*****
HAPPY READING
DON'T FORGET TO VOTE
!!!
Raka meremat jemarinya dengan gelisah, sudah seminggu berlalu sejak Raka mengetahui fakta yang selama ini dia tunggu.
fakta dimana dia tau kalau keluarganya masih hidup, kakak kembarnya masih hidup walau yang sebenarnya terjadi tidak ada yang mencari keberadaan nya.
Raka ingat betul bagaimana dia di tinggalkan dulu, bagaimana sang mama berjanji akan menjemputnya.
selama ini Raka menunggu mereka menjemput ke panti, hari hari bahkan tahun tahun Raka lalui dengan sejuta harap agar bisa kembali bersama mama dan kakak kembarnya, namun sejuta kali juga Raka harus menelan kepahitan bahwa tidak ada yang mencarinya sama sekali.
sampai di titik Raka sudah pasrah dan tidak ingin mengharapkan apapun lagi, Raka sudah ikhlas dengan kehidupan pantinya. Raka sudah bersyukur atas hidup yang di jalani akhir-akhir ini, bersama reja, anak panti dan ibu Sofiah.
namun entah ini takdir yang sudah tuhan gariskan untuknya atau seperti apa, Raka malah di hadapkan kembali bertemu dengan kedua kakak kembarnya dengan hal yang lebih menyulitkan bahwa dia terjalin hubungan cinta sedarah dengan salah satunya.
Raka tidak pernah menyangka akan ada titik ini di ceritanya, semua ini membuat Raka semakin bingung.
"sarapan nya di makan ka, jangan bengong mulu!" Raka terperejat dari lamunan nya, ada reja yang baru datang dengan sepiring nasi goreng di tangan nya.
tadi pagi reja sudah membuat sarapan untuk keduanya namun pemuda itu kembali ke kamar setelah selesai menyiapkan sarapan Raka untuk mengambil perlengkapan sekolahnya.
"jangan mikirin hal macem macem, jalanin aja hidup lu kaya biasanya ka. lu punya gue buat ceritain apa yang lu rasain"
walau kadang menyebalkan di kaya reja namun Raka tetap di anggap sebagai adiknya, sejak kecil mereka bersama tumbuh dan besar bersama, reja tidak suka melihat Raka yang sering melamun sejak tau bahwa alshan dan elshan adalah kakak kandung yang selama ini Raka tunggu.
"aku ga pernah nyangka hidup aku bakal kaya gini ja, aku pikir dengan aku ikhlas semuanya bakal lebih mudah di jalani ja"
Raka menghela nafas dalam kemudian mulai menyendok nasi goreng di hadapan nya, tidak ada nafsu sedikitpun untuk sarapan pagi ini.
"gue gatau pasti apa yang lu rasain sejak tau mereka masih hidup, tapi gue ngerti gimana sakit nya di posisi lu sekarang"
"ka- jangan pernah ngerasa sendiri! lu punya gue, punya ibu, punya adek adek di panti, punya temen temen di sekolah. lu punya kita semua ka, jangan ngerasa sendirian lagi"
reja benar-benar menempatkan dirinya sebagai seorang Abang, reja tidak punya adik kandung tapi dia punya banyak adik di panti asuhan ibunya dan salah satu yang paling reja sayangi adalah raka.
"nanti pulang ke panti ya ja, aku kangen ibu"
mendengar permintaan Raka tentu kali ini reja tidak bisa menolak sama sekali, reja tau Raka butuh pelukan ibu nya saat ini.
"mampir gereja dulu ketemu Romo ya, biar lu lebih tenang"
*****
"anak bungsu saya Yasha sangat senang saat mengenal Raka Bu Sofiah, sejak pulang dari rumah sakit dia terus bercerita tentang Raka"
Bu Sofiah yang duduk di sebrang Wildhan mendengarkan cerita dari pria tengah baya itu, Bu Sofiah bisa melihat kesedihan sekaligus kekhawatiran seorang ayah.
"sebelumnya Yasha tidak pernah seperti ini, dia selalu terlihat sedih setiap harus check kesehatan namun setelah bertemu Raka dia menjadi semangat Bu. Yasha bilang dia ingin sembuh dan bermain bersama Raka, dia ingin mengajak Raka bermain di rumah kami bahkan berjalan-jalan" lanjut Wildhan.
"saya mengerti pak Wildhan bagaimana terlukanya seorang ayah melihat anak kita sakit, kita sebagai orang tua pasti lebih sakit pak. saya pribadi turut bersedih atas keadaan Yasha pak Wildhan"
"Yasha salah satu cahaya hidup yang saya miliki setelah kehilangan Meyra Bu Sofiah"
"
bu-"
Wildhan dan Bu Sofiah menengok kearah pintu depan, disana ada Raka dan reja yang baru saja masuk.
keduanya sedikit terkejut karna ada Wildhan disana, "pak Wildhan"
"hai Raka, reja" Wildhan berdiri dari duduknya dan menyapa kedua remaja itu.
Raka menatap kearah reja, dari pandangan nya reja tau bahwa Raka sedang tidak nyaman.
Bu Sofiah mengajak keduanya duduk dulu, perihal apa yang di bicarakan dia dengan Wildhan mungkin memang waktu nya untuk di bicarakan dengan Raka.
"sini nak duduk dulu, tadi ibu dan pak Wildhan sedang membicarakan sesuatu yang menyangkut dengan Raka"
keduanya kemudian mengambil duduk di sofa yang bersebrangan dengan Wildhan, Raka merasa semakin tidak nyaman namun dia mencoba menyembunyikan nya.
Bu Sofiah yang memang duduk berdekatan dengan Raka meraih tangan remaja itu dan mengusapnya pelan, Raka pun langsung mengalihkan pandangan nya pada Bu Sofiah.
"jadi pak Wildhan dateng kesini mau ketemu kamu Raka, dia ingin kamu tinggal dengan mereka. pak Wildhan ingin kamu dekat dengan Yasha putra bungsunya"
penjelasan Bu Sofiah membuat reja melotot seketika, Raka juta sama terkejutnya mendengar itu.
"tapi bu-" reja yang ingin berucap tercela oleh ucapan Wildhan.
"Raka, Yasha sangat berharap kamu bisa tinggal bersama kamu. Yasha bilang dia sangat bahagia bisa kenal kamu, setiap malam dia terus bertanya kapan dia bisa tinggal serumah dengan kamu nak"
Raka kembali menatap Bu Sofiah.
disana Bu Sofiah tersenyum kecil padanya seolah mengisyaratkan kalau semua akan baik-baik saja, Raka tidak tau apa yang di rasakan saat ini.
Wildhan menghela nafas sebentar sebelum berucap kembali, "Bu Sofiah boleh saya berbicara empat mata dengan nak raka?"
"oh tentu boleh pak, gimana nak mau bicara dulu dengan pak Wildhan?"
Raka tidak pernah bisa menolak Bu Sofiah, wanita yang sudah di anggap ibunya sendiri.
"iya Bu Raka mau"
reja yang mendengar itu ingin menahan Raka, hatinya mengatakan kalau Raka sebenarnya tidak mau.
namun reja juga tau ini bukan wewenangnya, Raka tetap yang memegang hak sepenuhnya atas dirinya. reja tanya bisa berharap kalau Raka akan terus baik-baik saja.
"mari nak kita bicara di luar" ajak Wildhan yang langsung beranjak di ikutin Raka kemudian.
keduanya berjalan keluar meninggalkan reja dan Bu Sofiah, reja langsung mendekat kearah Bu Sofiah.
"kenapa pak Wildhan bisa kesini Bu? dia ngomong apa aja sama ibu?" tanya reja tergesa.
"nak pak Wildhan itu orang baik, dia yang menjaga ibu Raka sampai Meyra berpulang dan sekarang pak Wildhan ingin menjaga bagian dari Meyra yang lain"
reja tidak mengerti apa yang ibunya katakan, ini tidak menjawab pertanyaan nya sama sekali.
"kamu tenang ya ja, Raka pasti baik-baik saja"
*
*
*
*
*
TO BE CONTINUE
KAMU SEDANG MEMBACA
RAKA [ENDING]✓
NouvellesWARNING!!! SHORT STORY BROMANCE A LITTLE BIT TO BXB, LOKAL AREA! JANGAN BACA JIKA TIDAK SUKA ATAU BUKAN GENRE YANG ANDA INGINKAN. CERITA MURNI MILIK SAYA, PLAGIAT DIHARAPKAN MENJAUH. Yang Raka tahu ibunya menitipkan nya di panti asuhan, yang Raka...
![RAKA [ENDING]✓](https://img.wattpad.com/cover/348635845-64-k139860.jpg)