Suasana hening seketika, semua pasang mata di hadapan Ghozi tersorot kepadanya dengan artian yang berbeda-beda. Beberapa teman yang ikut mengiringi langkah Ghozi pun keheranan pada tingkahnya.
"Ghozi? Lo kenal kak Fikri sama Lea?" Tanya Inggrid dengan logat asingnya.
Ghozi melirik Inggrid sebentar dan menjawab pertanyaannya dengan ramah, "Eh, Inggrid! Iya, gue kenal.."
Fikri dan Amalia nampak berusaha keras mengingat-ingat siapa gerangan Ghozi. Lalu dengan cepat Amalia terbesit kenangan masa kecil, dan sontak berseru, "Ohhh! Ojii!!"
"Oji?" Tanya Fikri heran.
Ghozi tersenyum cerah karena Amalia berhasil mengingatnya. Semua orang hanya dapat bungkam karena heran, lalu Fikri pun berhasil mengingat nama masa kecil itu. "Hah?! Oji Si Gentong Aer?!" Seru Fikri sambil menerawang Ghozi dari ujung kepala sampai ujung kaki nya.
"Gentong Aer?!" Celetuk Sabella syok.
"Masa sih?!" Seru Fikri masih tak percaya.
"Apa sih? Gua gak paham.." tanya Randa yang nampak berbisik dengan Devano.
Dengan raut gagal pahamnya Devano pun hanya dapat meminta Randa agar tidak perlu susah payah memahami mereka.
Amalia pun maju menghampiri Ghozi dan melempar setumpuk pertanyaan, "kita satu sekolah lagi? Kok gak pernah nyapa sih? Kan aku gak sadar kalo kamu udah berubah gini!"
Yang ditanya hanya cengengesan tanpa mengatakan apapun. Lalu Inggrid angkat suara dengan mengatakan kalau Ghozi baru seminggu masuk sekolah mereka, dan dia duduk di kelas yang sama dengan Inggrid. "Kalian udah saling kenal sejak kapan?" Tanya Inggrid penasaran. Padahal yang lain juga penasaran, apalagi Sabella yang ekspresi penasarannya sudah tak dapat ditutupi lagi.
...
Sepuluh tahun lalu..
Tanam tanam ubi..
Tak perlu dibaja..
Orang berbudi..
Kita berbahasa..
Suara nyanyian dari film kartun yang menjadi tontonan Fikri dan Amalia kala itu menggemakan seisi rumah eyang mereka.
Seperti biasa, kalau hari libur akhir pekan Fikri pasti menginap di rumah eyang dan bermain bersama Amalia.
Waktu itu Fikri baru menginjak kelas satu SD, dan Amalia TK. Mereka nampak sangat asyik menonton kartun kesayangan mereka sampai-sampai ikut bernyanyi dan berjoget bersama.
Di tengah keasyikan itu eyang datang sambil membawa sepiring kue tradisional, mulai dari cucur, sampai klepon terhidang di piring itu.
"Fikri, Lea.. nih ada kue.. mau gak?" Tanya eyang yang langsung duduk di dekat dua anak manis itu dan meletakkan piring itu di atas meja.
Dua anak itu pun segera berhenti menari, dan duduk bersama eyang sambil menatap piring itu dengan antusias.
"Wah!! Kue!!" Seru Amalia dengan tatapan berbinar.
"Kok tiba-tiba ada kue? Eyang tadi keluar buat beli kue?" Tanya Fikri kecil yang sudah mengunyah kue cucur kesukaannya.
Eyang menggeleng lembut dan menjawab, "enggak, tadi ada tetangga yang baru pindahan ke rumah sebelah.. dia yang ngasih kue nya.."
"Oohhh.. tetangga baruu.." kata Fikri dan Amalia dengan kompaknya.
Mereka pun menikmati kue-kue itu sambil menonton kartun yang masih tayang di layar televisi mereka.
Tak lama, eyang bangkit dari duduknya dan beranjak pergi menuju pintu depan sambil berkata, "Eyang ke warung depan sebentar, kalian jaga rumah ya.."
"Sip eyang!" Jawab Fikri dan Amalia sambil menunjukkan gerakan hormat.
KAMU SEDANG MEMBACA
KAKAK ♡
Teen FictionKakak P*k*n Adek b*c*t Temen l*kn*t ♡ Everybody.. Cerita ini asli karangan, bukan bermaksud memprovokasi ataupun menyinggung pihak manapun. Semoga yang baca suka ya.. ~Fikri
