10. Die With a Smile

430 39 14
                                        

"Lo bukannya harus di rumah sakit, Ju?" tanya Joule.

Pertemuan mereka hari ini dikoordinir oleh Juan, dia membawa tangan saudara kembarnya menuju sebuah tempat yang sudah lama tidak Joule injak—gereja.

Kedua pemuda yang lahir di waktu yang hampir bersamaan tersebut duduk di tengah-tengah kursi, menatap patung besar yang menjadi sudut utama yang akan dipandang umat yang datang. Joule menunduk, apakah dia punya wajah untuk bertemu Tuhan? Siapa itu Tuhan? Joule tidak pernah mengakui satu pun nama untuk diakui sebagai Tuhannya, tapi setidaknya ini adalah Tuhan Juan.

Juan mengeratkan kedua tangannya lalu berdoa.

Semoga di kehidupan selanjutnya, kami kembali terlahir sebagai kembar dan Juan akan mampu melindungi Joule. Keduanya sehat tanpa sakit, keduanya baik tanpa dosa barang sedikit.

"Joule, terima kasih, ya? Sudah memberiku hidup."

"Yang ngasih lo hidup, 'kan Tuhan. Lo percaya itu, 'kan? Tapi gue marah sama Tuhan lo, Ju. Kenapa lo dikasih sakit? Kenapa lo sakit banget?" Akhirnya pertahanan penjahat kelas kakap tersebut runtuh, tiba-tiba angin rohani di sini membuatnya menangis, menunduk dan meratapi hidupnya yang sulit.

Dunia Joule sangat dingin.

Tidak ada satu pun dari teman sepernarkotika yang pernah menyebut 'dosa' dan 'Tuhan' di sela-sela pekerjaan mereka. Padahal mereka bergelimang harta, wanita, dan segalanya. Sementara bocah penyakitan yang disiksa hampir setiap detik selalu meminta maaf ke Tuhan.

"Kenapa orang baik harus dapat semua ini, Ju?"

"Itu juga pertanyaan Sakya, Joule. Dia orang baik juga, rajin ke gereja, rajin belajar, dan beramal. Dia gak pantes lo tabrak, gak ada satu pun orang yang pantas dapat penyakit, 'kan?"

Malam itu memang sepi sebab ini bukan waktu kebanyakan orang untuk sembahyang. Hening, mereka hanya duduk sambil sesekali menceritakan masa kecil mereka. Sebelum Juan sakit mereka punya banyak kenangan yang tidak berani mereka lupakan karena setelah itu Juan hanya sakit, tidak punya kenangan baik, semuanya hanya bercampur dengan cerita rumah sakit.

"Kali ini gue yang bakal lindungin lo, Joule."

"Ngomong apa, sih? Lo aja sekarang lagi mimisan," ucap Joule tertawa kecil, mengeluarkan tisu dan membersihkan darah yang keluar dari hidung bangir saudaranya. Juan tidak menggoyahkan tatapan yang seakan mantap dan meyakinkan.

***

"Kepolisian memang tidak mau mengeluarkan lebih banyak uang dibandingkan dengan Joule, tapi kuasa kami lebih tinggi untuk membuat Anda kehilangan berkali lipat dari yang Joule beri." Kali ini Archer yang bertamu ke kepala rumah sakit.

Air ludah pria setengah baya itu semakin sukar ditelan, ia mengangkat kedua tangannya sambil meletakkan koper berisi penuh uang dari Joule di atas meja.

"Anda boleh memilikinya asal mau berkoorporasi dengan kami," tawar Archer.

"Maksudnya?"

"Kami harus segera membekuk Joule, lumpuhkan dia di meja operasi dan sisanya kami atasi."

"Bagaimana dengan Juan?"

"Selamatkan saja dia sebagaimana mestinya, kami tidak akan kasar dengan yang satu itu." Kecuali Joule, menurut Archer bahkan dia pantas diparut dengan gergaji.

