Spesial Tahun Baru🙏
1 tahun telah berlalu, baik Vino dan Vano kini sudah mulai berdamai dengan masa lalunya, meninggalkan semua kenangan pahit yang mereka alami, terutama Vino.
"ADEK"Vano berteriak sambil berlari mengejar Vino, sejak hubungan mereka membaik tingkah Vino benar-benar membuat Vano mengelus dadanya sabar.
Bagaimana tidak? Seperti sekarang ini, Vano yang tadi sedang enak-enak tidur di atas sofa menjadi bahan sasaran kejahilan sang adik.
Lihat rambutnya yang semula berwarna hitam legam kini telah beralih warna menjadi biru karena adiknya yang dengan usil mengecat rambutnya ketika ia sedang tidur.
Davian dan Angkasa hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah usil Vino yang tak ada habisnya, ada saja gebrakan barunya untuk mengusili kembarannya di setiap harinya.
"Ampun-ampun, sakit Abang" ucap Vino memegang telinganya yang kini jadi sasaran kekesalan sang Abang.
"Biarin, salah sendiri"ucap Vano tak peduli.
"Kok salah Vino salah Abang lah tidur di situ"bantah Vino tak terima.
"Ah-ah-ah iya iya, Vino yang salah, lepas Abang sakit, KDRT ini mah" ucap Vino sambil mengusap-usap telinganya yang berdenyut nyeri kala Vano semakin mengeraskan jewerannya.
Vano kemudian melepaskan jewerannya, kakinya berjalan mendudukkan dirinya di kursi sofa dengan menghela nafas lelah.
"Udah Vano potong aja uang jajannya"kompor Angkasa sambil terkekeh pelan.
"Jangan kompor ya, Abang gak di ajak"ucap Vino menatap kesal ke arah Angkasa.
"Vino sini"ucap Davian menyuruh Vino untuk duduk di sampingnya.
"Usil banget sih Hem, tuh liat wajah masam kembaranmu"ucap Davian menunjuk Vano dengan dagunya.
"Sana minta maaf"tambah Dafian lagi.
Dengan gontai Vino berjalan ke arah Vano yang kini duduk dengan masih menampilkan wajah masamnya itu.
"Maafin Vino"ucap Vino dengan memegang tangan sang kembaran.
"Kata gue sih jangan di maafin sih Van"ucap Angkasa memanas-manasi
"Angkasa"tegur devian yang hanya di jawabi kekehan kecil dari Angkasa.
"Kenapa di chat rambut Abang?"tanya Vano menatap datar ke arah Vino, bukan apa-apa sebenarnya ia tak terlalu suka jika warna rambutnya berwarna seperti ini, makanya ia cukup kesal sekarang.
"Vino pengen chat rambut warna biru tapi takut jelek"jawab Vino pelan.
"Terus kenapa rambut Abang yang di chat, kan kamu yang pengen ngechat rambut?"tanya Vano bingung.
"Soalnya kan kita kembar jadi kalo Abang bagus rambut warna biru berarti Vino juga bagus"pecah sudah tawa Angkasa saat itu juga, bisa bisanya sepupunya itu kepikiran hal seperti itu, ya gak salah sih emang,
Vano hanya bisa menghela nafas sabar sekaligus lelah dalam waktu bersamaan, ingin marah tapi wajah polos adiknya ini membuat ia tak bisa marah kepadanya, boleh gak sih tukar tambah adik di pasar loak, Vano capek angkat tangan dia.
"Maafin ya Abang"ucap Vino kembali.
"Gak"singkat padat tapi berhasil membuat mata Vino berkaca-kaca.
"Hayo tak tau gak dimaafin, hayoloh si Vano ngambek"ucap Angkasa semakin memanas-manasi kala melihat Vano yang beranjak pergi ke kamarnya.
Bugh
Sebuah bantal sofa berhasil mendarat epic di wajah Angkasa, pelakunya siapa lagi kalo bukan Vino.
"Diem"kesal Vino kemudian berjalan pergi menyusul sang Abang.
"Sabar-sabar"ucap Angkasa sambil mengelus dadanya kala mendapat timpukan sayang dari sepupunya, mau di timpuk balik tapi kalo nangis bisa di gantung terbalik ia sama seisi rumah.
Tok tok tok
"Abang Vino masuk ya?"tak ada jawaban dari dalam, Vino membuka pintu kamar sang kembaran dengan perlahan, hal pertama yang ia lihat adalah sang kembaran yang tengah berbaring di kasur dengan memainkan handphonenya.
"Abang marah?"tanya Vino pelan saat sudah berdiri di samping Vano, lagi-lagi ia tak mendapatkan jawaban, membuat raut wajahnya semakin gelisah.
"Abang"
"Bang"
"Abang Vano"
"Abang~"ucap Vino dengan muka memelas, okey Vano kalah ia tak bisa marah kepada adiknya ini.
"Kemari"ucap Vano sambil merentangkan kedua tangannya.
Tanpa menunggu lama lagi, Vino langsung meringsek ke dalam pelukan sang Abang, menyamankan dirinya di dalam pelukan Abang kesayangannya itu.
"Nakal Hem"ucap Vano dengan menjawil hidung sang adik gemas.
Mau sekesal apapun ia, ia tak akan pernah bisa marah kepada sang adik, melihat manik hazel milik sang adik berkaca-kaca saja sudah mampu membuat ia panik kocar kacir.
"Abang"
"Hemm"
"Ayo jalan-jalan"ajak Vino, ia bosan terus berada di Mension.
Sejak kejadian 1 tahun yang lalu, baik sang Kakek, Abang sepupunya maupun sang Kembaran tak pernah mengijinkannya keluar kecuali dalam pengawasan, ia bahkan harus homeschooling karena hal tersebut.
"Hem nanti"ucap Vano sambil memejamkan matanya.
"Sekarang Abang, maunya sekarang"ucap Vino kesal karena sang Abang yang malah memejamkan matanya.
"Iya nanti"
"Sekarang"
"Nanti dek Abang ngantuk mau tidur, kamu juga belum tidur siang kan? Ayo tidur"ucap Vano menarik Vino untuk berbaring di sebelahnya.
"Abang kan baru bangun"bantah Vino berusaha memberontak dari pelukan sang Abang.
"Hemm"
Vino terus memberontak minta di lepaskan, beberapa menit kemudian Vano membuka matanya saat tak merasakan lagi berontakan sang adik, manik matanya menangkap sang adik yang kini tertidur di pelukannya.
"Mimpi indah dek"ucap Vano memejamkan matanya diiringi senyum di bibirnya.
~Notqueen_1~
KAMU SEDANG MEMBACA
DEVINO || END
Fiksi RemajaOrang bilang memiliki saudara kembar itu menyenangkan. namun itu tidak berlaku bagi Devino Leonardo Alexander hanya karna kembarannya Devano Leonardo Alexander yang lahir 5 menit lebih tua darinya dia jadi diasingkan oleh keluarganya, hanya karena i...
