Twenty-seventh

7.4K 568 12
                                        

    Saat ini jam sudah menujukan pukul sebelas malam, dan Habel baru saja terbangun dari tidurnya.

Beginilah efek jika dirinya tidur disore hari, ia akan mudah terbangun di jam jam malam seperti ini.

Karena merasa lapar, Habel melangkahkan kakinya turun kebawa sambil sesekali menguap.

Jika tak lapar mana mau dia keluar tengah malam seperti ini, inilah efek lain jika ia melewatkan jam makan malam.

Dengan hati hati, Habel menuruni satu persatu anak tangga, sesampainya ia dilantai bawah, Habel langsung pergi kedapur untuk melihat apakah ada makanan disana.

Habel menemukan sepiring nasi dan telur orak arik di mangkok, sepertinya mamanya menyisakan makanan untuk dirinya.

Ia jadi teringat mamanya, apakah tadi om yang mengaku sebagai daddy nya itu menyakitinya?

Habel jadi khawatir, ia akan mengecek kondisi mamanya habis ini, namun pertama tama, ia harus makan terlebih dahulu.

Beberapa saat kemudian, Habel sudah menyelesaikan makannya, meskipun sangat aneh karena ia terbiasa makan disuapin oleh mamanya.

Setelah minum segelas air, bocah itu kembali kembali menaiki tangga, ia membuka perlahan kamar mamanya.

Disana, ia bisa lihat mamanya yang sedang tidur pulas dengan cahaya orange dari lampu tidur disebelah ranjang mamanya.

Setelah memastikan sangat mama baik baik saja, Habel kembali masuk kedalam kamarnya.

Habel bingung, ia tak bisa tidur namun tan ada kegiatan yang bisa ia lakukan, jika memainkan ponselnya, ia takut sangat mama marah nanti.

Menonton TV pun Habel tak mau, suaranya pasti berisik dan ia tak mau membuat mamanya terbangun tengah malam seperti ini, besok beliau harus bekerja.

Ttnpa sengaja tatapan mata bocah itu jatuh pada cendela kamarnya yang tak tertutup gorden.

Disana ia bisa melihat hujan yaang turun begitu deras, namun tak ada kilat dan suara suara menggelegar yang biasa ada ketika hujan lebat seperti ini.

Tiba-tiba sebuah ide terlintas di otaknya, ia terkekeh sebelum kemudian menganti baju tidurnya yang entah tadi dipakaikan oleh siapa dengan baju kaos lengan pendek dan celana pendek.

Habel menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa, sesampainya di lantai dasar, ia langsung berlari menuju halaman belakang rumahnya.

Bocah itu begitu riang berlari-lari sambil melompati lompat sambil bermain air hujan, bahkan tanpa sadar suara tawanya terdengar begitu nyaring di derasnya hujan.










_Beloved Boy_










      Habel tampak begitu fokus mengali lubang di permukaan tanah sampai tak menyadari bahwa seseorang berjalan mendekat ke arahnya.

Ia baru tersadar saat tak ada air hujan yang membasahi nya, awalnya ia mengira bahwa hujan sudah reda, namun saat ia melihat sekeliling, rintik hujan masih turun membasahi sekitarnya.

Saat ia mendongakkan pandangannya, disana ia bisa melihat sebuah payung menaungi tubuhnya.

Karena terkejut, dengan cepat Habel menolehkan kepalanya kebelakang, disana ia bisa melihat sepasang kaki besar yang memakai sandal milik mamanya.

Dengan gerakan patah patah, Habel mendongakkan pandangannya, disana ia bisa melihat orang yang biasa dipanggil dengan panggilan om itu menatap tanpa ekspresi kearahnya.

Beloved Boy [ End ] > Sedang Revisi < Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang