personal

55 8 0
                                        

Rumah sakit

"untung aja dia dipakein baju lain. kalo ngga, aku bisa disangka orang gila gara gara telanjang dada di rumah sakit." cibirnya sambil menunggu orang yang diselamatkannya itu selesai ditangani dan dipindahkan ke ruang rawat inap.

saat di ruang inap dia diberi tahu dokter yang menanganinya bahwa ada kemungkinan dia akan mengalami amnesia ringan, tidak berpengaruh pada komunikasinya tapi ada kemungkinan dia akan mengalami perubahan perilaku dan emosi. 

setelah dokter itu pergi, suasana kamar menjadi sunyi. 'padahal ini ruang rawat inap kelas III yang harusnya di isi tiga orang. tapi kenapa sunyi banget? ini orang orang pada sehat sehat ya? pen nangis ih, serem. apa ku pindahin ke ruang rawat inap  kelas I aja ya?' batinnya menimbang nimbang antara ketakutannya dan mengeluarkan budged lebih untuk ganti kelas ruang rawat inap. 'oke'. dengan mantapnya ia berjalan ke arah admininstrasi untuk memindahkan ruang rawat inap nya. Dann.. setelah prosedurnya selesai dia segera ke kamar barunya dan menemukan kenyamanannya. dia rasa bayar segitu worth it buat ngga ngelihat ranjang kosong di kamar rumah sakit plus disini sudah tersedia kasur untuk wali, tv dan kulkas kecil.sudah setengah hari berlalu, pemuda ini merasa teman sekelasnya dulu tidak akan bangun hari ini. jadi dia pulang dan membawa baju ganti untuk dirinya dan si pasien berhubung ukuran mereka juga tidak jauh jauh amat.

malam nya saat dia bersiap siap untuk tidur baru terpikir. 'ini si Mako kenapa ngga bawa hp ya? dia juga punya tato di tangannya. akhh kan malah penasaran. dah lah tidur aja'

.

.

emang karna kebiasaan memancingnya itu, dia kebangun di jam empat subuh. dengan nyawanya yang masih setengah nyatu itu, dia ngelihat ada yang menatapnya dari ranjang pasien. dan yap, tentu saja dia teriak pasiennya pun juga ikut teriak karna kaget.

Tak lama kemudian, kesadaran wali pasien itu dari bangun tidur akhirnya terkumpul." loh ko? dah bangun? takut banget asli" dengan lemas ia ke tempat telepon kamar untuk memanggil dokter jaga dan memberi tahu bahwa temannya, Makoto, sudah siuman.

Sambil menunggu dokter jaga sampai kamar, makoto menatap nya dengan terheran heran dan raut muka tidak santai. "Ngapain liat liat? nge fans?" dengan pedenya dia bertanya dan dengan nada yang sedikit ketus karna bete baru bangun hampir kena serangan jantung.

Mako yang mendengar pertanyaan kepedeannya itu mengeluarkan ekspresi jijik dan berkata "ngga, cuma mau tanya aja, kamu ini siapa?" 

'sialan, beneran amnesia nih anak' batinnya "ohh, aku kevin, kevin gallardo. temen SMA mu dulu, ga dulu dulu amat sih sebenernya, baru sekitar dua tahun yang lalu. temen sekelasmu di kelas 2" sambil mengulurkan tangan untuk salaman.

"mako navarro, dan iya kah aku ga ingat?" jawab Mako sambil membalas uluran tangan Ardo.

"bisa ulangi tadi nama mu siapa?" jelas Ardo, dia asing dengan nama Navarro. karna seingatnya nama temannya adalah makoto takuma dan bahkan di kartu identitas nya juga bernama makoto takuma.

"Mako Navarro? apakah bicaraku kurang jelas?" 

"jelas kok, tapi siapa itu Mako Navarro? masih ngigo ya kamu?" ucap Ardo sambil menyodorkan kartu identitas milik Mako "nih, lihat sendiri kalo ga percaya"

"ini benar benar aku, tapi kenapa namaku menjadi makoto takuma?"

"yahh siapa yang tau" . Tepat saat Ardo menutup mulutnya, sang dokter jaga masuk dan melakukan pemeriksaan dan memberikan wejangan wejangan ke pasien dan walinya. 

.

.

.

Setelah sarapan, Ardo meluncurkan beberapa pertanyaan kepada Mako.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Dec 08, 2024 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Eve : ASCENDERTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang