17. Terluka

1K 28 4
                                        

Yuna duduk diam di tepi ranjang, tangannya memeluk tubuh sendiri dalam keheningan yang menyiksa. Hari-hari berlalu tanpa arti, tanpa suara langkah berat Gabriel di lorong, tanpa ketukan pintu yang memberitahu bahwa sang Tuan telah kembali. Ruangannya yang besar dan mewah terasa semakin hampa, seolah keberadaan dirinya tak lagi berarti.

“Ke mana dia?” bisik Yuna lirih, menatap pintu kayu kokoh yang tetap tertutup rapat. Setiap malam, langkah kaki pelayan hanya terdengar lewat, tidak ada ketukan yang mengisyaratkan kehadiran sang tuan.

Terakhir kali mereka bertemu saat berlatih menembak pada saat itu.

Yuna tidak mendapatkan kabar apapun tentang Gabriel, melainkan kabar bahwa Mikail, kakak Gabriel yang selama ini dikirim ke luar negeri, telah kembali. Dia mendengar bisik-bisik pelayan di lorong bahwa Mikail menghabiskan sebagian besar waktunya di ruang tengah dan memimpin orang-orang kecil milik Gabriel.

Apakah mereka bergantian ke luar negeri dan sekarang giliran Gabriel?

"Tidak apa-apa," gumamnya pelan, mencoba menghibur dirinya sendiri. "Mungkin ini lebih baik. Aku tidak perlu repot-repot mengurus apapun lagi." Namun, suara itu terdengar hampa, bahkan bagi dirinya sendiri.

Kenapa, ya? Ini aneh sekali! Apa ayahku berhasil ditemukan atau ada hal lain?

Semakin lama keheningan di mansion terasa semakin mencekik. Yuna mencoba menepis pikiran-pikiran gelap yang perlahan muncul di benaknya. Namun, otaknya yang lelah mulai menciptakan skenario-skenario yang mengerikan. Seharusnya dia memberitahuku!

“Bagaimana kalau dia benar-benar sudah muak denganku?” pikir Yuna sambil menggigit bibirnya. “Aku tidak ada gunanya di sini. Aku bahkan tidak tahu apa yang dia inginkan dariku.” Rasa takut mulai merayapi dadanya, seolah-olah udara di ruangan itu berubah menjadi racun.

Ketakutan itu semakin menghantuinya hingga kepalanya terasa berdenyut. Yuna memegangi pelipisnya, berharap rasa sakit itu hilang, tetapi pikirannya terus berputar tanpa kendali.

"Aku akan mati di sini," bisiknya, suara itu hampir tidak terdengar. “Mereka akan membuangku, seperti sampah yang tidak berguna.”

Di tengah-tengah pikiran Yuna yang berkecamuk. Tiba-tiba pintu kamar terbuka perlahan, memperlihatkan sosok Alya yang masuk sambil membawa baki berisi makanan dan kotak kecil. Cahaya redup dari lampu gantung di kamar hanya mempertegas keheningan yang selama ini menyelimuti ruangan itu.

Yuna yang tampak sumrigah, kembali muram karena yang datang bukan orang yang ia harapkan.

"Maaf jika saya mengganggu, Nona," ucap Alya lembut sambil melangkah pelan ke meja kecil di sudut ruangan. "Ini makanan untuk malam ini... dan Tuan meminta saya membawakan pakaian baru untuk Nona." Ia membuka kotak itu, memperlihatkan gaun panjang berwarna merah marun dengan bordir emas yang elegan.

Yuna yang sejak tadi duduk diam di atas ranjang, langsung menegakkan tubuhnya. Mata gelapnya menatap Alya dengan penuh tanya, seolah tidak peduli dengan makanan atau hadiah yang baru saja diberikan. "Lalu dia ke mana? Apakah dia sudah pulang ke mansion?"

Alya menghentikan gerakannya sejenak, tampak terkejut dengan nada mendesak Yuna. "Maksud Nona, Tuan Gabriel?" tanyanya hati-hati.

"Iya!" suara Yuna terdengar lebih keras dari biasanya, menunjukkan seberapa serius pertanyaan itu baginya. Ia bangkit berdiri, menghampiri Alya, ekspresinya penuh ketegangan.

