"Joule, aku rasa ada yang salah," ucap Arin. Ia terlihat gelisah, Joule mengerutkan kening.
"Kenapa?" tanya Joule, Arin menyodorkan ponselnya. Joule membuka ponsel Arin yang ia belikan dengan uang haramnya sambil mendengarkan dengan seksama apa yang ingin Arin coba katakan.
"Banyak pesan yang belum dibaca tapi terbuka, bahkan ada arsip pesan yang mengaktifkan live lokasi terus menerus tanpa aku tau. Itu bergerak setiap pukul dua pagi, hari ini aku gak bisa tidur makanya aku tau kalau hpku bergerak sendiri."
Joule langsung dapat menyadari bahwa ponsel Arin tersadap.
Beberapa hari lalu saat Arin ditugaskan untuk membawa sekoper uang ke ruangan kepala rumah sakit, ada seorang lelaki lumpuh yang terlihat terlantar di rumah sakit. Tidak ada siapa pun yang menjaga pria disabilitas tersebut.
"Mbak, bisa tolongin saya? Saya nyari Mama saya nggak ketemu. Pinjam hp buat telp."
Arin memberikannya karena pada dasarnya dia adalah orang baik yang kebetulan terbawa oleh arus dingin dari Joule. Tangan Sakya yang hampir layu tersebut menekan beberapa digit.
"Mau saya bantu untuk tekan?"
"Ah enggak, Mbak. Ini saya nggak terlalu yakin sama nomornya." Jari Sakya memang menari di atas dial nomor, padahal sebenarnya dia sedang memasukkan kode agar ponselnya terhubung dengan monitor Archer.
Misi Sakya selesai. Mengelabui gadis desa tidak sulit.
***
Joule mengintip ke luar jendela, menerka di antara mobil-mobil usang yang diparkir liar di tempatnya menetap sementara ini mana yang mobil polisi?
"Bronze! Gue diintai, keberadaan gue jelas terpantau!" Joule berbicara pada seseorang di teleponnya.
Untuk memancing aparat kepolisian keluar dari pengintaian Bronze meledakkan bom kecil di area penginapan Joule. Beberapa orang dewasa lantas keluar dari mobil, sepertinya mengamankan warga dan menghubungi kepolisian. Bisa jadi mereka adalah pengintai.
"Lari yang jauh, kalau misal ketangkep. Udah pasti ketangkep, sih. Bilang kalo lo gue sandra," ucap Joule, mendorong tubuh Arin keluar.
"Lo gimana, Joule?"
"Belasan tahun gue jadi kriminal, lo nggak perlu mikirin gue. Lari gue justru lebih cepat kalau tanpa lo yang gak bisa lari, terima kasih bantuannya selama ini."
Mata Arin berkaca-kaca, dia mencium sekilas pipi Joule lalu pergi berlari.
Joule tidak lari, dia sudah tertangkap basah. Posisinya, jadwal donor sumsumnya, dia sudah tamat. Joule menghela napas, apa dia mempercayakan keselamatannya pada Bronze yang gila itu? Apa pun asalkan Juan sembuh, itu sudah cukup, dia bisa lari meski pun punggungnya akan mengalami rasa nyeri luar biasa. Masalahnya, kasus ini apakah cukup hanya dengan berlari?
***
Hari operasi tiba, Juan terlihat polos tanpa keterlibatan, tapi dia selalu berada di sekitar dalang dari permainan berbahaya ini. Juan tahu semua yang direncanakan Sakya, diam-diam saat Sakya tertidur . Ia selalu penasaran kenapa Sakya selalu memintanya atau Yumna memasangkan earphone tanpa mendengarkan lagu, rupanya terhubung dengan ponsel mode disabilitas, pesannya bisa terbaca melalui suara. Meski tidak bisa membalas, Sakya bisa mendengarkan informasi dari pesan yang masuk.
Kontak bernama Archer Bareskrim selalu menjadi top teratas seseorang yang menghubungi Sakya. Ia selalu ingin tahu apa yang dibicarakan Sakya dengan petugas kepolisian sehingga Juan mengaktifkan mode rekam percakapan, menyalin semua informasi ke ponselnya sendiri. Keterbatasan Sakya juga mempengaruhi daya mainnya.
"Joule, ruang operasi dipindah ke gedung D, ya." Juan berkata di ponselnya, menghubungi Joule yang hari ini tentu datang untuk melakukan misi penyelamatan Juan.
"Loh? Masa?" tanya Joule, ia hampir memasuki gedung C dengan pakaian serba tertutupnya itu.
