" Tampa lo minta juga gue bakalan minta maaf sama Habel ''
'' Bagus kalau lo ada inisiatif "
Kedua anak adam itu terdiam cukup lama sebelum kemudian suara langkah kaki masuk kedalam indra pendengaran mereka.
Aaron dan Sadewa otomatis langsung melihat ke arah sumber suara, disana ia dapat melihat Fahmi yang berdiri dengan raut dingin menghiasi wajahnya.
Seragam anak itu begitu lusuh serta rambutnya yang acak acakan.
Satu tangan anak itu masuk kedalam saku celananya.
" Lo marah? " tanya Sadewa saat Fahmi kini duduk disamping Aaron. Jujur saja itu sungguh pertanyaan yang terdengar begitu konyol.
" Pikir aja sendir! " jawabnya sinis.
" Sorry... "
" Gue maafin lo kalau Habel mau maafin lo "
" Iyaaa "
" Btw, kondisi Habel gimana? " Tanya Aaron setelah terjadi keheningan cukup lama diantara mereka.
" Mau demam anaknya "
" Dah lo suruh minum obat? "
" Udah "
" Anterin pulang aja apa gimana? "
" Ntar aja, sekalian kita bolos "
Selanjutnya, benar benar terjadi keheningan diantara mereka.
Tak ada yang berani mengeluarkan percakapan. Mereka semua sibuk dengan pikiran masing-masing sampai kemudian suara bel pertanda pergantian pelajaran terdengar nyaring di penjuru sekolah.
Buat Sadewa dan Fahmi kembali menuju kelasnya sementara Aaron sendiri menuju UKS untuk menemani Habel yang sendirian disana.
KAMU SEDANG MEMBACA
Beloved Boy [ End ] > Sedang Revisi <
Teen FictionEnjoy this story guys! Revisi sambil update Publish : Maret 2024 End : Desember 2024
![Beloved Boy [ End ] > Sedang Revisi <](https://img.wattpad.com/cover/379294865-64-k855811.jpg)