Chapter 2 - By Your Side

510 60 59
                                        

[2024]

SHELTON HOTEL

Dentingan nyaring menghilangkan kilasan indah berduri di kepala gadis yang kini tengah duduk bersandar dengan memeluk lututnya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Dentingan nyaring menghilangkan kilasan indah berduri di kepala gadis yang kini tengah duduk bersandar dengan memeluk lututnya. Sebelah tangannya meraba lantai setelah merangkak ke depan, mencoba meraih sebelah sepatu pingainya yang bernoda darah di sudut sana.

Setelah berkelut dengan balutan gaun, sepasang tungkai kakinya berhasil melangkah keluar dari lift yang menjadi saksi bisu perasaan rindu pada sosok yang selalu memenuhi pikirannya. Tubuh yang hampir kehilangan nyawa itu tidak mampu mengendalikan hatinya, yang selama ini terus memohon untuk bertemu.

Gadis itu menggigit bibir bawahnya saat jemari kakinya menyentuh lantai lobi hotel, ia berusaha menahan rasa dingin yang menjalar di sana.

"Nona Im Sol."

Suara pelan yang terdengar tegas, membuat Im Sol terdiam. Ia mundur selangkah saat netranya melihat sepasang sepatu hitam mendekat. Wajahnya terangkat, menatap lurus pada lelaki bersetelan jas abu-abu yang menundukkan kepalanya singkat.

"Tuan Ryu, memerintahkan saya untuk memberikannya pada anda."

Nama itu, mampu menghilangkan keraguan Im Sol untuk mengulurkan sebelah tangannya yang sedikit gemetar, menerima payung hitam dan mantel cokelat dari sosok asing di hadapannya.

Membungkukkan setengah badannya, Im Sol membalas pamitan undur diri dari lelaki yang memegang benda kecil di telinganya setelah berbalik badan seolah sedang melaporkan sesuatu.

Im Sol kembali melanjutkan langkah gontainya keluar gedung, menatap sendu ke arah langit yang seakan menangisi kisahnya hari ini. Tetes demi tetes air hujan membelai telapak tangannya, diiringi suara rintik yang mengalun pilu di telinga.

Memilih tidak menggunakan apapun pemberian Sunjae, Im Sol berlari menerobos derasnya air yang jatuh menghujam bumi. Buliran asin yang bercampur tawarnya air hujan, membasahi wajahnya yang pucat.

Im Sol memijak cahaya lampu jalan yang memantul di genangan, menciptakan percikan air yang berkilau. Ia terdiam sejenak melihat gemerlap lampu kendaraan yang muncul di jalanan, sebelum memasuki taksi setelah berhasil melambai untuk menghentikannya.

Buliran air hujan yang melekat pada kaca mobil, membuatnya terhanyut dalam bayangan masa kecil saat ia datang bersama kedua orangtuanya ke sebuah acara ulang tahun yang sangat mewah. Senyumnya memudar saat menyadari, bahwa itu adalah acara terakhir yang mereka datangi dengan penuh tawa kebahagiaan sebelum dirinya terbangun di kasur rumah sakit.

Menegakkan tubuhnya, Im Sol segera keluar setelah membayar taksi yang ditumpanginya berhenti di sekitar gedung apartemen yang sudah ia tempati sejak memilih keluar dari panti untuk melanjutkan kuliahnya. Bahkan ia menepati janjinya, lulus dengan nilai tertinggi. Bibirnya mengulas senyum saat mengingat perkataan Sunjae yang hampir semuanya benar terjadi.

VÆLGETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang