Hujan turun cukup deras sore ini, angin menderu kencang, dan petir beberapa kali terdengar bergemuruh. Di balik suara alam yang seolah tengah mengamuk, terdengar sayup-sayup suara anak kucing bagai tangisan bayi yang lapar.
Di dalam rumah keluarga Elrazak, Fikri nampak duduk di sofa ruang tengah sambil bermain game. Sedangkan Amalia sibuk menonton drama Korea di dalam kamarnya. Mama mereka sedang sibuk memasak makan malam di dapur, dan papa mereka masih belum pulang dari pekerjaan padatnya.
"Meong!!"
"Meong!!"
Suara tangisan anak kucing itu semakin lama semakin terdengar jelas. Dan itu cukup mengganggu Amalia yang tengah asyik menonton drama. Fokusnya buyar seketika, lalu dia keluar kamar dan duduk di sebelah Fikri sambil mengenakan earphone.
"Meong!!"
"Meong!!"
"Meong!!"
Padahal sudah mengenakan earphone, ada suara hujan, angin, dan petir. Bahkan ada suara game Fikri yang ribut dan suara mama yang tengah memasak. Dengan cepat Amalia melepas earphone nya dan melirik Fikri. Ternyata Fikri nampak santai seperti biasanya. Walaupun suara gamenya ribut, tapi tak ada suara apapun yang keluar dari mulutnya.
"Meong!!"
"Meong!!"
Benar-benar, mengapa seolah hanya Amalia yang bisa mendengar suara anak kucing itu?!
"Fik!" Panggil Amalia pelan.
"Hmm?" Sahut Fikri tanpa menoleh.
"Lu denger gak?"
"Apa?"
"Suara anak kucing.."
"Iya"
Iya? ternyata dia dengar, tapi dia gak peduli. Luar biasa! Amalia pun mendorong Fikri dan berkata, "Fik, kayaknya tuh anak kucing ada di depan rumah kita deh!"
"Ya, terus?" Tanya Fikri yang masih fokus pada gamenya.
"Terus? Lu gak keganggu Napa?"
"Kalo iya, gue harus ngapain Lea?"
"Ayo liat! Ada di depan rumah kita itu! Yakin deh gue!"
"Yaudah, sana liat!"
"Ayo, bereng!"
"Males gua.."
Seketika suara dingin mama terdengar dari dapur. "Fikri.. adek Lea gak boleh keluar rumah.. lagi ujan angin soalnya, kalo adek masuk angin gimana? Udah sana kamu aja yang keluar!!"
Fikri dan Amalia terbungkam seketika. Fikri melirik tajam Amalia, tapi wajahnya yang imut membuat Fikri tak sanggup berlama-lama menatapnya dengan tajam.
Amalia sendiri merasa bersalah. Sambil memainkan jari-jemari nya gadis itu berkata, "kan, niatnya gue ngajak liat bareng.. gak tega gue dengernya.."
"CK! Iya.. iya.. ini gue keluar.." jawab Fikri pasrah sambil berjalan menuju pintu depan.
...
Pintu depan terbuka, dan pandangan Fikri menyapu setiap sudut teras dan halaman depan rumah. Sampai didapatinya seekor anak kucing berwarna oranye tergeletak di sudut halaman dekat lantai teras. Anak kucing itu masih mengeong walau semakin terdengar lemah, bulunya basah karena cipratan air hujan, dan lehernya bersimbah darah karena luka.
"Lah? Kucing siapa nih? Bj*r!" Seloroh Fikri yang buru-buru memungut anak kucing itu dan membawanya masuk ke dalam rumah.
Setelah menutup pintu dengan kakinya karena kedua tangannya menggenggam anak kucing itu, Fikri menatap ke depan dan mendapati Amalia menatap syok kakaknya yang rambutnya sedikit basah sambil menggendong anak kucing malang.
Fikri melangkah menghampiri Amalia yang tengah duduk di sofa ruang tengah, sedangkan anak itu berceloteh, "tuh kan! Gue bilang juga apa! Ada kan di depan rumah kita!"
"Bac*t! Udah ambil jaket gue di belakang Lo tuh!" Tukas Fikri geram.
"Cih! Oke.. siap laksanakan.." sahut Amalia yang langsung mengambil jaket Fikri dan melemparnya tepat ke wajah kakaknya itu.
Fikri menggenggam jaket itu dan lagi-lagi menatap tajam wajah adiknya yang tiba-tiba memampang raut terkejut. Sedetik kemudian sambil menjadikan jaket itu tatakan tidur untuk si kucing kecil, Fikri pun memerintahkan Amalia untuk mengambil kotak P3K.