Tanggal operasinya tinggal beberapa hari, Archer mengakui strategi Sakya sangatlah jenius. Siapa yang bisa lari dari meja operasi? Informasi ini bocor berkat tangan Sakya yang mulai kembali bekerja.

Arin hanya bocah polos dari sudut kampung, ia dimanfaatkan Joule secara sadar dan dimanfaatkan Sakya diam-diam. Ia menanam sesuatu di ponsel Arin, ia mendengar banyak percakapan termasuk dia yang menyogok dokter.

***

***

Sakya membuka matanya karena aroma sedap yang baru saja memasuki kamarnya. Ternyata Juan datang untuk membawa makanan. Pemuda itu pandai memasak.

"Sehat lo?" tanya Sakya.

Tanggapan Juan hanya sakadar senyum. Dia duduk lalu mengaduk nasi dan sup, memastikan suhunya tidak terlalu panas untuk Sakya dan menyuapinya.

Lama Sakya memandangi sendok, dia kemudian protes.

"Lo mau bunuh gue? Lo ngasih gue makan ikan? Kalo gue kesedak duri gimana?" tanya Sakya.

"Durinya udah gue buang." Sakya kemudian menurut, tapi dia menghentikan langkah Juan.

"Gue mau makan sendiri." Juan meletakkan nasinya di meja portabel yang diletakkan diri atas pangkuan Sakya. Tangannya yang layu dan gemetar mengambil sendok, gemetar dan tak bertenaga. Beberapa nasi dan kuah hanya berakhir jatuh lalu hanya sedikit yang masuk mulut.

Juan tersenyum karena setidaknya itu jauh lebih baik dibanding beberapa bulan belakangan.

"Juan!" Sakya mengangkat sendok lebih tinggi, ke arah Juan. Tangannya gemetar, banyak nasi dan kuah yang jatuh. Juan memakannya, lalu Sakya mendesah lega karena mengangkat nasi setinggi itu membuatnya lelah.

***

"Lo tahu, Joule? Gue nggak menyesal sama sekali ngambil jalan ini," ucap Bronze yang kembali hadir di samping Joule. Ia berhasil lari, dia memang hidup untuk melarikan diri.

Sekarang mereka duduk di dalam gedung terbengkalai di kota, pencahayaan yang buruk, permukaan dinding yang lembab, dan tidak ada penghuninya. Jika ada mungkin itu hantu, tapi Joule dan Bronze bukan orang yang peduli dengan makhluk tidak jelas begitu.

Bronze menyodorkan rokok, lintingan ganja yang bagi beberapa orang mewah, Joule menolak.

"Gue lagi jaga kesehatan buat Juan."

Bronze menghisapnya sendirian.

"Gue bosen jadi bandar narkoba, kayaknya mau pensiun."

"Emangnya anak lo...,"

"Udah mati."

Bronze dan Joule sama-sama berjuang di garis yang sama. Menjaga lilin redup mereka untuk tetap menyala, dunia yang memaksa mereka mengambil jalan ini. Joule tidak ingin bethenti seperti Bronze, karena yang menghentikan mereka hanya kematian orang tersayang. Tidak! Juan tidak boleh mati.

"Jadi sekarang gue nggak tahu harus ngapain? Bantuin lo di sisa hidup gue biar tetep seru?" tanya Bronze, Joule terkeleh.

"Bantuin gue, gue diburu polisi bego Konoha."

"Kayaknya polisi bukan ancaman, itu karena Sakya anak orang berada aja, 'kan duitnya ada buat lapor? Haha, besok kalau beritanya udah tenggelam digantiin video joget TikTok juga beres. Lo bisa beli cuanki lagi di depan SD."

"Kayaknya gak sesederhana itu, deh. Pokoknya lo lindungi gue aja selama operasi besok, biar hidup lo seru."

Mata Joule nyaris tak  saat Bronze mengeluarkan sesuatu dari dalam tas punggungnya.

Sebuah bom.

***

KOMEN BIAR GA BLOCKWRITE

Die Triangle [Ended]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang