Semangat Sakya akhir-akhir ini terpompa kembali. Memulai menerima dirinya sendiri yang tidak bergerak, dia sudah terlanjur masuk ke dalam permainan kriminal Joule dan dia memutuskan untuk menjadi pemain yang unggul tanpa bergerak, perlu diingat sebelum malam mengerikan itu Sakya adalah jenius dari keluarga Pranaja. Saat ini dia sedang berada di ruang rawat Juan yang meski tidak punya indikasi lumpuh tapi ia sama tak berdayanya dengan Sakya.
"Gue bantu Joule buat lolos polisi, asal dia donorin sumsumnya buat lo yang nggak berguna ini."
Juan mengeriyit, dari mana Sakya tahu soal Joule? Apakah dia sudah tahu dari awal?
"Yang nabrak gue Joule bukan lo, jadi lo nggak perlu nanya kenapa gue nggak ludahin lo waktu tahu lo itu kembaran orang brengsek itu." Sakya dengan wajah datarnya berkata.
"Orang brengsek itu bagian dari diri gue."
"Kenapa? Lo kesel gue bilang gitu?"
Juan menggeleng, ia menghirup napas yang dalam berharap dapat mengusir sesak yang bersemayam. Saat ini dia tidak punya siapa pun untuk ia ajak bercerita tentang betapa sakitnya tubuh yang ia punya.
Juan mengambil tangan lunglai milik Sakya yang terasa dingin dan layu, ia merematnya mencoba untuk meminta kekuatan pada tubuh yang bahkan tak kuat duduk dengan tenaganya sendiri. Sakya juga tidak tega, ia ingin memberikan sesuatu untuk mengafirmasi Juan.
***
Arin merasakan beban berat di punggungnya, Joule mengisi tas ransel yang dibawa dengan gepokan rupiah. Joule membawanya ke dsebuah sumur tua kering di hutan kecil yang terbengkalai, tidak ada kegiatan manusia apa pun bahkan saat datang rumput liar sudah tumbuh setinggi lutut.
"Gak punya bank?"
"Menurut lo bedanya koruptor sama bandar narkoba apa?" Joule masuk lagi ke dalam sumur mengambil pundi-pundi rupiah yang ia simpan di dalam brangkar yang dikubur lebih dalam.
Dia membiarkan rekeningnya diisi sedikit uang seperti umumnya orang kebanyakan. Transaksi besar akan dia lakukan secara cash. Hal ini Joule lakukan agar tidak ada pelacakan, ia merasa setiap orang di dunia ini mengawasinya semenjak terjun ke dunia gelap ini. Dia tahu mana yang harus dia percaya atau harus waspada, insting Joule.
Arin terpesona dengan tubuh setinggi 176cm itu bisa melompat keluar kembali dari sumur setelah mengeluarkan banyak uang. Dia begitu kuat, cideranya pun tak dirasa. Alasan bodoh Arin mengikuti penjahat mungkin karena 'suka'.
"Setelah ini pulang aja, Ibumu pasti nangis darah nyari anak cerobohnya ini."
Arin mengangguk lalu tersenyum.
***
Arin digunakan sebagai alat negosiasi, menampakan diri di depan umum sama halnya dengan bunuh diri sekaligus mengajak Juan mati. Ia diminta Joule untuk berbicara dengan kepala rumah sakit sambil menyodorkan satu backpack penuh uang. Mau membantu Joule atau tidak?
Jika iya mungkin kepala rumah sakit bisa beristeri dua, jika tidak juga tidak apa-apa.
Pemilik rumah sakit setuju.
Arin dan pria dewasa itu kemudian berjabat tangan. Identitas Joule Jayasena ditutup, diganti dengan nama asing sebagai data pendonor Juan Jayasena.
***
"Setidaknya aku harus bisa menggerakkan tanganku, aku butuh tanganku!" Sakya sedang berkerja keras di ruang rehabilitasi. Namun, tangannya tidak bekerja sama sekali justru tubuhnya bergetar karena kelelahan.
"Sakya, pelan-pelan." Yumna mencoba menghentikan Sakya yang keras kepala, selalu seperti itu. Pasien menyebalkan.
Sebelum lumpuh pun Sakya punya sifat yang keras kepala, dia tidak akan berhenti berusaha.
KAMU SEDANG MEMBACA
Die Triangle [Ended]
Ficción GeneralKoneksi yang terjadi antara Sakya dan Juan terjadi bahkan saat kejadian paling buruk di dunia ini menimpanya. Kriminal seperti Joule telah menghancurkan dunia Sakya, terlalu hancur dan Juan seolah-olah mengerti.
![Die Triangle [Ended]](https://img.wattpad.com/cover/380045905-64-k261863.jpg)