Alya menggelengkan kepala kecil. "Saya tidak tahu pasti, Nona. Tuan belum kembali ke ruangan pribadinya sejak beberapa hari lalu. Semua instruksi masih beliau berikan dari luar mansion."

Tanpa menunggu jawaban, Alya berbalik meninggalkan ruangan, meninggalkan Yuna sendirian lagi dalam kebisuannya.

Malam semakin larut, Yuna tersentak dari tidurnya yang setengah lelap saat suara ribut dari luar kamarnya membangunkannya. Suara langkah kaki tergesa-gesa di lorong, bisikan yang bercampur dengan nada panik, dan suara beberapa barang yang jatuh membuat malam yang sebelumnya sunyi mendadak kacau.

Ia duduk di atas ranjang, menarik selimut lebih erat ke tubuhnya. Pintu kamar tetap tertutup, tetapi suara itu terus terdengar jelas di telinganya. Dalam hiruk pikuk itu, ia bisa menangkap beberapa potong percakapan.

Yuna membeku, tubuhnya gemetar. Nama Gabriel yang disebut-sebut membuat dadanya berdebar kencang. "Terluka? Ditusuk?" gumamnya pelan, nyaris tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

Bisikan-bisikan itu semakin jelas. "Kudengar dia ditusuk oleh penghutang di distrik lampu merah.”

"Iya benar, dia tidak mau membayar... Tuan Gabriel pergi sendiri ke distrik lampu merah, seperti biasa. Siapa yang mengira mereka berani menyerangnya?"

Yuna menggigit bibirnya, mencoba menenangkan napas yang kini terasa berat. Jadi, Gabriel selama beberapa hari ini sibuk mengurus masalah penghutang di distrik miliknya? Pikiran itu berputar di kepalanya, tetapi fakta bahwa dia terluka menghapus semua penjelasan yang mungkin.

Langkah kaki semakin dekat, membuat Yuna semakin gelisah. Ia ingin keluar, ingin tahu seberapa parah luka Gabriel. Tapi ketakutan yang selama ini mengendap di hatinya menahannya.

Pintu kamar terbuka perlahan, memperlihatkan sosok Alya yang terlihat sedikit berantakan, napasnya terdengar cepat seolah habis berlari. Wajahnya menyiratkan kecemasan yang sulit disembunyikan. Ia mendekati Yuna yang masih duduk di tepi ranjang dengan selimut tergenggam erat di tangannya.

"Tuan Gabriel sudah pulang, tapi..." kata Alya, suaranya pelan, seolah tidak ingin menambah ketegangan yang sudah terasa pekat di udara.

"Aku ingin melihatnya," ujar Yuna tegas, suaranya nyaris tanpa ragu.

Alya menatapnya sesaat, ada sedikit keraguan di matanya. Namun akhirnya ia mengangguk pelan, menyadari bahwa melarang Yuna mungkin bukan keputusan terbaik. "Baiklah, Nona.”

Yuna mendekat perlahan, langkah kakinya hampir tidak bersuara. Di bawah cahaya redup lampu meja, tubuh Gabriel yang tak mengenakan baju terlihat jelas. Hanya perban putih yang melilit bahu dan dadanya, sedikit ternoda oleh darah yang mulai mengering. Napasnya teratur, tetapi ada kerutan samar di alisnya, seolah tubuhnya masih merasakan sakit meskipun ia tertidur.

Para pelayan yang sebelumnya sibuk membersihkan dan memastikan keadaannya kini telah pergi satu per satu, hanya menyisakan satu pelayan pribadi yang berdiri di sudut ruangan dengan kepala tertunduk. Pelayan itu tampak gugup, seperti menjaga jarak agar tidak mengganggu.

Yuna berdiri beberapa langkah dari ranjang, menatap pria itu dengan campuran perasaan yang sulit dijelaskan.

Gabriel selalu terlihat begitu kuat dan tak tergoyahkan, bahkan dingin dan mengintimidasi. Tapi kini, dalam keadaan seperti ini, dia terlihat rapuh. Tidak ada aura superioritasnya yang biasa. Hanya seorang pria yang terluka dan tertidur lemah.

Pantas saja aku segelisah itu.

||
TBC!

DEBT LEGACY 21+Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang