🐰
Ruangan itu terasa sunyi, hanya terdengar bunyi pelan dari monitor yang memantau detak jantung Vino. Cahaya lampu malam rumah sakit menyoroti wajahnya yang pucat, kontras dengan selimut putih yang membungkus tubuhnya. Dua bulan telah berlalu sejak Vino terbaring tak sadarkan diri, berjuang melawan waktu setelah insiden tragis yang hampir merenggut nyawanya.
Di sisi tempat tidur, Vano duduk dengan mata yang lelah namun penuh harapan. Setiap hari, ia menunggu keajaiban. Ia menggenggam tangan adiknya yang dingin, berbicara perlahan meskipun ia tidak pernah yakin apakah Vino bisa mendengarnya. "Vin, aku sudah menyelesaikannya. Aku telah membalas semua yang mereka lakukan padamu. Sekarang, yang harus kau lakukan hanyalah bangun. Aku membutuhkanmu, Vin," gumam Vano, suaranya serak menahan emosi.
Malam itu, sesuatu yang berbeda terjadi. Jari-jari Vino yang selama ini tak bergerak tiba-tiba memberikan sentakan kecil. Awalnya, Vano mengira itu hanyalah ilusi-harapan kosong dari pikirannya yang lelah. Namun, detak jantung di monitor menunjukkan perubahan ritme yang lebih kuat, lebih stabil.
"Vino?" panggil Vano, matanya membulat, berharap keajaiban yang ia nantikan benar-benar terjadi. Ia memegang tangan adiknya lebih erat. Kali ini, ia merasa jari Vino menggenggam balik, meski sangat lemah.
Vino perlahan membuka matanya. Cahaya terang dari ruangan membuatnya menyipit, mencoba menyesuaikan diri. Bibirnya yang kering bergetar, mencoba mengucapkan sesuatu, namun hanya suara lemah yang keluar. "Bang..." suaranya lirih, hampir seperti bisikan.
Air mata langsung mengalir di wajah Vano. Ia merasakan dadanya sesak oleh campuran lega, bahagia, dan haru. "Vino! Kau sadar?" seru Vano, nyaris tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
Vino memandang sekeliling dengan bingung. Wajahnya menunjukkan kelelahan, tetapi juga rasa penasaran. "Aku... di mana?" tanyanya pelan, suaranya serak karena dua bulan tanpa bicara.
"Kau di rumah sakit, Vin," jawab Vano sambil mengusap air mata di pipinya. "Kau koma selama dua bulan. Tapi sekarang, kau bangun. Kau kembali."
Vino mencoba menggerakkan tubuhnya, tetapi seluruh ototnya terasa kaku. "Kenapa aku di sini? Apa yang terjadi?" tanyanya lagi dengan nada lemah.
Vano tersenyum kecil, mencoba menenangkan adiknya. "Nanti aku ceritakan semuanya, Vin. Untuk sekarang, yang penting kau sudah kembali. Kau tidak perlu khawatir lagi. Aku ada di sini," jawabnya, suaranya penuh kehangatan.
Perawat segera masuk setelah mendengar alarm dari monitor. Mereka memeriksa kondisi Vino dengan cermat, memastikan bahwa kebangkitannya tidak disertai komplikasi. Dokter juga datang, tersenyum penuh kepuasan setelah memeriksa perkembangan kondisi Vino. "Ini luar biasa. Tubuhnya merespons dengan baik. Ia hanya butuh waktu untuk pemulihan," ujar sang dokter, memberikan harapan besar.
Setelah mereka pergi, Vino kembali menatap kakaknya. "Bang, gue dengar suara lo... selama koma," ucapnya tiba-tiba. Matanya yang lemah menatap langsung ke arah Vano, seolah ingin memastikan bahwa semua yang ia alami bukan sekadar mimpi.
Vano terdiam sejenak, terkejut. "mendengar suaraku?" tanyanya dengan nada bergetar.
"Iya," jawab Vino. "Gue gak bisa membuka mata atau bergerak, tapi gue dengar semuanya. Gue tahu lo ada di sini. Makasih ya bang, gue kangen lo." Ucap Vino sedih
Vano menggenggam tangan adiknya lebih erat, merasa emosinya meledak. Ia tak pernah membayangkan bahwa kehadirannya benar-benar berarti bagi Vino selama masa sulit itu. "Abang gak akan pernah ninggalin Adek, Vin. Kau adik Abang, dan Abang akan selalu ada untuk Adek," ujar Vano, suaranya serak oleh rasa haru.
Dalam keheningan malam itu, dua saudara itu akhirnya merasakan secercah harapan baru. Meski tubuh Vino masih lemah dan jalannya menuju pemulihan penuh masih panjang, ia telah mengambil langkah pertama untuk kembali. Dan bagi Vano, kebangkitan adiknya adalah bukti bahwa cinta dan kesetiaan seorang kakak tidak pernah sia-sia.
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah dua bulan, senyuman kecil terlihat di wajah Vino. Itu adalah awal baru bagi mereka berdua.
🐰
"Bang gimana keadaan Mommy sama Daddy?"ucap Vino bertanya.
"Perusahaan Daddy Bangkrut, Daddy milih buat bunuh diri, sedangkan Mommy di rumah sakit jiwa karena syok berat" jawab Vano tanpa memberi tahukan kalau ialah penyebab apa yang terjadi dengan keluarganya.
Vano terdiam ia cukup syok mendengar apa yang terjadi dengan keluarganya, meskipun mereka sering memperlakukannya dengan buruk tapi mereka tetaplah kedua orang tuanya.
"Vino mau ke tempat Mommy sama Daddy"ucap Vino lirih.
"Iya nanti kalau adek udah sembuh"ucap Vano mengelus surai Vino pelan.
🐰
Beberapa minggu kemudian, Vino sudah bisa duduk di kursi roda, menikmati udara segar di taman rumah sakit. Vano selalu berada di sisinya, memastikan adiknya mendapatkan segala yang ia butuhkan. Vino, meskipun masih lemah, mulai tersenyum lagi.
Mereka berdua duduk di bawah pohon besar, menikmati kebebasan yang kini terasa lebih berharga. Meski jalan mereka masih panjang, Vano tahu bahwa tidak ada yang lebih berharga dari kebahagiaan adiknya. Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Vano merasa damai.
Dendamnya telah terbalaskan, dan kini, ia bisa fokus pada apa yang benar-benar penting-keluarganya.
Setelah ini ia berjanji akan selalu membahagiakan adiknya apapun yang terjadi.
END
~notqueen_1~
KAMU SEDANG MEMBACA
DEVINO || END
Ficção AdolescenteOrang bilang memiliki saudara kembar itu menyenangkan. namun itu tidak berlaku bagi Devino Leonardo Alexander hanya karna kembarannya Devano Leonardo Alexander yang lahir 5 menit lebih tua darinya dia jadi diasingkan oleh keluarganya, hanya karena i...