Tatapan serius Fikri dan bungkamnya karena emosi sungguh membuat Amalia bergidik ngeri, dengan terbata-bata gadis itu pun berseru, "Oke oke.. seriusan gue bawain.. jangan marah dong!!" Lalu berlari menuju dapur tempat keluarga mereka menyimpan kotak P3K biasanya.
Setiba nya di dapur, mama yang baru selesai memasak bertanya, "Kenapa dek?"
Sambil mengeluarkan kotak P3K itu dari rak dapur, Amalia menjelaskan kejadian barusan dengan terburu-buru. Mama yang langsung paham pun mengangguk-angguk dan segera keluar dapur bersama putri tercintanya.
...
Fikri mengusap-usap bulu basah kucing mungil itu dengan jaketnya sambil duduk bersila di lantai. Elusannya begitu lembut hingga si kucing perlahan menjadi tenang dan tertidur pulas.
"Nih.." ucap Amalia sambil menyodorkan kotak P3K itu dengan raut memelas nya.
Sodoran kotak itupun diterima Fikri bersamaan dengan lirikan nyinyirnya yang meresahkan. Amalia pun teringat pada camilan kucing yang pernah ia beli di Ind*maret bersama Tiara tempo hari. Sambil bangkit dengan penuh semangat ia berseru, "oh iya!! Lea punya cemilan kochenk!! Tunggu bentar! Lea ambilin di tas sekolah!!"
...
Hujan deras perlahan berubah menjadi gerimis ringan. Setelah memarkirkan mobil kesayangannya, Papa segera masuk kedalam rumah. Rasa penat yang menumpuk, dan perut lapar yang tak tertahankan membuat Papa masuk dengan penuh harapan.
Sepatu kulit berwarna hitam yang mulai memudar itu diletakkan dengan rapi di rak dekat pintu depan. Dan saat pintu telah terbuka, Papa terdiam mematung sambil menatap kedepan.
Disana nampak ruang tengah, ada TV yang menyala, Mama dan Amalia yang duduk diatas sofa sambil menonton film yang tayang di TV itu. Lalu Fikri. Anak sulung keluarga Elrazak itu nampak tengah duduk selonjoran dilantai dengan seekor anak kucing berselimut jaketnya di pangkuannya.
Ketiga orang itu pun menatap heran Papa yang terdiam sambil memegang gagang pintu.
"Kenapa diem Pa?" Tanya Mama tanpa menoleh karena sibuk menghayati alur film yang ditontonnya.
"Halo Papa! Selamat datang Papa!!" Sapa Amalia dengan riang.
Papa menelengkan kepala dan bertanya, "Fikri, kamu ngapain?" Lalu melangkah masuk setelah menutup pintu rapat-rapat.
"Ngelonin kucing, Pa.." jawab Fikri sambil menunjukkan anak kucing yang lehernya sudah diperban itu.
Papa tercengang, lalu melepas jas kerjanya sambil bertanya, "Fikri, Lea kan lagi sakit, nanti kalo ketularan virus kucing gimana?"
"Gak bakal ketularan kok Pa!" Celetuk Amalia.
"Yaudah, nanti Fikri taro luar lagi kucingnya.. tapi kalo ujannya udh reda.." ujar Fikri tenang.
"Tapi kata Tiara virus kucing emang gak bahaya kok!" Tukas Amalia lagi.
"Lea, kita berusaha mencegah.." sahut Mama dengan raut khawatir nya.
"Abis ini taro luar ya, Fik.." suruh Papa yang sudah melangkah memasuki dapur.
"Oke." Jawab Fikri singkat.
...
"Meong!"
"Meong!"
"Meong!"
Kucing kecil berwarna oranye itu menatap penuh harap. Kedua bola matanya melebar dan kedua telinganya nampak bagai dedaunan layu.
Dia terus mengeong dan perlahan bumi terasa bergetar. Getarannya semakin hebat dan tanah yang dipijak kucing itu menjadi retak.
Tanpa pikir panjang, Fikri berlari menghampiri anak kucing yang nampak ketakutan itu.
"Kyowoo!" Panggil Fikri sambil berusaha meraih anak kucing itu.
Tunggu? Kyowo? Hah? Siapa?
...
KAMU SEDANG MEMBACA
KAKAK ♡
Teen FictionKakak P*k*n Adek b*c*t Temen l*kn*t ♡ Everybody.. Cerita ini asli karangan, bukan bermaksud memprovokasi ataupun menyinggung pihak manapun. Semoga yang baca suka ya.. ~Fikri
