Kilas balik sejak pukul delapan lewat lima belas menit, tepat sebelum sebuah ruang operasi dikabarkan telah meledak oleh bom rakit. Bronze sudah berjanji untuk melindungi rekan kriminalnya sebagai satu-satunya arah hidup yang dia punya setelah anak semata wayangnya mati, ia punya hobi merakit bom yang dia pelajari dari teroris lain waktu menjalin jaringan narkotika yang begitu gelap itu.
Ia menghubungi Juan, seharusnya mungkin misi ini menjadi misi penyelamatan tunggal. Namun, Juan itu berbeda dengan Joule yang hanya punya peduli searah—Juan, kembaran kriminal tersebut peduli ke seluruh manusia dan berakhir menyelamatkan area-area yang mungkin akan remuk karena efek ledakan. Bronze berkata bahwa dampak ledakannya hanya akan berdampak di satu ruangan dan lantai tujuh, paling parah lantai bawahnya.
Oleh sebab itu Juan menyelamatkan lantai enam.
"Lo kuat manjat, kan?" tanya Bronze yang menyamar sebagai dokter, ia melepaskan masker yang ia gunakan.
Dokter yang melarangnya pergi ke gedung D tadi adalah Bronze yang menyamar, ia telah mengamankan para dokter yang bertugas untuk tetap dalam kondisi tidur selama beberapa saat di kamar mayat di lantai satu. Bronze tahu seberapa jauh polisi bisa berpikir karena dia berada dalam masa buronan selama belasan tahun dan terbukti bahwa tidak ada satu pun polisi yang berhasil menangkapnya.
"Juan?"
"Juan udah lari duluan," ucap Bronze lantas mengeluarkan bom rakitannya dari sebuah koper medis.
"Seberapa cepat lo bisa turun dari jendela ke lantai lima?"
"Lima belas menit."
Bronze menekan tombol yang membuat tanda merah menyala di atas ruangan, operasi sedang dilakukan. Pria tinggi tersebut juga mengatur bom agar meledak dalam waktu kurang dari dua puluh menit. Dua pria itu membuka jendela kaca, melepas baju atribut pasien dan juga dokternya membuat seolah-olah mereka tidak dapat terbaca.
Dari lantai tujuh semua benda di bawah sana terlihat kecil. Jantungnya sedikit berdegup, ini pertama kali dia mencoba menguji kekuatan dan bakat kaburnya di atas gedung setinggi sembilan puluh dua kaki.
"Cepat!"
Joule mengangguk singkat lalu terjun, melompat dan bergelantungan dari lantai tujuh, ia salam memperhitungkan kecepatannya dalam memanjat seperti ini. Ruang operasi meledak saat dia masih berada di lantai enam, ia sedikit goyah.
"Joule! Gapapa?" Yang lebih dewasa sudah sampai terlebih dahulu, ia melihat Joule terkena pecahan kaca, menyisakan luka gores di wajahnya.
"Aman!"
***
Gawatnya bukan hanya perhitungan Joule yang meleset, perhitungan Bronze lebih fatal. Efek ledakan yang disebabkan bom rakitannya memberikan tekanan berat tidak hanya sebatas lantai enam tapi juga lantai di bawahnya.
Meski sedikit ketakutan Joule harus segera menyusul Bronze untuk turun satu lantai lagi, dua pria kriminal tersebut melompat ke dalam lantai lima di mana semua orang berdesakan untuk keluar. Selain kebakaran ada bom yang meledak, suasananya benar-benar kacau.
"Yumna!" Joule melihat sosok yang dia kenali, tidak ada waktu untuk menunjukan eksistensi kecantikannya, karena kondisinya kacau. Dia terlihat mencoba berlari berlawanan arah dengan orang yang mencoba berlari keluar.
"JOULE!!" Dia benar-benar ketakutan.
"Kenapa? Di mana Juan?" tanya Joule sambil memegangi kedua pundak Yumna yang menggigil karena menangis.
"Mereka dievakuasi lebih dulu seharusnya karena tidak bisa berlari, terus aku ... aku gak tahu, Joule! Mereka nggak ada! Liftnya macet, Joule!"
Ini kekacauan yang cukup besar, sistem listrik terpengaruh oleh ledakan dan juga kebakaran buatan.
***
Tepat setelah bom meledak, beberpa puing besar jatuh menghalangi jalan. Lift mati, dokter dan ners gagal mengevakuasi pasien sementara puing terus saja turun ke lantai enam. Mereka rasa gedung ini akan runtuh.
Para dokter dan ners adalah wanita, mereka menyelamatkan pasien yang dapat mereka angkat seperti anak-anak dan balita. Mereka juga berpesan untuk tidak panik kepada Sakya, mereka akan segera menyelamatkannya. Namun menunggu di sini sama halnya dengan menunggu mati.
Sakya yang bertubuh lemah tak ada daya diangkat Juan ke atas punggungnya. Tidak mungkin membawa kursi roda untuk menuruni tangga darurat.
"Juan?"
Hari ini Juan dijadwalkan untuk mendapatkan sumsum tulang belakang, entah berapa besar rasa sakit yang dia tahan hanya untuk membawa lelaki cacat di atas punggungnya yang sakit.
"Juan, dokter bilang mau balik lagi buat selametin gue. Lo nggak perlu gini," ucap Sakya yang saat ini bertumpu pada tubuh Juan sepenuhnya, tidak ada secercah pun tenaga dari tubuhnya yang layu untuk berlari sendiri.
"Itu omong kosong. Lihat puingnya, sebentar lagi tangga darurat tertutup puing. Liftnya mati, kita nggak mungkin ditolongin."
"Tim sar!"
"Nggak, Kya! Gak ada waktu! Lihat lantai di atas lo! Sebentar lagi ambrol!"
Sakya menangis saat merasakan tangan yang terkulai begitu saja tersampir di pundak Juan dan bergelantung bebas di depan dada Juan basah, Juan mimisan saat berlari membawa dirinya.
"Juan! Tinggalin gue!"
Juan berhenti, anak tangga di bawahnya tertutup oleh puing yang jatuh. Ia bingung harus bagaimana caranya berlari.
"Apa kita tamat, Kya?"
Benar, mereka tamat. Setelah beberapa saat hanya berdiri di sana, mereka berdua tertimpa sesuatu yang sangat keras dan berat.
Sakit, berat, dingin. Pandangan Sakya sempat gelap. Sampai dia tidak mendengar apa pun kecuali suara di luar gedung, tubuhnya terhimpit banyak puing tapi ia tak dapat bergerak.
"Ju?" panggilnya lirih.
"Juan?" panggil Sakya berkali-kali. Tangan kanannya yang mulai dapat bergerak itu mencoba menyingkirkan puing, tapi sayang ia hanya mampu mengangkat sendok. Jadi, ia tak bisa menolong dirinya sendiri. Ekor matanya mencari ke kanan dan kiri, ia tahu dimana Juan tidak jauh dari posisinya saat ini. Namun, apa gunanya? Tubuh mereka sama-sama terjepit lantai enam dan tujuh.
"Ju?"
"K ... Kya."
Sakya tidak pernah merasa selega ini selama beberapa bulan hidup sebagai disabilitas.
"Ju, badan gue dingin." Lirih dan hampir tak terdengar, keduanya tak dapat beranjak karena seluruh tubuh mereka sama-sama sakit.
"Sakya, boleh gue minta sesuatu sebelum mati?" Sakya tidak mau Juan mati, tapi melihat tubuhnya yang mengerikan seperti ini ia tahu bahwa lebih baik mati dibandingkan lumpuh. Ia mengingat dirinya yang bersimbah darah waktu itu, Juan tidak boleh lebih menderita dari ini.
"Sakya maafin Joule."
"Gue harus jadi pemaaf supaya Tuhan ngasih gue tempat di surga," ucap Sakya. Sebenarnya memaafkan Joule itu hal paling mustahil, tapi tanpa Joule dia tak akan pernah mengenal orang sebaik Juan. Memang bukan harga yang pantas untuk menebus fungsi tubuhnya, tapi jujur saja dia bersyukur pernah mengenal Juan.
"Ju? Juan! Juan!" Senyap.
Sakya menangis karena tidak mendengar suara Juan lagi, ekor matanya pun tak menangkap bahwa Juan sedang bernapas.
"Juan, gue ga mau sendiri." Tangan Sakya merangkak menyingkirkan puing kecil dari atas tubuh Juan, berharap mengurangi beban mayat yang sudah tertidur tenang.
Berlahan Sakya juga menutup matanya.
Keduanya ditemukan telah berpulang saat diselamatkan.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Die Triangle [Ended]
General FictionKoneksi yang terjadi antara Sakya dan Juan terjadi bahkan saat kejadian paling buruk di dunia ini menimpanya. Kriminal seperti Joule telah menghancurkan dunia Sakya, terlalu hancur dan Juan seolah-olah mengerti.
![Die Triangle [Ended]](https://img.wattpad.com/cover/380045905-64-k261863.jpg)