"Loh, ayo ke gedung lantai tujuh. Tunggu apa lagi?" Seorang dokter mengenali Joule.
"Ju? Lo mau ngeprank?"
Joule mengantongi ponselnya dan memasuki gedung. Menuju lantai tujuh dan berusaha menjadi donor yang baik, setidaknya sampai Juan terselamatkan. Hanya itu, sisanya ia akan berlari seperti biasa, itu mungkin sedikit sulit tapi dia sudah terbiasa.
***
Juan menyuntikkan beberapa dosis aspirin ke dalam pembuluh venanya, ia menolak menjalani donor sumsum sekarang meski bahkan saat ini darahnya mengalir dari hidung. Dia mengatur napasnya di dekat nakas, tubuhnya luruh di sana. Ia tidak punya selembar pun tisu yang bisa ia gunakan untuk menyapu darah yang kelewat banyak mengalir dari hidungnya, ia mengambil selimut putih di ranjang dan menghapus cepat darah yang terlihat segar. Ia pening, kewarasannya terasa dirajang.
"Kali ini saja, selamatkan Joule." Tangan gemetar itu mengambil obat, meminumnya secepat kilat lalu mengajak tubuhnya berdamai.
Gedung C dalam masalah, Juan membakar kardus di lantai enam. Membuat smoke detector berbunyi, menyiramkan air dan membuat banyak orang berhamburan. Lantai 6 berisi kantor para dokter, kamar mayat, ruang terapi, juga laboratorium. Paramedis segera berlari mengamankan pasien-pasien dari gedung ini. Tidak ada api yang terlihat, Namun mereka tidak ingin mengambil resiko.
"Sakya, ayo pergi dari sini!" ucap Yumna lantas membuka ruang terapi Sakya.
***
Ruangan operasi tempat Joule akan menyerahkan seluruh hidupnya untuk menyelamatkan Juan. Pintu ruangan itu tertutup rapat sementara beberapa anak buah Archer berdiri gagah di depan ruangan tanpa sepengetahuan Joule.
"Sekarang sudah cukup, seharusnya dia sudah dibius." Petugas muda lainnya dari Bareskrim berbicara, ia memantau arloji di lengan kanannya.
"Sakya minta keselamatan Juan sebagai bayarannya, mari hargai itu." Archer melipat tangannya.
Sekitar dua puluh menit berlalu, tak ada satu pun anggota Bareskrim yang bersantai. Mereka berdiri dengan tingkat waspada yang tinggi, bunyi asing terdengar membuat telinga sehat para pria ini bekerja.
"Suara EKG?" tanya Pras memastikan.
Archer mengangkat tangannya rendah, isyarat bisu yang cukup untuk membuat rekan-rekannya menahan napas. Ruangan terasa sunyi, hanya desiran halus yang nyaris tenggelam dalam ketegangan. Pemuda itu menajamkan pendengarannya—bunyi itu ada, pelan dan menyeramkan, lebih lambat dari detak mesin EKG yang mengiringi ajal.
Jari-jarinya melingkari gagang pintu, membuka perlahan seiring napas yang tertahan. Di belakangnya, para bawahannya sudah bersiaga, jemari mereka tegang di pelatuk, laras-laras pistol menodong ke depan, bersiap menghadapi apa pun yang menunggu di balik ambang.
DAAAR!!!
Ledakan mengguncang ruangan, gelombang api menyembur liar seperti tangan neraka yang merenggut tanpa ampun. Suara kaca pecah melengking di udara, puing-puing berjatuhan, menelan jeritan para awak polisi yang terpental ke segala arah—tak ada jaminan hidup atau mati. Kepulan asap mengaburkan pandangan, dan dalam kehancuran itu, Archer tersungkur, kesadarannya berpendar.
Di sisa napasnya, dia hanya bisa mengakui satu hal—Joule bukan bocah biasa. Dia adalah badai dalam wujud manusia.
***
GUYS! Ini Joule licin bet ya kaya belut 😭 ayo komen biar aku cepet update
KAMU SEDANG MEMBACA
Die Triangle [Ended]
General FictionKoneksi yang terjadi antara Sakya dan Juan terjadi bahkan saat kejadian paling buruk di dunia ini menimpanya. Kriminal seperti Joule telah menghancurkan dunia Sakya, terlalu hancur dan Juan seolah-olah mengerti.
![Die Triangle [Ended]](https://img.wattpad.com/cover/380045905-64-k261863.jpg)