"Juan! Gue suka sama lo! Gue suka sama lo! Gue suka sama lo! Bisa lo bangun dan dengar ini? Gue suka sama lo!" Yumna hancur, dia tidak menahan apa pun lagi sekarang. Meski Juan akan menolak perasaan Yumna, setidaknya Juan tahu.
Memendam perasaannya adalah hal yang bodoh. Padahal Juan selalu dekat dengan kematian, tapi Yumna justru memilih menjadi si bodoh yang menyesal seumur hidupnya. Tangan yang terkulai dingin dengan banyak luka baret yang telah mengering itu digenggam oleh Yumna, tangisannya menggema di seluruh kamar mayat.
Menjadi orang pertama yang meluapkan rasa kehilangan. Juan begitu dingin dan terasa begitu jauh meski tubuhnya berada di atas ranjang.
Joule membeku, ia tidak peduli jika banyak orang menangkap basah dirinya berdiri di tempat ini. Ia tidak peduli jika tiba-tiba polisi menembak tubuhnya secara tiba-tiba.
Dunianya sudah hancur.
Juan sudah meninggal, ia tidak bisa melakukan apa pun lagi. Ia tidak bisa hidup seperti ini.
Joule tidak menangis, dia hanya berdiri di sana tanpa berani mendekati Juan. Ketakutan terbesarnya berada di depan mata. Bronze tidak berani membawa Joule pergi, ia tahu perasaan itu saat anak semata wayangnya mati.
Sirine polisi dan banyak suara bising lainnya membuat Bronze harus menarik tangan Joule konstan. Yang bersangkutan tidak melawan karena energinya sudah tandas tertelan duka.
***
Sebuah bom meledak di lantai tujuh rumah sakit besar Vitalis Medical Center, ledakan terjadi saat petugas Bareskrim yang diketuai Penyidik Bareskrim Archer Wiguna untuk meringkus buronan besar Joule Jayasena di sebuah ruang operasi. Akibatnya terjadi kerusakan besar dan kerugian besar serta menelan delapan korban jiwa termasuk Dirtipidnarkoba Archer Wiguna beserta tim dan belasan lainnya luka-luka.
Berita baru yang lagi-lagi menyeret nama Joule Jayasena, Arin memperhatikan berita tersebut di tv usang miliknya di tv. Ibunya tidak menyangka bahwa dia telah menolong penjahat besar, membuat banyak nyawa kembali melayang.
Arin tahu seberapa besar arti Juan untuk Joule. Air matanya sontak turun saat dia mendengar bahwa dua di antara delapan orang yang meninggal adalah pasien yang diketahui sebagai saudara kandung Joule Jayasena. Mungkin hari ini adalah akhir dari semangat hidup orang yang dia suka.
***
Joule tidak dapat merasakan rasa sakit lagi, meski pun sosok pria dewasa memukulnya. Wajah tampannya sontak biru, buronan yang sudah mengakibatkan puluhan nyawa melayang menampakkan diri di makam. Semua orang kesal, ingin memukul Joule saat itu juga tapi tidak bisa. Mereka punya ketakutan, beberapa sudah menjauh dari tempat pemakaman siapa tahu Joule akan meledakkan tempat ini.
Bareskrim pun mati oleh bocah ini, apalagi warga sipil biasa?
Tapi emosi kepala keluarga Pranaja sudah berada di ubun-ubun. Dia tidak peduli tempat ini akan meledak atau bagaimana, anaknya lumpuh dan mati. Anak kesayangannya terlalu menderita karena orang ini.
"Apa yang bisa kamu lakukan untuk mengembalikan hidup anak saya?" Isterinya menarik kecil tangan suaminya, takut satu-satunya yang dia punya juga direnggut.
Semua orang memandang Joule sebagai iblis. Selalu begitu, satu-satunya yang menganggapnya sebagai manusia hanyalah Juan.
***
Bakat alami Joule memang melarikan diri, terbukti ia bisa berkeliaran dengan mudah setelah seseorang memanggil polisi dan melapor bahwa Joule sedang berkunjung ke makam korban. Ia memang ingin dipukuli makanya dia datang.
Ia kembali ke sebuah gereja yang ia datangi dengan Juan tempo hari, dia bersimpuh lalu menangis. Ia meminta maaf kepada seluruh nama yang telah mati.
Ayah
KAMU SEDANG MEMBACA
Die Triangle [Ended]
Ficção GeralKoneksi yang terjadi antara Sakya dan Juan terjadi bahkan saat kejadian paling buruk di dunia ini menimpanya. Kriminal seperti Joule telah menghancurkan dunia Sakya, terlalu hancur dan Juan seolah-olah mengerti.
![Die Triangle [Ended]](https://img.wattpad.com/cover/380045905-64-k261863.jpg)